Skripsi
The presidents are hyperbolic: a study of hyperbole uses in Indonesian presidential speeches / Shinta Arum Suffia
Abstrak
ABSTRAK Suffia Shinta Arum. 2016. Para Presiden Hiperbolis Sebuah Studi Penggunaan Hiperbola pada Pidato Presiden Indonesia.Skripsi Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing Prof. Dr. Yazid Basthomi M.A. dan Evynurul Laily Zen S.S M.A. Kata kunci hiperbola pidato presiden ekpresi hiperbolis. Hiperbola adalah salah satu majas yang unik jika dibandingkan dengan majas-majas lainnya. Berdasarkan realisasi bentuk hiperbola yang diusulkan oleh Claridge (2011) hiperbola dapat muncul dalam bentuk satu kata frase klausa angka perbandingan mutlak perbandingan dan pengulangan. Hiperbola terkait erat dengan retorika. Hiperbola didefinisikan sebagai alat penggambaran dimana penutur menggunakan pernyataan yang dilebih-lebihkan dengan kesadarannya sendiri untuk mempertegas perasaan dan memperkuat efek retorik (Erikkson 2011). Penggunaan hiperbola dalam suatu wacana adalah hal yang disengaja oleh karena itu hiperbola dapat digunakan sebagai alat retorik (Mora 2006) yang berfungsi untuk menegaskan mengevaluasi membedakan mengklarifikasi menciptakan efek humor menyederhanakan meningkatkan perhatian menyatakan keterkejutan dan untuk menekankan. Studi ini meneliti tentang hiperbola yang terdapat pada pidato presiden Indonesia yang disampaikan oleh dua presiden terakhir yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo dari tahun 2007-2016. Pertama tujuan skripsi ini adalah untuk menemukan apa saja hiperbola yang digunakan dalam pidato-pidato presiden tersebut dan yang kedua adalah untuk mengidentifikasi apa saja fungsi dari hyperbole-hiperbola tersebut. Dengan bantuan metode analisis wacana ekpresi hiperbolis dapat diidentifikasi dalam dua tahap tahap pertama adalah berdasarkan realisasi bentuknya (morfologi dan sintaksis) yang disarankan oleh Claridge (2011) dan step kedua adalah klasifikasi hiperbola berdasarkan fungsi hiperbola sebagai alat retorik yang disarankan oleh Mora (2006). Studi ini berkonsentrasi pada analisis wacana dan pragmatik juga sintaks dan semantik. Hasil temuan dalam studi ini menunjukkan bahwa bentuk hiperbola yang terdapat dalam pidato presiden Indonesia bervariasi mulai dari bentuk sebuah kata tunggal frase klausal angka penggunaan perbandingan mutlak perbandingan dan pengulangan. Sebagian besar hiperbola yang terdapat dalam data muncul dalam bentuk kata tunggal yakni sebanyak 26.1% dengan adanya beberapa universal descriptor (pendeskripsi umum) dalam temuan tersebut. Secara alami pendeskripsi umum memiliki sifat hiperbolis. Dengan kemunculan pendeskripsi umum dalam data ini menguatkan ide bahwa pendeskripsi umum dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu ekspresi hiperbola. Bagi peneliti di masa yang akan datang pendeskripsi umum sangat bermanfaat digunakan sebagai kata kunci pencarian ekspresi hiperbola dalam melakukan studi korpus. Dalam hal fungsi sebagian besar ekspresi hiperbolis digunakan untuk mempertegas. Fungsi hiperbola sebagai pemertegas ditemukan dalam data sebagai fungsi yang sering muncul bersama dengan fungsi yang lain sehingga fungsi tersebut melahirkan kombinasi beberapa fungsi. Sebagian besar kombinasi fungsi yang muncul dalam penemuan adalah fungsi pemertegas penyederhana dan fungsi pemertegas evaluasi peningkat perhatian. Kedua kombinasi fungsi tersebut muncul sebanyak lebih dari lima kali dalam data. Namun dalam data tidak ditemukan hiperbola yang berfungsi untuk mengekspresikan keterkejutan. Hal ini beralasan karena data yang diteliti yaitu pidato presiden bersifat formal yang disiapkan dengan baik dan dirancang dengan tepat. Dengan sifat pidato yang seperti itu membuat keterkejutan tidak dapat muncul. Selain itu jenis dari pidato presiden yang merupakan komunikasi satu arah menjadikannya tidak mungkin memberi peluang pada penonton atau pendengar untuk berkomunikasi langsung dengan presiden. Akibatnya keterkejutan yang biasanya muncul akibat reaksi pembicara terhadap lawan bicara tidak dapat ditemui. Pada akhirnya memiliki konteks pidato yang berbeda dapat memunculkan efek penggunaan hiperbola yang berbeda pula. Suatu ekpresi hiperbolis bisa mengandung lebih dari satu fungsi dimana hal ini amat terkait hubungannya dengan konteks wacana. Secara keseluruhan hiperbola memberikan manfaat yang besar untuk pidato presiden. Harapannya peneliti di masa yang akan datang dapat melanjutkan studi tentang hiperbola ini dengan menggunakan data yang sama sehingga dapat menciptakan penelitian diakronis mengenai hiperbola atau dengan menggunakan data yang lebih besar dan luas dalam melakukan studi korpus untuk melakukan penelitian lebih jauh mengenai permasalahan linguistik yang terkait dengan hiperbola.