Skripsi
Perilaku sosial masyarakat penghobi burung pleci di Desa Sukosewu Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar / Agung Setio Wicaksono
Abstrak
ABSTRAK Putri Intan Cahyani. 2017. Interaksi Keaktifan Siswa dengan Penerapkan Model Pembelajaran Talking Chips dan Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Dasar Jaringan Komputer pada Siswa Kelas X di SMKN Winongan Pasuruan. Program Studi S1 Pendidikan Teknik Informatika Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Setiadi Cahyono P. Mpd. M.T (II) Drs. Suwasono M.T ABSTRAK Wicaksono Agung Setio . 2017 . Perilaku Sosial Masyarakat Penghobi Burung Pleci Di Desa Sukosewu Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Skripsi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Suparlan Al Hakim M.Si (II) Siti Awaliyah S.Pd M.Hum Kata kunci Kehidupan sosial Penghobi burung Pleci Konsumtif Perilaku sosial Manusia merupakan makhluk sosial yang bermasyarakat. Manusia mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan di dalam kehidupan bermasyarakat tentunya. Kebiasaan-kebiasaan itu kemudian menjadi kebudayaan yang dilakukan oleh manusia dalam masyarakat. Manusia sebagai unsur penting dalam terciptanya suatu budaya. Hal itu dipengaruhi oleh pemikiran manusia yang selalu berkembang. Sebagai contohnya kebiasaan masyarakat di Desa Sukosewu Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar tentang hobinya dalam burung pleci maka diperlukan penelitian mengenai perilaku sosial masyarakat penghobi burung pleci di Desa Sukosewu Kecamatan Gandusari Blitar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan beberapa hal mencangkup kebiasaan perilaku sosial nilai-nilai sossial yang ada di masyarakat khususnya pada penghobi burung pleci. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa penjelasan-penjelasan mengenai berbagai kegiatan yang diselenggarakan di desa Sukosewu Gandusari Blitar. Pengumpulan data menggunakan metode observasi wawancara dan dokumentasi serta diperkuat dengan literatur. Berdasarkan hasil analisa data yang dilakukan diperoleh tiga simpulan sebagai berikut. Pertama Pandangan masyarakat terhadap penghobi burung pleci di Desa Sukosewu Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar memandang dengan adanya penghobi burung pleci dapat digunakan sebagai mata pencaharian tambahan. Kedua Ragam burung pleci yang digemari masyarakat di Desa Sukosewu beragam jenisnya hal ini disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat untuk memelihara jenis burung pleci yang disukai untuk dijadikan burung kicau kelas perlombaan. Ketiga Perilaku sosial masyarakat penghobi burung pleci di Desa Sukosewu mayoritas memiliki kegemaran yang berlebihan terhadap burung pleci mereka rela menghabiskan waktu untuk berkumpul dan membahas masalah yang terjadi pada burung pleci. Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara pendidik dan peserta didik pada lingkungan belajar. Guru yang diperlukan siswa adalah guru yang mempersiapkan strategi kreatif dan inovatif dalam pembelajaran dengan cara pemilihan model pembelajaran yang tepat. Salah satu model yang dapat diterapkan yaitu model pembelajaran Talking Chips dan Discovery Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) deskripsi hasil belajar siswa yang dipengaruhi oleh interaksi keaktifan dan penerapan model pembelajaran pada Jaringan Dasar kelas X TKJ di SMKN Winongan Pasuruan (2) interaksi antara keaktifan siswa dengan model pembelajaran terhadap hasil belajar Jaringan Dasar kelas X TKJ di SMKN Winongan Pasuruan (3) signifikan perbedaan faktor keaktifan siswa dengan penerapan model terhadap hasil belajar siswa Jaringan Dasar kelas X TKJ di SMKN Winongan dan (4) perbedaan yang paling signifikan antara faktor keaktifan dan penerapan model pembelajaran. Terdapat empat kelompok eksperimen pada penelitian ini yaitu kelompok keaktifan tinggi dengan penerapan model Talking Chips (TC 1) keaktifan rendah dengan penerapan model Talking Chips(TC 2) keaktifan tinggi dengan penerapan model Discovery Learning (DL 2) dan keaktifan rendah dengan penerapan model Discovery LearningI (DL 2). Rancangan penelitian ini menggunakan desain eksperimen faktorial 2x2. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji ANOVA dua jalur dan uji Post-Hoc Comparasion. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) nilai rata-rata hasil belajar siswa pada TC 1 sebesar 84 20 TC 2 sebesar 80 15 Dl 1 sebesar 82 33 DL 2 sebesar 80 52 (2) ada interaksi antara faktor keaktifan dengan penerapan model pembelajaran hal ini ditunjukan oleh probabilitas 0 019 yang dibawah taraf signifikansi 0 05 (3) ada perbedaan yang signifikan antar kelompok faktor keaktifan dan penerapan model dikarenakan nilai signifikansi yang didapat 0 000 yang jauh dari taraf signifikansi 0 05 (4) terdapat perbedaan pada empat kelompok faktor yang diujikan yaitu TC 1 dan TC 2 TC 1 dan DL 1 TC 1 dan DL 2 TC 2 dan DL 1. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kelompok siswa keaktifan tinggi dengan penerapan model pembelajaran Talking Chips dan kelompok siswa keaktifan rendah dengan penerapan model pembelajaran Discovery Learning yang memiliki perbedaan paling signifikan diantara beberapa kelompok eksperimen yang diujikan. ABSTRAK Putri Intan Cahyani. 