Skripsi
Representative acts and raising common grounds in Soekarno\'s Institutional speech during the Asia-Africa Conference 1955 / Dewi Kartika Hadi
Abstrak
ABSTRAK Hadi Dewi Kartika. 2015. Representatives and Raising Common Grounds in Soekarno s Institutional Speech during the Asia-Africa Conference 1955. Skripsi. Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing I Dr. Hj. Emalia Iragiliati M.Pd Pembimbing II Maria Hidayati S.S M.P.d. Kata Kunci tindak tutur representatif strategi kesopanan positif mengangkat titik temu Pidato Soekarno KAA 1955. Menyampaikan ide memengaruhi orang atau bahkan meminta seseorang agar melakukan sesuatu dapat dicapai melalui beberapa cara dan tiap cara memiliki karakteristiknya masing-masing. Hal tersebut dapat dilakukan menggunakan wacana lisan maupun tulisan. Salah satu cara untuk mencapai sasaran di atas adalah dengan menggunakan pidato yang merupakan bagian dari wacana lisan. Umumnya pidato berisikan tindak tutur serta strategi kesopanan yang berfungsi sebagai cara untuk mengikutsertakan penonton atau pendengar. Penelitian ini berfikus pada salah satu tindak ilokusi yang dinamakan tindak representative dan salah satu strategi kesopanan positif yaitu mengangkat titik temu pada pidato institusional Soekarno dalam KAA 1955 di Bandung dan juga hubungan antara keduanya. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif deskriptif. Data utamanya adalah peneliti dan transkripsi pidati instistusional Soekarno dalam KAA 1955 di Bandung. Di dalam penelitian ini jenis-jenis tindak tutur representatif dalam pidato Soekarno dianalisis menggunakan klasifikasi dari Yan Huang (2007) dan jenis-jenis pengangkatan titik temu dianalisis menggunakan teori dari Brown dan Levinson (1987). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 247 kalimat lisan yang berisi tindak tutur representative. Terdapat lima jenis tindak tutur representatif dalam pidato institusional Soekarno selama KAA 1955 di Bandung. Lima jenis tutur representative tersebut antara lain menegaskan (6.9%) mengklaim (30.8%) menyimpulkan (5.2%) melaporkan (26.4%) dan menyatakan (30.4%). Terkait dengan titik temu yang diangkat oleh Soekarno terdapat basa-basi 19.6% pengoperasian sudut pandang 78.5% dan manipulasi presuposisi 1.8%. Selain itu hubungan antara tindak tutur representatif dan mengangkat titik temu adalah kedua elemen yaitu tidnak tutur representatif dan mengangkat titik temu saling mendukung satu sama lain dalam emmbantu Soekarno mencapai sasaran pidatonya. Penggunaan tindak tutur representatif dan mengangkat titik temu yang terdapat dalam pidato Soekarno memberikan deskripsi yang jelas tentang cara tindak tutur representative dan mengangkat titik temu digunakan dalam interaksi institusional lisan seperti pidato. Namun para peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan lebih banyak penelitian tentang jenis tindak tutur dan strategi kesopanan lain selain tindak tutuf representatif dan mengangkat titik temu guna memberi lebih banyak pengetahuan dan gambaran tentang penggunaan kedua elemen tersebut kepada pembaca.