Tesis
Kalimat kompleks dalam karangan cerita fantasi siswa SMP kelas VII / Ratih Kumalasari
Abstrak
ABSTRAK Kumalasari Ratih. 2017. Kalimat Kompleks dalam Karangan Cerita Fantasi Siswa SMP Kelas VII. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Dawud M.Pd. (II) Dr. Sunaryo H.S. S.H. M.Hum. Kata Kunci wujud jenis pola kalimat kompleks Kalimat kompleks adalah kalimat yang memiliki dua klausa atau lebih dan klausanya dihubungkan dengan pemarkah koordinasi atau subordinasi. Kalimat kompleks digunakan dalam penyusunan karangan terutama karangan cerita fantasi. Dalam karangan cerita fantasi kalimat kompleks berfungsi untuk menyampaikan gagasan atau pesan yang ada pada sebuah karangan. Fokus penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan(1) wujud kalimat komples dalam karangan cerita fantasi siswa SMP kelas VII (2) jenis kalimat komples dalam karangan cerita fantasi siswa SMP kelas VII dan (3) pola kalimat komples dalam karangan cerita fantasi siswa SMP kelas VII. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metodeanalisis sintaktis. Data penelitian ini berupa satuan gramatikal kalimat dan klausa yang terdapat pada teks karangan cerita fantasi siswa SMP kelas VII. Sumber data penelitan ini diperoleh dari karangan cerita fantasi siswa SMP kelas VII. Karangan cerita fantasi tersebut merupakan hasil penugasan pembelajaran menulis cerita fantasi dari guru kepada siswa. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik simak dan catat (baca dan catat). Kedua teknik tersebut dilakukan dengan membaca karangan siswa dengan cara saksama dan dilanjutkan dengan mencatat data dalam sesuai dengan tahapan analisis data. Terdapat empat tahap analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu (1) reduksi data (2) kodifikasi data (3) analisis dan (4) penarikan simpulan. Hasil penelitian ini adalah wujud jenis dan pola kalimat kompleks. Berdasarkan jumlah klausanya diperoleh enam wujud kalimat kompleks yaitu (1) kalimat kompleks dua klausa (2) kalimat kompleks tiga klausa (3) kalimat kompleks empat klausa (4) kalimat kompleks lima klausa (5) kalimat kompleks enam klausa dan (6) kalimat kompleks tujuh klausa. Jenis kalimat kompleks yaitu (1) kalimat kompleks setara (2) kalimat kompleks bertingkat dan (3) kalimat kompleks campuran. Pertama kalimat kompleks setara terdapat empat jenis yaitu (a) kalimat kompleks setara gabungan (b) kalimat kompleks setara perlawanan (c) kalimat kompleks setara pertentangan dan (d) kalimat kompleks setara pemilihan. Kedua kalimat kompleks bertingkat sejumlah tujuh jenis yaitu (a) hubungan atribut (b) hubungan waktu (c) hubungan syarat (d) hubungan tujuan (e) hubungan sebab (f) hubungan cara dan (g) hubungan alat. Ketiga kalimat kompleks campuran yang ditemukan berupa perpaduan konjungsi setara dan konjungsi bertingkat yaitu (a) konjungsi setara/koordinatif dan konjungsi bertingkat/subordinatif dan (b) konjungsi bertingkat/subordinatif dengan konjungsi setara/koordinatif. Pola kalimat kompleks yaitu (1) kalimat kompleks setara (2) kalimat kompleks bertingkat dan (3) kalimat kompleks campuran.Pertama pola kalimat kompleks setara mengacu pada klausa inti berpola (a) subjek (S) (b) predikat (P) (c) objek (O) (d) Pelengkap (Pel) dan (e) Keterangan (Ket). Kedua lima pola kalimat kompleks bertingkat yaitu (a) perluasan subjek (S) (b) perluasan predikat (P) (c) perluasan objek (O) dan (d) perluasan keterangan (Ket). Ketiga pola kalimat kompleks campuran memiliki dua variasi pola yaitu (a) pola kalimat kompleks campuran (setara dengan bertingkat) dan (b) pola kalimat kompleks campuran (bertingkat dengan setara). Kekhasan karakteristik kalimat kompleks karangan cerita fantasi siswa kelas VII yaitu kalimat kompleks setara menggunakan konjungsi koordinatif kalmat kompleks bertingkat menggunakan konjungsi subordinatif dan kalimat kompleks campuran menggunakan perpaduan konjungsi subordinatif dan koordinatif. Karakteristik lain karangan cerita fantasi siswa kelas VII terdapat gejala penambahan perapatan dan perluasan fungsi subjek (S) predikat (P) objek (O) pelengkap (Pel) atau keterangan (Ket). Penambahan sebagai pengulangan Pengulangan yang dominan terjadi pada fungsi subjek yang sama sehingga kemungkinan muncul dua sampai tiga kali. Perapatan dan perluasan fungsi subjek (S) predikat (P) objek (O) pelengkap (Pel) atau keterangan (Ket) dilakukan dengan cara menghilangkan/ellipsis salah satu konstituen yang sama pada fungsi subjek (S) predikat (P) objek (O) pelengkap (Pel) atau keterangan (Ket).