Skripsi
Analisis miskonsepsi siswa kelas V A melalui soal matematika geometri di SD Negeri Kanigoro 04 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar / Nita Masrurin
Abstrak
i RINGKASAN Masrurin Nita. 2018. Analisis Miskonsepsi Siswa Kelas V A melalui Soal Matematika Geometri di SD Negeri Kanigoro 04 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Skripsi Prodi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Suhel Madyono S.Pd. M.Pd. (II) Yuniawatika S.Pd. M.Pd. Kata Kunci miskonsepsi geometri sekolah dasar Miskonsepsi atau kesalahan konsep menunjuk pada suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengetian yang diterima para pakar dalam bidang itu. Dari hasil penelitian terdahulu siswa mengalami 3 jenis miskonsepsi yaitu miskonsepsi klasifikasional korelasional dan teoritikal. Berdasarkan hasil nilai Ulangan Harian (UH) kelas V A menunjukkan bahwa nilai UH matematika lebih rendah daripada nilai UH mata pelajaran yang lain. Berdasarkan wawancara dengan guru siswa lebih sukar memahami konsep matematika karena pada hakikatnya sebagai ilmu deduktif aksiomatis yang bersifat abstrak khususnya pada materi geometri bangun ruang. Bangun ruang erat kaitannya dengan volume anak lebih sukar memahami materi volume bangun ruang apabila bentuk soal cerita. Tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan miskonsepsi siswa kelas V A SD Negeri Kanigoro 04 melalui soal matematika geometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami miskonsepsi pada jenis miskonsepsi teoritikal korelasional dan klasifikasional. Pada jenis miskonsepsi teoritikal siswa mengalami miskonsepsi pada 3 indikator. Pada indikator (1) mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang persentase tertinggi siswa mengalami miskonsepsi yakni 61 9%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa paling banyak mengalami miskonsepsi pada jenis miskonsepsi teoritikal. Pada indikator (2) menghitung volume balok dan kubus persentase siswa mengalami miskonsepsi yakni 9 5%. Pada indikator (3) menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan volume balok dan kubus persentase siswa yang mengalami miskonsepsi 23 8%. Pada jenis miskonsepsi korelasional siswa mengalami pada 3 indikator yakni indikator (1) persentase siswa yang mengalami miskonsepsi 9 6%. Pada indikator (2) persentase tertinggi siswa mengalami miskonsepsi yakni 23 8%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa paling banyak mengalami miskonsepsi pada jenis miskonsepsi korelasional. Pada indikator (3) persentase siswa yang mengalami miskonsepsi 47 6%. Pada jenis miskonsepsi klasifikasional siswa hanya mengalami miskonsepsi pada indikator (1) dengan persentase 19%. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan siswa kelas V A masih banyak yang mengalami miskonsepsi. Adanya miskonsepsi yang dialami siswa perlu adanya perbaikan dalam proses pembelajaran.