2017. Interaksi Keaktifan Siswa dengan Penerapkan Model Pembelajaran Talking Chips dan Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Dasar Jaringan Komputer pada Siswa Kelas X di SMKN Winongan Pasuruan. Program Studi S1 Pendidikan Teknik Informatika Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Setiadi Cahyono P. Mpd. M.T (II) Drs. Suwasono M.T ABSTRAK Wicaksono Agung Setio . 2017 . Perilaku Sosial Masyarakat Penghobi Burung Pleci Di Desa Sukosewu Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Skripsi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Suparlan Al Hakim M.Si (II) Siti Awaliyah S.Pd M.Hum Kata kunci Kehidupan sosial Penghobi burung Pleci Konsumtif Perilaku sosial Manusia merupakan makhluk sosial yang bermasyarakat. Manusia mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan di dalam kehidupan bermasyarakat tentunya. Kebiasaan-kebiasaan itu kemudian menjadi kebudayaan yang dilakukan oleh manusia dalam masyarakat. Manusia sebagai unsur penting dalam terciptanya suatu budaya. Hal itu dipengaruhi oleh pemikiran manusia yang selalu berkembang. Sebagai contohnya kebiasaan masyarakat di Desa Sukosewu Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar tentang hobinya dalam burung pleci maka diperlukan penelitian mengenai perilaku sosial masyarakat penghobi burung pleci di Desa Sukosewu Kecamatan Gandusari Blitar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan beberapa hal mencangkup kebiasaan perilaku sosial nilai-nilai sossial yang ada di masyarakat khususnya pada penghobi burung pleci. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa penjelasan-penjelasan mengenai berbagai kegiatan yang diselenggarakan di desa Sukosewu Gandusari Blitar. Pengumpulan data menggunakan metode observasi wawancara dan dokumentasi serta diperkuat dengan literatur. Berdasarkan hasil analisa data yang dilakukan diperoleh tiga simpulan sebagai berikut. Pertama Pandangan masyarakat terhadap penghobi burung pleci di Desa Sukosewu Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar memandang dengan adanya penghobi burung pleci dapat digunakan sebagai mata pencaharian tambahan. Kedua Ragam burung pleci yang digemari masyarakat di Desa Sukosewu beragam jenisnya hal ini disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat untuk memelihara jenis burung pleci yang disukai untuk dijadikan burung kicau kelas perlombaan. Ketiga Perilaku sosial masyarakat penghobi burung pleci di Desa Sukosewu mayoritas memiliki kegemaran yang berlebihan terhadap burung pleci mereka rela menghabiskan waktu untuk berkumpul dan membahas masalah yang terjadi pada burung pleci. Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara pendidik dan peserta didik pada lingkungan belajar. Guru yang diperlukan siswa adalah guru yang mempersiapkan strategi kreatif dan inovatif dalam pembelajaran dengan cara pemilihan model pembelajaran yang tepat. Salah satu model yang dapat diterapkan yaitu model pembelajaran Talking Chips dan Discovery Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) deskripsi hasil belajar siswa yang dipengaruhi oleh interaksi keaktifan dan penerapan model pembelajaran pada Jaringan Dasar kelas X TKJ di SMKN Winongan Pasuruan (2) interaksi antara keaktifan siswa dengan model pembelajaran terhadap hasil belajar Jaringan Dasar kelas X TKJ di SMKN Winongan Pasuruan (3) signifikan perbedaan faktor keaktifan siswa dengan penerapan model terhadap hasil belajar siswa Jaringan Dasar kelas X TKJ di SMKN Winongan dan (4) perbedaan yang paling signifikan antara faktor keaktifan dan penerapan model pembelajaran. Terdapat empat kelompok eksperimen pada penelitian ini yaitu kelompok keaktifan tinggi dengan penerapan model Talking Chips (TC 1) keaktifan rendah dengan penerapan model Talking Chips(TC 2) keaktifan tinggi dengan penerapan model Discovery Learning (DL 2) dan keaktifan rendah dengan penerapan model Discovery LearningI (DL 2). Rancangan penelitian ini menggunakan desain eksperimen faktorial 2x2. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji ANOVA dua jalur dan uji Post-Hoc Comparasion. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) nilai rata-rata hasil belajar siswa pada TC 1 sebesar 84 20 TC 2 sebesar 80 15 Dl 1 sebesar 82 33 DL 2 sebesar 80 52 (2) ada interaksi antara faktor keaktifan dengan penerapan model pembelajaran hal ini ditunjukan oleh probabilitas 0 019 yang dibawah taraf signifikansi 0 05 (3) ada perbedaan yang signifikan antar kelompok faktor keaktifan dan penerapan model dikarenakan nilai signifikansi yang didapat 0 000 yang jauh dari taraf signifikansi 0 05 (4) terdapat perbedaan pada empat kelompok faktor yang diujikan yaitu TC 1 dan TC 2 TC 1 dan DL 1 TC 1 dan DL 2 TC 2 dan DL 1. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kelompok siswa keaktifan tinggi dengan penerapan model pembelajaran Talking Chips dan kelompok siswa keaktifan rendah dengan penerapan model pembelajaran Discovery Learning yang memiliki perbedaan paling signifikan diantara beberapa kelompok eksperimen yang diujikan.