Skripsi
Taboo in erotic English and Indonesian tweets / Raadhiyah Mardiyyah
Abstrak
ABSTRAK Mardiyyah Raadhiyah. 2017. Taboo in Erotic English and Indonesian Tweets. Sarjana s Thesis English Department Faculty of Letters State University of Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Yazid Basthomi M.A (II) Drs. Arif Subiyanto M.A. Keywords taboo erotic tweets twitter Indonesian English Tabu merupakan fenomena sosiolinguistik yang terjadi sehari-hari. Penelitian ini mengangkat isu tersebut dengan menjadikan tweet erotis sebagai objek penelitian yang membandingan kata tabu antara akun Bahasa Inggris dan Indonesia yang menulis genretweet yang sama. Tujuan penelitian ini adalah mencari tahu tipe-tipe tabu kesamaan dan perbedaan dari keduanya dalam dua akun twitter tersebut. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif peneliti mengambil 40 puisi twitter dari tiap akun dengan cara random sampling. Peneliti menemukan bahwa ada dua tipe eksplisit tabudi akun bahasa Inggris dan akun bahasa Indonesia diantaranya aktivitas seks dan organ vital. Akun bahasa Inggris menulis 28 kata sedangkanakun bahasaIndonesia menyebut 30 kata tabu. Presentase penyebutan kata tabu di akun bahasa Inggris adalah aktifitas seks (89 %) dan organ vital (11 %) sedangkan di akun bahasa Indonesia aktifitas seks (37 %)dan organ vital (63 %). Selain itu ditemukan juga tipe-tipe implisit tabu di kedua akun twitter di akun berbahasa Inggris metafora (57 %) hiperbol (14 %) circumlocution (22%) and simile (7 %) sedangkan akun berbahasa Indonesia metaphor (26 %) hyperbole (43%) circumlocution (13%) part for whole (9%)and personification (9%). Total jumlah kata implisit tabu di akun bahasa Indonesia adalah 23 sedangkan akun bahasa inggris adalah 14 kata. Dari analisis ditemukan juga beberapa kesamaan dan perbedaan berkaitan dengan penggunaan implisit dan eksplisit tabu. Persaamannya adalah keduanya menyebut kata tabu yang sama lebih banyak menyebut kata eksplisit tabu mengaplikasikan majas juga membahas secara tidak langsung kata seperti seks dan organ seks. Hal tersebut terjadi karena tabu adalah fenomena yang universal dan juga admin menulis tweet dengan genre yang sama. Meskipun begitu ada beberapa perbedaan juga yang ditemukan diantaranya akun bahasa Inggris tidak menyebutkan organ vital tetapi akun bahasa Indonesia menyebut organ genital dan tweetnya bisa dikatakan lebih vulgar jika dibandingkan dengan akun bahasa Inggris tetapi akun bahasa Indonesia ternyata lebih banyak menyabutkan implisit tabu. Peneliti menyimpulkan bahwa perbedaan yang terjadi karena adanya perbedaan misi dari admin. Sedangkan merujuk pada data analisis yang dibuat akun berbahasa Indonesia cenderung menulis tweet yang liar dan vulgar. Sedangkan akun berbahasa inggris lebih banyak menggunakan kata-kata yang lebih implisitmeski tema puisi keduanya adalah erotis