Skripsi
Analisis pengaruh variasi suhu cetakan pasir dengan bahan pengikat tetes tebu terhadap kualitas hasil coran logam Al-Si / Nicky Suwandhy Widhi Supriyanto
Abstrak
ABSTRAK Supriyanto N.S.W. 2015. Analisis Pengaruh Variasi Suhu Cetakan Pasir dengan Bahan Pengikat Tetes Tebu terhadap Kualitas Hasil Coran Logam Al-Si. Skripsi Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Putut Murdanto S.T. M.T. (II) Dr. Sukarni S.T. M.T. Kata Kunci Fluiditas kekerasan cacat coran variasi suhu cetakan tetes tebu. Cetakan pasir merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hasil cor logam. Cetakan pasir pasti menggunakan bahan pengikat khusus. Bahan pengikat yang lazim digunakan pada cetakan pasir yaitu bentonit batu kapur dan tetes tebu. Dalam usaha untuk mengembangkan kualitas hasil cor penelitian yang dilakukan adalah penggunaan variasi suhu cetakan dengan menggunakan bahan pengikat tetes tebu pada pasir Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi suhu cetakan terhadap hasil pengecoran logam Al-Si. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Desain penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan menggunakan model one-shot case study. Setelah diberikan perlakuan spesimen akan dianalisis secara visual. Selain itu dilakukan pula pengujian fluiditas kekerasan permukaan foto mikro dan foto makro untuk melihat cacat yang terjadi secara lebih detail. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh penggunaan variasi suhu dengan meningkatkan suhu pada cetakan akan menurunkan nilai kekerasan pada hasil coran. Spesimen cor dengan suhu cetakan 50 730 C memiliki nilai rata-rata kekerasan yang paling tinggi. Penurunan kekerasan tersebut disebabkan oleh perubahan struktur Si primer yang semakin menyatu sehingga berpengaruh pada kekerasan logam Al-Si. Berdasarkan hasil analisis cacat cor menunjukan bahwa meningkatkan suhu pada cetakan akan meningkatkan cacat makro pada hasil coran. Spesimen dengan suhu cetakan 50 730 C memiliki cacat makro paling sedikit di bandingkan dengan spesimen yang lainnya. Peningkatan cacat tersebut disebabkan oleh naiknya air dari dasar cetakan karena pengaruh pemanasan cetakan. Ditinjau dari struktur mikronya dengan meningkatkan suhu pada cetakan akan meningkatkan ukuran Si primer. Spesimen dengan suhu cetakan 100 730 C memiliki struktur mikro Si primer paling besar diantara ketiga spesimen. Waktu pendinginan yang lama akan memberikan kesempatan molekul Si primer untuk menyatu di titik tertentu. Selain itu penggunaan variasi suhu dengan meningkatkan suhu pada cetakan akan meningkatkan fluiditas hasil coran. Spesimen dengan suhu cetakan 100 730 C memiliki fluiditas yang cukup baik hampir sama dengan model yang digunakan. Semakin tinggi suhu cetakan akan memperlambat pembekuan dari logam Al-Si sehingga dapat memperpanjang fluiditas hasil pengecoran.