Skripsi
Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 21 Malang pada materi segiempat dan segitiga / Ivy Masyita
Abstrak
ABSTRAK Masyita Ivy. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMPN 21 Malang Pada Materi Segiempat dan Segitiga. Skripsi Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Slamet M.Si. Kata Kunci model pembelajaran jigsaw hasil belajar. Hasil observasi awal di kelas VII.8 SMP Negeri 21 Kota Malang menunjukkan bahwa hasil belajar matematika tersebut masih tergolong rendah. Hal ini ditunjukkan oleh nilai pre-test siswa yaitu hanya 46 6% siswa yang nilainya tuntas atau memenuhi KKM yang ditentukan. Selain itu dari fakta di lapangan diketahui bahwa model pembelajaran yang digunakan oleh guru masih belum bervariasi sehingga berdampak bagi hasil belajar siswa yang masih rendah. Oleh karena itu diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa salah satunya yaitu pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam dua siklus dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran kooperatif model Jigsaw yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi segiempat dan segitiga kelas VII SMP Negeri 21 Malang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 21 Malang pada materi segiempat dan segitiga adalah sebagai berikut. (1) pembentukan kelompok yang dilakukan oleh guru (2) pembagian materi. Pada materi segiempat terdapat 6 jenis segiempat. Dalam satu kelompok 6 jenis segiempat dibagi menjadi 3 yang dibedakan dengan lembar kerja siswa dengan 3 warna yang berbeda yaitu merah kuning dan hijau. Setiap siswa dalam satu kelompok asal mendapatkan lembar kerja siswa yang berbeda yang artinya mendapat materi yang berbeda sesuai dengan warna lembar kerja siswa begitu juga dengan materi segitiga (3) diskusi kelompok ahli (4) diskusi kelompok asal (5) presentasi kelas (6) kuis/tes akhir. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa persentase banyaknya siswa yang memperoleh nilai akhir lebih dari atau sama dengan 75 mengalami peningkatan yaitu 46 6% pada saat pre-test dan meningkat menjadi 63 3% pada akhir siklus I. Penelitian dilanjutkan ke siklus II karena belum mencapai kriteria keberhasilan. Persentase tersebut kembali meningkat menjadi 86 7% pada akhir siklus II. Peningkatan ini didukung oleh taraf keterlaksanaan proses pembelajaran yang dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas siswa dan guru yang menunjukkan kategori Baik pada siklus I dan kategori Sangat Baik pada siklus II.