Skripsi
Pengembangan bahan ajar berbasis inkuiri terbimbing dalam blended learning untuk siswa SMA/MA kelas X pada materi reaksi redoks / Ana Naila Rakhmatika
Abstrak
ABSTRAK Rakhmatika Ana Naila. 2016. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Inkuiri Terbimbing dalam Blended Learning untuk Siswa SMA/MA Kelas X Pada Materi Reaksi Redoks. Skripsi Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Surjani Wonorahardjo Ph.D. (2) Suharti M.Si. Ph.D. Kata Kunci Pengembangan Bahan Ajar Inkuiri Terbimbing Blended Learning Reaksi Redoks. Salah satu topik Kimia yang dipelajari oleh siswa SMA dan MA program IPA adalah Reaksi Redoks. Topik ini mengandung konsep-konsep bersifat abstrak dan konkrit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan bahkan kesalahan dalam memahami konsep reaksi redoks. Pembelajaran topik tersebut selama ini lebih menekankan aspek teoritis dan kurang mengembangkan keterampilan berpikir dalam perolehan konsep. Pembelajaran seperti ini tidak sesuai dengan karakteristik ilmu kimia sebagai produk dan proses seperti yang diamanatkan dalam kurikulum 2013 yaitu melalui pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik. Permendikbud No. 65 tahun 2013 menyatakan bahwa untuk memperkuat pendekatan saintifik perlu diterapkan pembelajaran berbasis discovery learning atau inquiry learning. Pelaksanaan pembelajaran inkuiri yang mendorong siswa untuk aktif berpikir dalam menemukan pengetahuannya sendiri belum didukung bahan ajar yang sesuai. Selain itu pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada siswa cenderung memakan banyak waktu sedangkan waktu pembelajaran di sekolah terbatas. Salah satu cara untuk mengatasi keterbatasan waktu dalam pembelajaran inkuiri adalah membelajarkannya secara blended learning. Blended learning memadukan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online sebagai perpanjangan waktu. Pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing dalam blended learning membutuhkan bahan ajar khusus. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengembangkan bahan ajar berbasis inkuiri terbimbing dalam blended learning untuk kelas X SMA/MA pada materi reaksi redoks (2) untuk mendeskripsikan kelayakan bahan ajar hasil pengembangan (3) untuk mengetahui keefektifan bahan ajar hasil pengembangan (4) untuk mengetahui persepsi siswa terhadap pembelajaran menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. Pengembangan bahan ajar mengadopsi model pengembangan 4D dari Thiagarajan et al. (1974) yang meliputi empat tahap pengembangan yaitu pendefinisian (define) perancangan (design) pengembangan (develop) dan penyebaran (disseminate). Tahap keempat yaitu penyebaran tidak dilakukan karena produk pengembangan masih digunakan di lingkup SMA Negeri 1 Pasuruan. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari Buku Siswa dan Buku Guru . Pengujian kelayakan isi bahasa penyajian dan kegrafisan dilakukan oleh satu dosen Jurusan Kimia dan satu guru Kimia SMA dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan berdasarkan standar penilaian bahan ajar yang dirumuskan oleh BSNP (2006). Keterbacaan juga diujicobakan terhadap sepuluh siswa pada uji perorangan. Pengujian keefektifan bahan ajar didasarkan pada persentase siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif (komentar dan saran yang diberikan oleh validator dan siswa) dan data kuantitatif (penilaian validator penilaian siswa dan hasil belajar siswa). Hasil belajar siswa diperoleh dengan menggunakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 25 item yang telah divalidasi dan memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0 991 dihitung dengan Spearman-Brown Coefficient. Persepsi siswa terhadap pembelajaran menggunakan bahan ajar diketahui berdasarkan angket persepsi pada uji lapangan terbatas. Hasil uji kelayakan menunjukkan bahwa Buku Siswa dan Buku Guru memiliki kelayakan isi sebesar 83 9% kelayakan bahasa sebesar 90 6% kelayakan penyajian sebesar 87 5% dan kelayakan kegrafisan sebesar 91 75%. Hasil uji perorangan mendapatkan nilai 91 75%. Hal ini menunjukkan bahwa bahan ajar layak digunakan pada pembelajaran kimia. Persepsi siswa terhadap pembelajaran menggunakan bahan ajar pengembangan yaitu sebesar 76 0% yang berarti bahwa persepsi siswa sangat baik ketika diajar menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. Berdasarkan skor hasil belajar siswa setelah menggunakan bahan ajar 82 9% siswa mencapai skor KKM. Hal ini menunjukkan bahwa bahan ajar efektif digunakan dalam pembelajaran kimia. Berdasarkan hasil tersebut dapat dianggap bahwa bahan ajar hasil pengembangan adalah layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran Reaksi Redoks.