Tesis
Kajian nilai-nilai paseng dan kaitannya dengan layanan bimbingan sosial-pribadi / oleh Usman Malik
Abstrak
ABSTRAK Malik Usman. 1997. Kajian Nilai-Nilai Paseng dan Kai tannya Dengan Layman Bimbingan Sosial-Pribadi. Tesis. Program Studi Bimbingan Kon-seling Program Pascasarjana IKIP Malang. Pembimbing (I) Prof. Drs. Rosjidan M.A. (II) Prof. Dr. Munandir M.A. Kata kunci Siri Paseng Nilai Bimbingan Sosial-Pribadi. Err ington yang dikutip Abidin (1992) menyatakan bahwa orang Bugis menganggap tidak ada tujuan dan alasan hidup yang leb ih penting daripada menjaga siri-nya. Sini adalah sistem nilai yang sarat dengan nilai malu kebajikan martabat dan harga diri yang selalu meniadi rujukan dalam bertindak (Side 1977 dan Mattulada 1988). Sin tidak hanya bersifat menentang saja tetapi juga merupakan perasaan halus dan suci. Orang yang tidak mematuhi orang tu.3.nya termasuk orang yang kurang siri-nya. Dengan begitu sirs menjadi bagian terdalain dalain din orang Bugis yang dijunjung tinggi dan perlu dipertahanan keberadaannya. Sa.la.h sa.tu upaya yang dilakukan orang-orang dahulu agar keberadaan sin di masyarakat Sulawesi Selat.an tet.ap menjadi tuntunan dan pedoman dalam berpikir bertindak dan berhubungan adalah dengan mengaktualisasikan pesan-pesan moral ke dalam bentuk paseng. Paseng merupakan nasihat. ajaran amanat atau wasiat dari raja-raja Bugis tokoh-tokoh masyarakat orang-orang bijaksana dan kepala-kepala keluarga yang disampaikan secara turun-temurun kepada warganya (Punagi 1983 Mattulada 1985 Moein 1988) Aplikasi ajaran paseng masih dipatuhi dalam kehidupan selari-hari orang-orang Bugis terutama di kampung-kampung. Misalnya paseng sipatuwo-sipatokkong masih dominan dalam masyarakat Bugis di pedalaman dalam bentuk pergaulan seperti saling menghormati membantu memberi dan mengasihi tanpa pamrih. Sementara di perkotaan meski-pun aplikasi aciara.n paseng masih tetap dilaksanakan tetapi tampaknya telah bergeser ciari sumbunya. Dengan memperhatikan inti paseng yaitu pecan moral kebajika.n maka tampak bahwa paseng dapat berfungsi sebagai tuntunan dan pedoman perilaku. Karena itu dalam konteks pendidikan paseng dapat berfungsi sebagai salah sate materi bimbingan khususnya dalain layanan bimbingan sosial-priba.di. Pada dasarnya bimbingan merupakan suatu upaya untuk membantu klien. Bimbingan member ikan pengala-man belajar agar klien dapat membantu dirinya sendiri. Ini terjadi dalam suatu proses yang diorganisasi untuk mencapai tujuan (Shertzer dan Stone 1981). Untuk mengembangkan materi layanan bimbingan sosial-pribadi yang berorientasi pada budaya setempat seperti nilai-nilai paseng Bugis maka perlu diajukan beberapa pertanyaan (1) adakah konsep-konsep bimbingan dalam paseng (2) nilia-nilai apa saja yang dikandung dalam paseng dan (3) sejauh mana nilai-nilai paseng dapat di-jadikan sebagai materi layanan bimbingan sosial-pribadi. Tujuan kajian dalam penelitian ini adalah (1) meng-identifikasi Jenis-jenis paseng Bugis yang ada pada masya-rakat Sulawesi Selatan (2) menemukan konsep-konsep Paseng yang mengandung konsep-konsep bimbingan (3) menemukan nilai-nilai dan isi pesan yang terkandung dalam paseng dan (4) memerikan nilai-nilai dan isi paseng ke dalam tujuan bimbingan