Skripsi
Kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan (studi kasus di SMP Negeri 10 Malang) / Noer Rizki Lailatul Azmi
Abstrak
RINGKASAN Azmi Noer Rizki Lailatul. 2018. Kepemimpinan Ekologis Kepala Sekolah dalam Pembentukan Sekolah Berbudaya Lingkungan (Studi Kasus di SMP Negeri 10 Malang). Skripsi Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Ahmad Yusuf Sobri S.Sos M.Pd. (II) Ahmad Nurabadi M.Pd. Kata Kunci kepemimpinan ekologis sekolah berbudaya lingkungan lingkungan ekologis Kepemimpinan ekologis merupakan seperangkat daya kepemimpinan yang memiliki kepedulian lingkungan terhadap penyelamatan dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Penerapan kepemimpinan ekologis tidak lain sebagai bentuk responsif kepala sekolah terhadap kondisi krisis ekologi lingkungan yang diimplementasikan melalui pembentukan sekolah berbudaya lingkungan. Sekolah berbudaya lingkungan tidak lain merupakan hasil dari serangkaian kegiatan sekolah berbasis lingkungan serta budaya sekolah berbasis lingkungan dengan penginternalisasian nilai-nilai peduli lingkungan. Oleh karenanya pembentukan sekolah berbudaya lingkungan ditujukan pada pembentukan generasi berwawasan lingkungan dan lingkungan sekolah yang ekologis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan di SMP Negeri 10 Malang yang meliputi (1) karakteristik kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan (2) strategi kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan (3) peran kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan (4) dampak kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan (5) faktor pendukung kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan (6) faktor penghambat kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan dan (7) solusi terhadap faktor penghambat kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus untuk memperoleh data deskriptif secara alamiah komprehensif dan intensif. Pemilihan jenis studi kasus didasarkan atas adanya penemuan kasus yang unik yaitu penerapan kepemimpinan ekologis kepala sekolah yang concern terhadap penyelamatan dan pelestarian fungsi lingkungan hidup melalui pembentukan sekolah berbudaya lingkungan hingga melahirkan karakteristik khas sekolah baik dalam bentuk prestasi maupun budaya sekolah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara observasi dan dokumentasi. Dalam pengumpulan data peneliti berperan sebagai key instrument dan kepala sekolah sebagai key informan. Analisis data dilakukan selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Secara interaktif kegiatan analisis data ini dilakukan dengan serangkaian proses reduksi data display data dan verifikasi data. Setelah diperolehnya data penelitian dilakukan pengecekan keabsahan data melalui uji kredibilitas dengan metode triangulasi pengecekan anggota dan kecukupan bahan referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) karakteristik kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan tercermin dari adanya mindset kesadaran lingkungan integritas penyelamatan dan pelestarian fungsi lingkungan hidup inovasi sarana pendukung ramah lingkungan dan sikap ajeg peduli lingkungan (2) strategi kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan meliputi penerapan win-win solution komunikasi kolektif kolegial pendekatan humanity dan menjaga komitmen (3) peran kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan ditunjukkan dengan adanya kepala sekolah sebagai educator manager inovator motivator dan figur (4) dampak kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan terdiri dari tiga jenis yaitu (a) dampak terhadap siswa (seperti terbentuknya sikap peduli lingkungan) (b) dampak terhadap personil sekolah (seperti meningkatnya pola hidup bersih dan sehat) (c) dampak terhadap lembaga (seperti terbentuknya lingkungan sekolah yang ekologis dan perolehan prestasi di bidang lingkungan) (5) faktor pendukung kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan yaitu kebijakan sekolah berwawasan lingkungan peran serta stakeholders sekolah dan sumber daya alam sekolah (6) faktor penghambat kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan terdiri dari dua jenis yaitu (a) faktor penghambat internal (hambatan berasal dari siswa guru personil sekolah dan dana sekolah) dan (b) faktor penghambat eksternal (hambatan berasal dari masyarakat dan pedagang kaki lima yang menjual jajanan zat aditif) dan (7) solusi terhadap faktor penghambat kepemimpinan ekologis kepala sekolah dalam pembentukan sekolah berbudaya lingkungan yaitu (a) solusi untuk hambatan internal (seperti senantiasa mengedukasi siswa tentang PLH) dan (b) solusi untuk hambatan eksternal (seperti merangkul orang tua siswa untuk ikut mengontrol perilaku siswa di luar sekolah). Berdasarkan hasil temuan penelitian tersebut peneliti memberi saran kepada (1) Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang diharapkan dapat mengeluarkan kebijakan terkait standar sekolah berbudaya lingkungan (2) Kepala SMP Negeri 10 Malang diharapkan dapat meningkatkan penerapan kepemimpinan ekologisnya untuk mengembangkan karakteristik dan prestasi sekolah di bidang lingkungan (3) Tim Adiwiyata SMP Negeri 10 Malang diharapkan dapat meningkatkan integritasnya dalam mengawal kebijakan sekolah (4) Guru SMP Negeri 10 Malang diharapkan dapat meningkatkan peran sertanya dalam kegiatan sekolah berbasis lingkungan (5) Ketua Jurusan Adminisrasi Pendidikan diharapkan formulasi kepemimpinan ekologis dapat menjadi bahan referensi dalam pengembangan ilmu kepemimpinan kepala sekolah terutama pada pembentukan sekolah berbudaya lingkungan dan (6) Peneliti lain diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian yang sejenis secara mendalam terutama terkait pengaruh sekolah berbudaya lingkungan terhadap pembentukan eco life skill pada diri siswa baik pada latar objek yang sama maupun latar objek yang berbeda.