Skripsi
Peningkatan keterampilan berbicara melalui penerapan metode bermain peran pada siswa kelas III SDN Madyopuro 2 Kota Malang / Desi Pranatalia
Abstrak
ABSTRAK Pranatalia Desi. 2016. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Penerapan Metode BermainPeran pada siswa Kelas III Madyopuro 02 Kota Malang. Skripsi Program Studi S1 Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Harti Kartini M. Pd (II) Drs. Rumidjan M. Pd. Kata Kunci Keterampilan Berbicara Bermain peran Bahasa Indonesia SD Pembelajaran Bahasa Indonesia memuat aspek yaitu berbicara mendengarkan membaca dan menulis. Berdasarkan hasil pegamatan ditemukan aspek berbicara belum berhasil. Hal ini karena siswa belum diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya maka perlu diterapkan metode bermain peran. Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan Penerapan. Pembelajaran Tema 7 Subtema 3 Pembelajaran 2 dengan Metode Bermain Peran Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas III melalui metode bermain peran. Penelitian ini adalah bentuk Penelitian Tindakan Kelas dengan model siklus yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan (1) perencanaan (2) Pelaksanaan (3) Observasi (4) refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian sebagai instrumen utama. Data penelitian ini berupa kata-kata. Pengumpulan data menggunakan pedoman observasi pedoman wawancara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas model siklus. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus setiap siklus terdiri atas 4 tahap yaitu perencanaan pelaksanaan observasi dan refleksi. Subjek penelitian yaitu siswa kelas III SDN Madyopuro 2 Kota Malang yang berjumlah 19 laki-laki dan 21 perempuan. Data penelitian berupa kata-kata. Data dikumpulkan melalui observasi dengan peneliti sebagai instrumen utama pedoman wawancara serta foto digital sebagai instrumen pendukung. Hasil yang diperoleh pada siklus I sebagian besar keterampilan berbicara siswa masih kurang. Dari jumlah 40 siswa pada siklus I siswa belum mampu memerankan drama dengan dan intonasi yang tidak tepat dan ekspresinya masih kurang sesuai dengan tokoh yang diperankan. Setelah diadakan perbaikan terjadi peningkatan yang cukup dratis. Pada siklus II seluruh siswa 100% sudah mencapai ketuntasan (nilai 70-90). Siswa sudah mampu memerankan drama dengan lafal jelas intonasi tepat dan ekspresi sesuai dengan tokoh yang mereka perankan. Berdasarkan paparan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa menggunakan metode bermain peran dalam pembelajaran tema 7 subtema 3 pembelajaran 2 terbukti dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dengan demikian disarankan kepada guru sebelum siswa bermain peran supaya memberikan bimbingan yang benar dan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan bermain peran tersebut supaya kegiatan pembelajaran berjalan optimal untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa