Skripsi
Kepemimpinan wanita di pedesaan: studi tentang kepemimpinan kepala desa wanita di Kabupaten Tulungagung tahun 2007-2013 / May Siska Hasti Arini
Abstrak
ABSTRAK Arini M. S. H. 2016. Kepemimpinan Wanita Di Pedesaan Studi Tentang Kepemimpinan Kepala Desa Wanita Di Kabupaten Tulungagung Tahun 2007-2013. Skripsi Jurusan Sejarah Prodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Ari Sapto M.Hum (II) Dr. R. Reza Hudiyanto M.Hum. Kata Kunci kepemimpinan wanita pedesaan Tulungagung. Pada tahun 2007 Kabupaten Tulungagung mengadakan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak dalam satu hari di 189 desa. Hasil dari pilkades tersebut adalah dengan terpilih beberapa kepala desa wanita. Hal ini menarik untuk diteliti karena ada keterlibatan wanita dalam politik desa untuk memperebutkan kekuasaan atas kepemimpinan desa yang baru pertama terjadi di Tulungagung. Penelitian ini memiliki tiga rumusan masalah yang dikaji yaitu (1) apa motivasi wanita untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa (2) bagaimana hasil pembangunan yang dicapai kepala desa wanita selama masa jabatan tahun 2007-2013 (3) apa saja faktor pendorong dan penghambat dalam kepemimpinan kepala desa wanita di Kabupaten Tulungagung tahun 2007-2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Metode tersebut terdiri dari lima tahapan yaitu pemilihan topik heuristik kritik interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa fakta yaitu Pertama motivasi untuk menjadi kepala desa pada dasarnya bukan datang dari keinginan dan inisiatif para kepala desa wanita tersebut namun disebabkan adanya faktor pendorong internal yaitu kesadaran tentang kesetaraan gender dan keinginan untuk mengabdi pada masyarakat desa. Sementara faktor pendorong eksternal adalah keinginan dalam meneruskan perjuangan suami yang bertujuan untuk mempertahankan status sosialnya di masyarakat desa sehingga mereka tetap memiliki akses terhadap sumber daya eknomi desa. Kedua hasil pembangunan yang sudah dicapai selama masa jabatan 2007-2013 menunjukkan bahwa kepala desa incumbent juga mampu meningkatkan perekonomian desa dan percepatan pembangunan infrastruktur guna mendukung tercapainya kesejahteraan penduduk desa. Ketiga ditemukan adanya faktor pendorong dan penghambat dalam menjalankan tugas sebagai kepala desa wanita. Faktor pendorong pertama ialah tingkat pendidikan yang dimiliki dan pengalaman menjadi istri kepala desa. Faktor selanjutnya adalah kemampuan untuk membangun hubungan dengan pemangku kebijakan lain serta dukungan dari keluarga dan perangkat desa. Sedangkan faktor penghambat yang ditemukan adalah kendala dalam mengatur waktu antara pekerjaan dan mengurus keluarga. Penulis menyarankan bagi pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan yang sesuai dengan kondisi masyarakat terutama isu-isu gender. Dengan tulisan ini penulis berharap bertambahnya kesadaran wanita untuk ikut andil dalam bidang politik. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji peran dan kiprah wanita dalam lingkup yang berbeda seperti dilingkup ekonomi sosial dan budaya.