Skripsi
Swearing on top: the uniqueness of malangan swearing words / Putri Larasati
Abstrak
ABSTRAK Larasati Putri. 2016. Swearing On Top The Uniqueness of Malangan Swearing Words. Skripsi Fakultas Sastra Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Maria Hidayati S.S. M.Pd (II) Prof. A. Effendi Kadarisman Ph.D Kata kunci mengumpat umpatan di atas malangan komunitas anak-anak muda Malang ketidaksopanan Sebagai salah satu fenomena linguistik mengumpat menjadi sebuah hal yang menyenangkan untuk digunakan oleh khalayak umum masa kini. Kegiatan mengumpat berhubungan dengan tingkat kesensitifan dan kondisi mental seseorang yang diungkapkan menjadi sebuah kata umpatan yang identik berisi kata-kata bermakna negatif atau kasar. Fenomena ini tergambar dengan apik di sebuah kota besar yang terletak di provinsi Jawa Timur Malang yang populer dengan bahasanya yang sangat unik boso walikan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kata-kata umpatan maknanya dan faktor pendukung lain dibalik penggunaan kata-kata umpatan Malangan. Dalam proses pengumpulan dan penganalisisan data peneliti menggunakan metode kualitatif. Dengan menggunakan metode tersebut pula peneliti mendeskripsikan fakta-fakta mengenai obyek penelitian yaitu mengumpat dengan bahasa Malangan. Di dalam penelitian ini peniliti menemukan jenis-jenis kata umpatan tidak umum dan aneh yang muncul dari kalangan komunitas-komunitas anak muda Malang (sekelompok anak muda berumur 18-25 tahun) yakni sekelompok remaja musik dan skateboarding mahasiswa perguruan tinggi dan anak-anak kafe dengan merekam menuliskan hasil rekaman dan mewawancara. Selain itu peneliti juga mendeskripsikan dan menganalisa motivasi dibalik penggunaan kata-kata umpatan Malangan. Berdasarkan hasil penemuan dari penelitian ini peneliti mengidentifikasi bahwa kelompok-kelompok anak muda tersebut mengumpat kata umpatan yang sama yakni dalam 4 aktivitas utama (makan minum tidur dan berbicara) namun mengumpat kata umpatan yang berbeda ketika menyebut bagian badan dan menunjukkan identitas masing-masing dengan menggunakan perbendaharaan kata yang aneh yang meliputi kemampuan seseorang kata-kata yang termodifikasi dan kata tanpa arti (Wijana 2008). Selanjutnya peneliti juga menganalisa ekspresi-ekspresi dari masing-masing kata-kata umpatan berdasarkan percakapan para responden dengan mengkategorikannya kedalam strong swearing word yang meliputi the exclamation of annoyance surprise insult dan violent refusal/rejection weak swearing word yang berisi emphasis on emotion dan insult (Swan 1995). Karena teori ini berfokus pada aspek-aspek kontekstual dari kata-kata umpatan maka peneliti mengkombinasikan teori ini bersamaan dengan propositional and non propositional swearing words (Jay and Janschewitz 2008) untuk mengetahui motivasi penutur yang sebenarnya ketika ia menuturkan kata-kata umpatan. Dari hasil temuan tidak ada penilaian khusus yang membagi kelompok penutur menjadi kelompok pengumpat yang paling kuat atau kelompok yang terlemah karena tiap-tiap kelompok memiliki motivasi yang berbeda ketika mengumpat. Sebagai hasilnya dengan memiliki latar belakang sosial yang berbeda-beda dalam sebuah kelompok penutur ternyata tidak mempengaruhi mereka ketika menggunakan kata-kata umpatan. Disamping hal itu mengumpat sangatlah kontekstual sehingga hal tersebut tidak bisa dengan mudah digolongkan menjadi hal yang sopan atau tidak sopan namun lebih merujuk pada cara penutur dan pendengar dalam mengolah dan menyampaikan kata-kata umpatan tersebut. Secara keseluruhan mengumpat memberikan keuntungan yang dapat diperhitungkan dalam kegiatan berkomunikasi di kalangan anak-anak muda Malang. Penilitian lebih lanjut diharapkan dapat memperluas sumber data dan analisis lebih rinci pada kegiatan mengumpat di kelompok etnik yang lain atau menemukan masalah linguistik lain yang berhubungan dengan umpatan.