Skripsi
English students\' frequency in speaking English while they are on campus / Yayang Eka Prianti
Abstrak
ABSTRAK Prianti Yayang Eka. 2015. Frekuensi Berbicara Bahasa Inggris Mahasiswa Bahasa Inggris ketika di Kampus. Skripsi Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Furaidah M.A. (II) Nur Hayati S.Pd M. Ed. Kata Kunci berbicara frekuensi berbicara kelancaran berbicara ketakutan mahasiwa untuk berbicara bahasa Inggris motivasi motivasi untuk berbicara bahasa Inggris Untuk meningkatkan kelancaran berbicara dalam bahasa Inggris mahasiswa bahasa Inggris perlu berlatih berbicara sesering mungkin ketika berada di kampus karena di kampus mahasisa dapat bertemu dengan sesama pelajar bahasa Inggris yang juga belajar untuk menjadi pembicara bahasa Inggris yang lancar. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui seberapa sering mahasiswa memanfaatkan waktunya selama kampus untuk berbicara dalam bahasa Inggris baik di dalam maupun di luar kelas dan alasannya. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Kuesioner terdiri dari dua puluh lima pertanyaan dalam bentuk close-ended dan open-ended. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 6 program studi Pendidikan Bahasa Inggris. Subjek penelitian dipilih berdasarkan asumsi bahwa mereka telah memiliki pola interaksi tertentu selama berada di kampus. Jumlah mahasiswa yang menjawab kuesioner adalah sejumlah 94 mahasiswa.Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan mencari frekuensi respon mahasiswa di setiap nomor dengan proses tally. Selanjutnya data tersebut dihitung dengan rumus sederhana dalam aplikasi Microsoft Excel untuk menemukan presentasenya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki motivasi eksternal untuk berbicara dalam bahasa Inggris ketika mereka berada di kampus. Hal tersebut dapat dilihat dari tingginya frekuensi berbicara bahasa Inggris mahasiswa ketika dosen berada di dekat mereka. Frekuensi berbicara dalam bahasa Inggris mahasiswa mengalami penurunan manakala dosen tidak berada di dekat mereka misalnya saja ketika mereka berinteraksi dengan teman di dalam dan di luar kelas. Berdasarkan kuisioner sebab-sebab yang membuat mahasiswa berbicara dalam bahasa Inggris ketika mereka mengikuti diskusi kelas adalah karena mereka ingin mengembangkan kemampuan berbicara bahasa Inggris tahu bagaimana mengungkapkan maksud mereka dalam bahasa Inggris dan merasa percara diri saat berbicara dalam bahasa Inggris. Sebab-sebab yang membuat kebanyakan mahasiswa tidak berbicara dalam bahasa Inggris saat berinteraksi dengan teman di dalam kelas meliputi anggapan mahasiswa bahwa berbicara dalam bahasa Inggris terkesan berlebihan dan kurang tepat ketidaktahuan mahasiswa untuk mengungkapkan maksud mereka dalam bahasa Inggris dan kekhawatiran dalam membuat kesalahan saat berbicara dalam bahasa Inggris. Selanjutnya penyebab mahasiswa tidak berbicara dalam bahasa Inggris ketika berada di luar kelas meliputi anggapan mahasiswa bahwa berbicara dalam bahasa Inggris terkesan berlebihan dan kurang tepat kekhawatiran dalam membuat kesalahan saat berbicara dalam bahasa Inggris dan kurangnya rasa percaya diri. Berdasarkan hasil penelitian peneliti menyimpulkan bahwa dosen pengajar memiliki peran yang besar dalam mendorong mahasiswa untuk berbicara dalam bahasa Inggris dengan cara menyuruh mereka untuk berbicara dalam bahasa Inggris selama diskusi kelas. Dorongan semacam ini seharusnya tidak hanya diberikan selama mahasiswa berada di dalam kelas namun juga saat mereka berada di luar kelas. Jurusan bahasa Inggris seharusnya membuat aturan yang mewajibkan mahasiswa untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi selama mereka berada di kampus baik di dalam maupun di luar kelas. Selain itu untuk membantu mahasiswa meningkatkan kelancaran berbicara bahasa Inggrisnya dapat dilakukan dengan cara menciptakanEnglish learning community menyediakan beberapa Englishspeaking area dan mengadakan English Day di kampus. Satu hal yang tak kalah penting ialah menciptakan keadaan dimana mahasiswa tidak takut membuat kesalahan karena hal tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran. Disarankan untuk para peneliti selanjutnya yang ingin melaksanakan penelitian dengan topik yang berkaitan untuk menggunakan bukan hanya kuesioner sebagai instrumen penelitian namun juga observasi serta wawancara agar data yang diperoleh dapat bersifat lebih dalam dan terpercaya.