Skripsi
Fundamentalisme agama sebagai prediktor intoleransi politik pemuda Hindu di Bali / Marvel M.A.A.N. Sihombing
Abstrak
ABSTRAK Sihombing Marvel M.A.A.N. 2016. Fundamentalisme Agama sebagai Prediktor Intoleransi Politik Pemuda Hindu di Bali. Skripsi Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Tutut Chusniyah M.Si dan (II) Pravissi Shanti S.Psi M.Psi Kata kunci Fundamentalisme Agama Intoleransi Politik Pemuda Hindu Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus intoleransi yang terjadi di Bali. Beberapa kasus intoleransi seperti penolakan wisata syariah di Bali pelarangan penggunaan hijab saat lebaran hingga pengajuan ideologi yang berbau xenophobia yang mendorong primordialisme etnis dengan mendirikan pembatas antara orang Bali dan non-Bali. Salah satu faktor yang menyebabkan intoleransi politik adalah fundamentalisme agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) mengetahui tingkat fundamentalisme agama pemuda Hindu di Bali (2) mengetahui tingkat intoleransi politik pemuda Hindu di Bali (3) Untuk mengetahui fundamentalisme agama sebagai prediktor intoleransi politik pemuda Hindu di Bali. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif dan korelasional prediktif. Populasi dalam penelitian ini yaitu pemuda Hindu di Bali dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 90 orang dengan teknik purposive sampling. Instrumen dalam penelitian ini berupa skala fundamentalisme agama dan skala intoleransi politik. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif dengan pengkategorian berdasarkan pada nilai T. Uji hipotesis menggunakan teknik analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemuda Hindu di Bali (1) memiliki fundamentalisme agama yang dikategorikan tinggi (2) memiliki toleransi politik dan (3) fundamentalisme agama bukan merupakan prediktor intoleransi politik karena taraf signifikansi 0 644. Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini yaitu (1) bagi masyarakat diharapkan untuk tetap menjaga toleransi terhadap keyakinan yang dimiliki orang lain dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama (2) bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini dengan mengganti variabel yang mungkin berpengaruh terhadap intoleransi politik seperti variabel otoritarian persepsi ancaman pendidikan kontak atau hubungan kebijakan pemerintah dan keberagaman etnis.