UPT Perpustakaan UM

  • Beranda
  • Informasi
  • Repository UM
  • SIPADU UM
  • OPAC SIPADU

Pencarian Spesifik

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
No image available for this title

Skripsi

Tradisi Buceng Robyong: studi interaksionisme simbolik di Desa Geger Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung dan implikasinya pada pendidikan IPS / Dita Ratna Pratiwi

Pratiwi, Dita Ratna - Nama Orang;

Abstrak
ABSTRAK Pratiwi Dita Ratna. 2016. Tradisi Buceng Robyong Studi Interaksionisme Simbolik di Desa Geger Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung dan Implikasinya pada Pendidikan IPS. Skripsi. Program Studi Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. GM. Sukamto M.Pd M.Si (II) Dra. Hj. Siti Malikhah Towaf M.A. Ph.D Kata Kunci Tradisi Buceng Robyong Interaksionisme Simbolik Makna. Desa Geger merupakan salah satu desa di Gunung Wilis yang terletak di Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung. Masyarakat Desa Geger masih mempertahankan salah satu kebudayaan peninggalan nenek moyang dengan mengadakan Tradisi Buceng Robyong sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Tradisi ini dilakukan pada bulan Suro. Penelitian ini memiliki empat rumusan masalah yang akan dicari jawabannya di antaranya (1) Bagaimana latar historis tradisi Buceng Robyong Desa Geger Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung (2) Bagaimana bentuk dan makna Buceng Robyong yang terlihat dalam tradisi Buceng Robyong Desa Geger Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung (3) Bagaimana proses makna serta kontribusi tradisi Buceng Robyong Desa Geger Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung untuk terciptanya kerukunan umat beragama (4) Bagaimana manfaat tradisi Buceng Robyong di Desa Geger Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung bagi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial . Penelitian ini menggunakan studi interaksionisme simbolik dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Studi interaksionisme simbolik pada penelitian ini digunakan untuk memaparkan interaksi sosial yang ada dalam tradisi Buceng Robyong di mana yang menjadi fokus penelitian adalah interaksi individu makna benda makna individu dengan benda dan makna interaksi individu dengan individu. Sumber data yang digunakan adalah narasumber atau informan peristiwa atau aktivitas tempat atau lokasi dan dokumen atau arsip. Prosedur pengumpulan data menggunakan observasi wawancara mendalam dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil yaitu (1) Masyarakat Gunung Wilis sudah memiliki kepercayaan pada roh leluhur atau dewa-dewa yang tinggal di gunung sejak jaman prasejarah Hindu-Budha lalu berkembang sesuai dengan gerak irama perkembangan budaya hingga sekarang. Untuk meminta bantuan roh atau dewa masyarakat Gunung Wilis menyatukan makrokosmos dan mikrokosmos dengan mengadakan laku ritual. Laku ini berkembang dan terus dipelajari masyarakat hingga menjadi tradisi. Tradisi tersebut dikenal masyarakat saat ini dengan nama tradisi Buceng Robyong. Tujuan pelaksanaan tradisi Buceng Robyong merupakan wujud syukur masyarakat desa yang diwujudkan dalam bentuk arak-arakan hasil bumi. (2) Buceng Robyong berbentuk gunung kukusan atau kerucut di mana pada bagian dasarnya besar dan semakin ke atas bentuknya semakin kecil dan lancip. Buceng yang berbentuk kerucut ini dimaknai masyarakat sebagai gunung Wilis yang di dalamnya terdapat tumbuh-tumbuhan yang dapat menghasilkan air untuk kehidupan masyarakat. Maksud pembuatannya untuk wujud syukur kepada penguasa gunung dan air. (3) Proses pelaksanaan tradisi Buceng Robyong secara keseluruhan dapat dilihat dari empat komponen yaitu tempat upacara dilaksanakan (Candi Penampihan dan sumber Tirta Amerta). Saat upacara dilangsungkan tanggal 1 Suro berdasarkan patokan perhitungan sesepuh dan pelaksanaannya dibagi menjadi tiga (persiapan pelaksanaan dan penutupan). Benda dan alat upacara (uborampe mulai dari hasil bumi cok bakal kembang setaman dupa buceng umbul-umbul senjata sembilan penjuru angin banner dan berbagai peralatan lainnya. Orang yang melakukan upacara (sesepuh dan diikuti semua peserta). Pada kegiatan ini terlihat bentuk interaksionisme simbolik di dalamnya yang dapat menciptakan kerukunan umat beragama. (4) Pada pelaksanaan tradisi Buceng Robyong terdapat beberapa sikap seperti gotong royong religius cinta lingkungan solidaritas toleransi dan peduli lingkungan yang dapat diimplementasikan pada pembelajaran IPS di SMP/MTs terutama kelas IX KD. 3.1. Saran ditujukan peneliti selanjutnya agar dapat mengkaji tradisi Buceng Robyong dengan perspektif yang berbeda misalnya fenomenologi konstruksi sosial atau mengambil sudut pandang lainnya. Atau mengungkapkan kronologis waktu pelaksanaan tradisi Buceng Robyong Desa Geger Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung.


Informasi Detail
DDC
Rs 394.4095982 PRA t
Prodi
Universitas Negeri Malang. Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, 2016.
Deskripsi Fisik
xiii, 231 lembar : il. , tab. ; 30 cm.
Bahasa
Indonesia
No Reg
01153/KI/16
Edisi
Skripsi (Sarjana). Universitas Negeri Malang. 2016
Subjek
1. TRADISI BUCENG - SIMBOLIK
Pembimbing
1. GM. Sukamto; 2. Hj. Siti Malikhah Towaf
Lampiran Berkas
You must be logged in to get fulltext


UPT Perpustakaan UM
  • Berita

Tentang Kami

TIM IT Perpustakaan 2023

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS

Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik