Skripsi
Peran Sanggar Asmoro Bangun dalam upaya melestarikan nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian wayang topeng malangan di Desa Karangpandan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang / Diah Putri Wulan Dhari
Abstrak
ABSTRAK Dhari Diah Putri Wulan. 2017. Peran Sanggar Asmoro Bangun Dalam Melestarikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Melalui Kesenian Wayang Topeng Malangan Di Desa Karangpandan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Skripsi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Suparlan Al Hakim M.Si (2) Rusdianto Umar S.H. M.Hum. Kata Kunci Sanggar Kearifan Lokal Kesenian Kesenian merupakan hasil kebudayaan yang harus dilestarikan karena didalamnya mengandung unsur keindahan. Nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam suatu kesenian harus terus dilestarikan untuk tetap menjadi pedoman hidup masyarakat dalam bertingkah laku. Sanggar Asmoro Bangun merupakan sanggar yang ada di Dusun Kedungmonggo Desa Karangpandan Kecamatan Pakisaji yang berupaya melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dalam kesenian wayang topeng malangan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan (1) asal mula tumbuhnya sanggar Asmoro Bangun di Desa Karangpandan Kecamatan Pakisaji (2) arti penting kesenian wayang topeng malangan dijunjung tinggi di sanggar Asmoro Bangun (3) tata cara pelaksanaan kesenian wayang topeng malangan sampai kegiatan selesai (4) ragam nilai-nilai yang terkandung didalam kesenian wayang topeng malangan (5) sisi penting dari kesenian wayang topeng malangan agar tetap terus dilestarikan. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data berasal dari kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi wawancara dan dokumentasi. Proses analisis data yang digunakan adalah Miles dan Huberman yaitu reduksi data display data dan verifikasi data. Teknik pengecekan keabsahan data dengan cara ketekunan atau keajegan pengamatan dan triangulasi. Tahap-tahap penelitian yang digunakan adalah tahap pra lapangan meliputi penelitian pendahuluan penyusunan proposal pengurusan izin penelitian tahap memasuki lapangan tahap pengumpulan data tahap analisis data dan tahap penulisan laporan. Hasil penelitian ini sebagai berikut. (1) Sejarah sanggar Asmoro Bangun adalah awalnya sanggar bernama pendowo limo yang pada saat kepemimpinan Mbah Serun dan Mbah Kiman lalu setelah peresmian sanggar Asmoro Bangun berganti menjadi sanggar Asmoro Bangun yang pada saat itu dipimpin oleh Alm. Mbah Karimun. Tetapi saat Mbah Karimun sudah meninggal lalu kepemimpinan digantikan oleh Bapak Tri Handoyo sampai sekarang. (2) Alasan sanggar Asmoro Bangun mengembangkan kesenian wayang topeng malangan adalah untuk sarana hiburan serta melestarikan kesenian wayang topeng malangan yang masih tetap dipertahankan kelestariannya dengan melihat upaya orang terdahulu yang bersusah payah berkorban untuk kesenian ini. (3) Proses praktik kesenian wayang topeng malangan adalah yang pertama para pemain mempersiapkan diri untuk memakai kostum dan setelah selesai langsung menuju pentas lalu pertunjukan siap dimulai. (4) Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam kesenian wayang topeng malangan adalah ada nilai hiburan nilai moral nilai keberanian dan nilai persatuan dan kesatuan. (5) Peran sanggar Asmoro Bangun dalam upaya melestarikan nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian wayang topeng malangan di Desa Karangpandan Kecamatan Pakisaji adalah sebagai pengembang nilai-nilai kearifan lokal yang ada di dalam kesenian wayang topeng malangan melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh sanggar seperti pembuatan topeng latihan tari dan pertunjukan stiap malam senin legi. Saran yang diberikan peneliti yaitu (1) Agar kesenian wayang topeng malangan dapat terus dilestarikan seyogyanya pihak sanggar Asmoro Bangun yaitu Bapak Tri Handoyo selaku pengelola sanggar bisa mengikutsertakan warga masyarakat umum untuk membantu proses pelestarian kesenian wayang topeng malangan ini serta ada kerjasama yang baik dengan pemerintah (2) Agar nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam kesenian wayang topeng malangan dapat terus ada dan tertanam dalam diri anggota dan masyarakat seyogyanya anggota dari sanggar itu bisa ikut serta dalam memajukan program kerja yang sudah disusun oleh pihak sanggar dalam struktur organisasi. Sehingga Sanggar Asmoro Bangun dapat terus menampilkan serta menunjukkan cara yang lebih menarik dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat umum (3) Agar proses pelestarian kesenian wayang topeng malangan yang dilaksanakan oleh sanggar Asmoro Bangun berjalan sesuai harapan dengan adanya kegiatan yang ada di sanggar seyogyanya pemerintah daerah membantu untuk proses pelestariannya yang pertama yaitu bantuan dana untuk sedikit memperluas sanggar sebagai tempat latihan anak-anak dan pertunjukan atau gebyak malam senin legi yang kedua yaitu menjadikan kesenian wayang topeng malangan sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah baik di jenjang SD SMP maupun SMA atau SMK. ABSTRACT Dhari Diah Putri Wulan. 