Skripsi
Phonological interference: a case study of Chinese, Japanese, South Korean students speaking Indonesian / Dimas Galih Wijaya
Abstrak
ABSTRAK Wijaya D.G. 2016. Phonological Interference A Case Study of Tiongkok Japan South Korean Students Speaking Indonesian. Skripsi Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Evynurul Laily Zen S.S. M.A. (II) Dr. Suharyadi M.Pd. Kata Kunci fonologi interferensi segmental Bahasa Indonesia Pengaruh struktur bahasa pertama ketika mempelajari bahasa kedua adalah fase awal yang sangat mungkin terjadi dalam proses pembelajaran bahasa ke dua. Hal ini terjadi pada saat pelajar asing mempelajari Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Interferensi bahasa akan terjadi ketika mereka berbicara bahasa Indonesia. Berbicara tanpa mempertimbangkan pengucapan akan mengganggu dan menyebabkan kesalahan dalam memahami suatu makana (Candra 2005). Perbedaan cara dalam pengucapan kata dalam bahasa Indonesia meskipun tidak selalu mengakibatkan perbedaan arti tetapi akan mengakibatkan kebingungan bagi teman berbicara. Penelitian ini diadakan untuk mengetahui interferensi fonologi yang dilakukan oleh pelajar dari Tiongkok Jepang dan Korea Selatan dalam berbicara Bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Dalam pengumpulan data penulis menggunakan materi yang telah direkam yang berasal dari percakapan langsungketikawawancara mengubahrekaman audio menjaditranskripsifonetik menemukan kesalahan dan menganalisanya. Sampel sebanyak 3 pelajar (seorangpelajar penutur asli Bahasa Mandarin seorangpelajar penutur asli Bahasa Jepang dan seorangpelajar penutur asli Bahasa Korea).Merekasemuaadalahpelajardari Program BeasiswaDharmasiswa Indonesia. Ada 694 kemunculan kesalahan pengucapan dari 3.232 kata. Namun setelah semua kesalahan pengucapan dipilah-pilah hanya ada 287 interferensi fonologi yang disebabkan pengaruh bahasa pertama mereka. Berdasarkan hasil temuan yang ada menunjukan bahawa masing masing pelajar mengalami jenis interferensi fonologi yang berbeda-beda. Pertama seorang pelajar Tiongkok mengalami tujuh jenis interferensi fonologi. Deletion 66 kata(42%) devoicing 23 kata (14%) vowel change 19 kata (12%) coalescence 17 kata (11%) backing 16 kata (10%) voicing 13 kata (8%) and methasis 5 kata (3%). Kedua seorang pelajar Jepang hanya mengalami lima jenis interferensi fonologi. Deletion 30 kata (55%) vowel change 16 kata (29%) fronting 5 kata (9%) coalescence 3 kata (5%) and voicing 1 kata (2%). Seorang pelajar dari Korea Selatan juga mengalami lima jenis interferensi fonologi. Deletion 23 kata (40%) aspiration 17 kata (23) gemination 14 kata (19%) vowel change 11 kata (15%) and stopping 2 kata (3%). Kesimpulannya semuapelajarmengalamiinterferensifonologidandeletion merupakanjenisinterferensifonologi yang muncul.Yang kedua bahasapertamamerekaberpotensimengakibatkaninterferensifonologi.Penelitiberharapbahwapenelitian ini dapat memberi pandangan dan informasi baru terhadap fenomena interferensi fonologi Bahasa Indonesia.Walaupun memberikan detail pada penjelasan temuan penelitian inihanyafokus pada bagian sehmental saja. Penelitian yang akan datang diharapkan dapat meneliti juga hinggabagiansuprasegmental untuk memperluas bahasan psikolinguistik.