sosial-pribadi. Untuk mencapai tujuan tersebut penulis menggunakan rancangan kualitatif. Dalam rancangan kualitatif dikenal berbagai pendekatan yaitu fenomenologi interaksi-simbolik etnometologi budaya studi kasus dan analisis isi (Bogdan dan Bikien 1982 dialih bahasakan oleh Munandir 1990). Analisis isi berke-naan dengan pengkajian secara sistematik rekaman atau dokumen yang ada sebagai sumber data (Krippendorff 1980). Selanjutnya Krippendorff mengemukakan tahap-tahap analisis isi yaitu pembentukan data pereduksian data penarikan inferensi dan penganalisisan. Instrumen pengumpulan data adalah penulis sendiri (Bogdan dan Biklen 1982 dialih bahasakan oleh Munandir 1990 dan Krippendorff 1980). Jelasnya penulis sebagai pengamat bdquo yaitu membaca sendiri buku Ajaran Para Leluhur dan buku Pappaseng To Riolota. Data dalam penelitian ini diperoleh dari buku Ajaran Para Leluhur (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 1994) yang terdapat sekian banyak paseng dalam bentuk narasi setelah diidentifikasi diketemukan sekitar 122 paseng dan buku Pappaseng To Riolota (Mattalitti 1986) terdapat 303 paseng dalam bentuk kalimat pendek. Dengan melalui trianggulasi sumber dan peer debriefing (Lincoln dan Guba 1985) bermaksud untuk menguji keabsahan data dan temuan diperoleh seba-nyak 36 paseng yang bermuatan bimbingan sosial-pribadi. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan (1) Paseng mengandung pengertian tujuan fungsi dan prinsip-prinsip bimbing- an. (2) Paseng yang bermuatan nilai-nilai bimbingan sosial-pribadi adalah ada tongeng atau berkata benar lempuk atau kejujuran getteng atau keteguhan sipakatau atau saling menghormati dan inappeso-na ri Dewata SeuwaE atau kepasrahan kepada Tuhan. (3) Nilai paseng mengandung muatan bimbingan sosial-pribadi khususnya yang berkaitan dengan komponen tujuan yaitu nilai ada tongeng dan lempuk termasuk dalam komponen tujuan memiliki kesadaran diri nilai ada tongeng dan leinpuk termasuk dalam komponen mengembangkan sikap posi-tif nilai sipakatau termasuk dalam komponen tujuan mampu menghargai orang lain nilai ada tongeng lempuk dan getteng termasuk dalam komponen tujuan memiliki rasa tanggung jawab nilai sipakatau termasuk dalam komponen tujuan mengembangkan keterampilan hubungan antar-pribadi nilai ada tongeng lempuk sipakatau dan mamppesona ri Dewata SeuwaE termasuk dalam komponen tujuan dapat menyelesaikan konplik nilai ada tongeng lempuk get teng dan inamppesona ri Dewata SeuwaE termasuk dalam komponen tujuan membuat pilihan secara sehat dan nilai ada tongeng lempuk getteng dan mamppesona ri Dewata SeuwaE termasuk dalam komponen tujuan dapat membuat keputusan secara sehat. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan kajian dapat disarankan (1) para konselor atau guru pembimbing perlu memasukkan nilai-nilai paseng sebagai salah satu materi dalam layanan bimbingan sosial-pribadi (2) para konselor atau guru pembimbing perlu melakukan kerja sama dengan orangtua siswa dalam menerapkan nilai-nilai paseng kepada siswa atau klien baik di sekolah keluarga maupun di masyarakat dan (3) para peneliti dan konselor selan-jutnya perlu megembangkan paket layanan bimbingan sosial-pribadi yang bermuatan nilai-nilai paseng.