Tesis
Peningkatan keterampilan berbicara melalui media cerita fiksi pada siswa kelas V SDN 016 Balikpapan Timur / Wisnu Haryo Saputro
Abstrak
ABSTRAK Saputro Wisnu Haryo. 2016. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Media Cerita Fiksi Pada Siswa Kelas V SDN 016 Balikpapan Timur. Tesis Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Heri Suwignyo M.Pd. (II) Dr. Muakibatul Hasanah M.Pd. Kata Kunci keterampilan berbicara media cerita fiksi Keterampilan berbicara merupakan salah satu dari empat keterampilan dasar berbahasa yang dipelajari siswa sekolah dasar. Salah satu cara mengajarkan keterampilan berbicara adalah dengan memilih metode dan media pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan proses dan hasil keterampilan berbicara. Media cerita fiksi dapat menjadi salah satu solusi untuk mengajarkan keterampilan berbicara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses dan hasil dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN 016 Balikpapan Timur. Desain penelitian yang digunakan berupa Penelitian Tindakan Kelas. Dalam penelitian ini peneliti bertugas untuk merancang skenario pembelajaran merancang dan menyiapkan media membuat instrumen penelitian mengobservasi mengumpulkan data dan menganalisis data serta menyimpulkan hasil penelitian. Guru berperan sebagai pelaksana tindakan. Data dalam penelitian ini berupa data proses dan data hasil. Data proses berupa lembar observasi lembar wawancara dan catatan lapangan. Data hasil berupa hasil nilai keterampilan berbicara siswa yang ditinjau dari kemampuan siswa dalam memberi tanggapan secara lisan memberikan saran terkait topik dalam cerita dengan santun berbahasa dan menceritakan kembali. Pada observasi awal guru menyatakan bahwa nilai rata-rata siswa adalah 73 Hasil penelitian menunjukkan bahwa media cerita fiksi dapat membantu meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dalam tahap eksplorasi elaborasi dan konfirmasi guru dan siswa berinteraksi dengan baik dalam pembelajaran berbicara menggunakan media cerita fiksi. Seluruh tahapan dalam pembelajaran dapat dilaksanakan oleh guru dengan baik. Siswa terlihat antusias dalam mengikuti pembelajaran berbicara menggunakan media cerita fiksi. Ditinjau dari tiga komponen penilaian nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada aspek memberi tanggapan secara lisan nilai rata-rata pada siklus I adalah 73 2 mengalami peningkatan nilai sebanyak 4 2 menjadi 77 4 pada siklus II. Pada aspek memberikan saran terhadap topik dalam cerita dengan santun berbahasa nilai rata-rata pada siklus I adalah 72 2 mengalami peningkatan sebanyak 6 4 menjadi 78 6 pada siklus II. Pada aspek menceritakan kembali nilai rata-rata pada siklus I adalah 76 mengalami peningkatan 1 2 menjadi 77 2 pada siklus II. Nilai rata-rata keseluruhan aspek berbicara pada siklus I adalah 73 8 dan meningkat 3 5 pada siklus II menjadi 77 7. v Media cerita fiksi dapat digunakan untuk membantu meningkatkan keterampilan berbicara. Pada saat proses penerapan media cerita fiksi terdapat kekurangan pada siklus I yaitu terdapat siswa yang kurang fokus mengikuti pembelajaran. Kekurangan tersebut dapat diperbaiki pada siklus II dengan menggunakan variasi metode yang berbeda dengan siklus I yaitu metode bermain peran dan demonstrasi. Pada hasil penerapan media cerita fiksi tampak bahwa nilai rata-rata yang diperoleh dari siklus I ke siklus II meningkat dan telah melebihi KKM. Peneliti menyarankan agar guru dapat mengkombinasikan media cerita fiksi dengan metode pembelajaran atau media pembelajaran lain yang relevan dengan kompetensi dan materi pembelajaran berbicara. Dalam pembelajaran berbicara sebaiknya siswa diarahkan dalam pembagian tugas untuk mengantisipasi kegaduhan siswa di dalam kelas.