2017. The Role Of Sanggar Asmoro Bangun In The Effort Of Preseruing Local Wisdom Values Through Malangan Puppet Mask Art In Karangpandan Village Pakisaji Subdistrict Malang Regency. Thesis Justice and Citizenship Department Faculty of Social Sciences State University of Malang. Advisor (1) Drs. Suparlan Al Hakim M.Si (2) Rusdianto Umar S.H. M.Hum. Keywords Studio Local Wisdom Art Art is the result of culture that must be preserved because it contains elements of beauty. The values of local wisdom that exist in an art should continue to be preserved to remain a guideline of community life in behaving. Sanggar Asmoro Bangun is a studio located in Kedungmonggo Hamlets Karangpandan Village Pakisaji Subdistrict which seeks to preserve the values of local wisdom in the art of malangan puppet mask art. This research was conducted with the aim to describe (1) the origin of the growth of Sanggar Asmoro Bangun in Karangpandan Village Pakisaji Subdistrict (2) the importance art of malangan puppet mask art is upheld in Sanggar Asmoro Bangun (3) Ordinance of malangan puppet mask art performance until the activity is finished (4) the variety of values contained in malangan puppet mask art (5) the important aspect of malangan puppet mask art to keep it preserved. Researchers use qualitative approach and descriptive qualitative research type. Source of data comes from words and actions the rest is additional data such as documents and others. Data collection techniques used are observation interviews and documentation. Data analysis process used is Miles and Huberman data reduction data display and data verification. Techniques to check the validity of the data by means of persistence or keajegan observation and triangulation. The research stages used are pre-field stage covering preliminary research proposal preparation permission research entry stage data collection stage data analysis phase and report writing phase. The results of this study are as follows. (1) the history of Sanggar Asmoro Bangun was originally a studio named pendowo limo which at the time of the leadership of Mbah Serun and Mbah Kiman then after the inauguration of Sanggar Asmoro Bangun changed into Sanggar Asmoro Bangun which at that time was led by Alm. Mbah Karimun. But when Mbah Karimun was dead then the leadership was replaced by Mr. Tri Handoyo until now. So that all the activities that exist in the studio such as making a mask dance exercises and performances every night legi legi still running until now. (2) the reason Sanggar Asmoro Bangun to develop the art of malangan puppet mask art is for the means of entertainment and preserve the art of malangan puppet mask art that is still maintained its sustainability by seeing the efforts of the previous people who struggled to sacrifice for this art. (3) the process of malangan puppet mask art practice is the first of the players prepare to wear the costume and after it is done directly to the stage then the show is ready to start. (4) the values of local wisdom contained in malangan puppet mask art is the value of entertainment moral values the value of courage and the value of unity and unity. (5) The Role Of Sanggar Asmoro Bangun In The Effort Of Preseruing Local Wisdom Values Through Malangan Puppet Mask Art In Karangpandan Village Pakisaji Subdistrict Malang Regency is as a developer of local wisdom values in the art of malangan puppet mask art through various activities organized by the studio such as making a mask Dance exercises and performances every monday night legi. Suggestions given by the researcher are (1) In order for the art of malangan puppet mask to be preserved it should be the party of Sanggar Asmoro Bangun that is Mr. Tri Handoyo as the manager of the studio can involve the general public to assist the process of preserving the art of malangan puppet mask and there is good cooperation with the government (2) In order that the local wisdom values contained in malangan puppet mask art can continue to exist and be embedded in the members and society members of the association should be able to participate in advancing work programs that have been prepared by the sanggar in the structure organization. So Sanggar Asmoro Bangun can continue to showcase and show more interesting and acceptable way by all public (3) In order to preserve the malangan puppet mask art done by Sanggar Asmoro Bangun runs as expected with the existing activities in the studio the government should The area helps to preserve the process the first is funding to slightly expand the studio as a training ground for children and performances or gebyak senin legi night the second is to make malangan puppet mask art as a subject of local content in school either in elementary junior high school As well as high school or vocational school.