Skripsi
Implementasi metode Analitic Network Process (ANP) dalam pemilihan program alternatif terbaik sebagai strategi peningkatan jumlah wisatawan (studi di Bappelitbangda dan Dispubdar Kota Batu) / Moch Rizki Wahyu Firdaus
Abstrak
Firdaus Moch Rizki Wahyu. 2018. Implementasi Metode Analytic Network Process (ANP) dalam Pemilihan Program Alternatif Terbaik Sebagai Strategi Peningkatan Jumlah Wisatawan (Studi di Bappelitbangda dan Disbudpar Kota Batu). Skripsi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Imam Mukhlis S.E. M.Si. Kata Kunci strategi program wisatawan analytic network process Kota Batu merupakan salah satu kota yang ada di Jawa Timur yang terbentuk pada tahun 2001 sebagai pemekaran dari kabupaten Malang. Sebelumnya wilayah kota Batu merupakan bagian dari Sub Satuan Wilayah Pengembangan 1 (SSWP 1) Malang Utara. Kota Batu merupakan daerah otonom yang termuda di Provinsi Jawa Timur. Sektor pariwisata merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) terbesar selain sektor pertanian di kota Batu. Dengan kontur topografi pegunungan dan perbukitan menjadikan kota Batu terkenal sebagai kota yang dingin. Suhu di kota Batu relatif lebih rendah dibanding di daerah sekitarnya sehingga menjadikan kota Batu lebih sejuk dan sangat nyaman untuk dijadikan sebagai tempat berlibur. Melihat potensi ini walikota melalui visi nya mendorong sektor pariwisata di kota Batu. Banyak program pariwisata dibuat untuk menarik wisatawan agar berkunjung di kota Batu. Sehingga banyak destinasi wisata yang bisa kita temui dan kunjungi di kota Batu saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan program alternatif terbaik yang merupakan strategi peningkatan jumlah wisatawan di kota Batu. Penelitian ini menggunakan metode Analytic Network Process (ANP) sebagai metode analisis utama. Dalam penelitian ini diketahui bahwa terdapat tiga program alternatif untuk meningkatkan jumlah wisatawan di kota Batu yaitu program percepatan project desa wisata pembangunan obyek dan wahana wisata baru serta promosi wisata. Adapun kriteria dalam memilih program terbaik terdiri dari empat kriteria utama yaitu sosial ekonomi lingkungan dan kemitraan yang positif. kriteria tersebut di spesifikasikan menjadi 10 subkriteria yaitu pemberdayaan masyarakat kelembagaan pertumbuhan efisiensi investasi potensi SDA kelestarian alam kemitraan positif dengan masyarakat kemitraan positif dengan swasta dan kemitraan positif dengan pemerintah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kriteria kemitraan yang positif bersama dengan kriteria sosial menjadi kriteria prioritas dengan sama-sama memiliki bobot tertinggi yaitu sebesar 0 38915. Kemudian subkriteria pemberdayaan masyarakat menjadi subkriteria prioritas dengan bobot akhir sebesar 0 171693. Serta program percepatan project desa wisata terpilih sebagai program peningkatan jumlah wisatawan terbaik dengan memperoleh bobot sebesar 0 326176 yang merupakan nilai bobot tertinggi dibandingkan dua program alternatif lainnya.