Skripsi
A comparison between illocutionary acts in Jokowi\'s and SBY\'s institutional speech during Asian-African Conference 2015 / Marine Mega Provita
Abstrak
ABSTRAK Provita M.P. 2016. Perbandingan Tindak Ilokusi antara Pidato Institusional Jokowi dan SBY di Konferensi Asia Afrika 2015. Jurusan Sastra Inggris. Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing I Dr. Hj. Emalia Iragiliati M.Pd Pembimbing II Evynurul Laily Zen S.S M.A Kata Kunci Tindak ilokusi Penelitian komparatif pidato institutional Jokowi dan SBY KAA 2015 Makna tersirat yang ada dalam latar institutional khususnya pidato politik memiliki peranan penting yang menunjukkan maksud dan tujuan dari pembicara kepada hadirin. Makna tersirat menyampaikan maksud dan tujuan pembicara kepada pendengar. Pidato yang disampaikan Jokowi dan SBY pada konferensi Asia Afrika 2015 menyedot perhatian banyak orang tentang bagaimana mereka menyampaikan pidato khususnya maksud yang Jokowi dan SBY sampaikan. Karenanya penelitian ini fokus kepada penggunaan tindak ilokus dalam pidato Jokowi dan SBY di KAA 2015. Penelitian ini juga fokus ke perbandingan dari kedua pidato tersebut. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan sebagai desain dari penelitian ini. Instumen yang digunakan adalah satu pidato transkripsi pidato Jokowi dan satu transkripsi pidato SBY di KAA 2015. Setiap transkripsi pidato kemudian diklarifikasikan berdasarkan lima tipe tindak ilokusi yang diusulkan oleh Searle (1975) diantaranya 1) Representatif 2) Direktif 3) Komisif 4)Ekspresif 5) Deklarasi serta teori latar instituonal yang diusulkan oleh Drew dan Heritage (1992). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Jokowi menggunakan lima tipe tindak ilokusi diantaranya Representatif (59.86%) Direktif (22.7%) Ekspresif (11.37%) Komisif (4.25%) dan Deklaratif (1.42%) dalam menggunakan ke inti topik pembicaraan menggunakan kata-kata provokatif dalam memberikan saran dan cenderung menonjolkan kesulitan dan rintangan yang dihadapi negara Asia Afrika. Sementara itu SBY menggunakan tiga tipe tindak ilokusi diantaranya representatif (69.12%) Ekspresif (17.61%) dan direktif (13.24%) dalam menggunakan tindak ilokusi SBY sangat berhati-hati dalam menyampaikan pidato dengan menggunakan kata-kata yang sopan berbasa-basi menggunakan topik aman dan lebih memilih untuk membicarakan tentang prestasi yang dicapai Asia-Afrika. Kedua presiden memiliki beberapa persamaan. Mereka menggunakan kata ganti kita dalam melakukan tindak direktif melakukan penggulangan dalam memberikan saran berupa poin dan lebih cenderung mengajak daripada memberi perintah. Karenanya hasil penelitian ini mendukung teori Searle (1975) tentang tindak ilokusi dan teori Drew dan Heritage (1992) tentang pidato berlatar institusi. Penggunaan tindak ilokusi dalam pidato politik memberikan gambaran yang jelas bagaimana tindak ilokusi menunjukkan makna tersirat yang berbeda-beda. Namun para peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait topik ini guna memperkaya khasanah ilmu dari cabang ilmu prakmatik ini.