Skripsi
Keterbacaan Materi Sastra pada Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas X, XI, dan XII Edisi Revisi Terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan / Ajeng Kristina Anggraini
Abstrak
RINGKASAN Anggraini Ajeng Kristina. 2018. Keterbacaan Materi Sastra pada Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas X XI dan XII Edisi Revisi Terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Skripsi Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Roekhan M.Pd. Kata Kunci buku teks bahasa Indonesia keefektifan kalimat dan keefektifan paragraf. Buku teks merupakan salah satu wujud bahan ajar yang penting dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah sebagai sumber penyedia bahan atau materi yang akan dipelajari baik bagi peserta didik maupun pendidik. Buku teks yang digunakan pada jenjang SMA adalah Bahasa Indonesia Kelas X XI dan XII Edisi Revisi Terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini berupa penjelasan materi yang berkaitan dengan contoh teks sastra uraian konsep dan latihan berdasarkan kompetensi pada buku teks Bahasa Indonesia Kelas X XI dan XII Edisi Revisi Terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Instrumen yang digunakan diadaptasi dari buku Penyusunan dan Pengembangan Paragraf oleh Ahmadi dan Kalimat Efektif oleh Putrayasa. Analisis data penelitian dilaksanakan dengan cara (1) pengklasifikasian data (2) menganalisis keefektifan kalimat dan paragraf dan (3) mendeskripsikan data yang diperoleh dari setiap materi. Berdasarkan hasil penelitian dikemukakan dua simpulan sebagai berikut. Pertama pada tataran kalimat BTBI 1 indikator kesatuan kalimat memiliki tingkat keterbacaan tinggi indikator kehematan memiliki tingkat keterbacaan sedang dan indikator penekanan kalimat memiliki tingkat keterbacaan tinggi. BTBI 2 indikator kesatuan kalimat memiliki tingkat keterbacaan tinggi indikator kehematan memiliki tingkat keterbacaan rendah dan indikator penekanan kalimat memiliki tingkat keterbacaan tinggi. BTBI 3 indikator kesatuan kalimat memiliki tingkat keterbacaan tinggi indikator kehematan memiliki tingkat keterbacaan sedang dan indikator penekanan kalimat memiliki tingkat keterbacaan sedang. Kedua pada tataran paragraf BTBI 1 indikator kesatuan (unity) memiliki tingkat keterbacaan tinggi indikator koherensi memiliki tingkat keterbacaan sedang dan indikator penekanan (emphasis) memiliki tingkat keterbacaan sedang. BTBI 2 indikator kesatuan (unity) memiliki tingkat keterbacaan tinggi indikator koherensi memiliki tingkat keterbacaan tinggi dan indikator penekanan (emphasis) memiliki tingkat keterbacaan tinggi. BTBI 3 indikator kesatuan (unity) memiliki tingkat keterbacaan tinggi indikator koherensi memiliki tingkat keterbacaan sedang dan indikator penekanan (emphasis) memiliki tingkat keterbacaan sedang. Berdasarkan hasil simpulan yang telah dipaparkan saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut. Pertama bagi pengembang buku teks hendaknya dapat memperbaiki indikator-indikator dalam tataran kalimat dan paragraf yang memiliki tingkat keterbacaan rendah. Di antaranya dengan melakukan penataaan kembali pada kalimat yang memiliki kata penghubung banyak dan mengubah kalimat majemuk menjadi kalimat yang lebih pendek dan sederhana. Kedua bagi pendidik hendaknya memperhatikan keterbacaan buku vii teks yang digunakan sebagai salah satu sumber belajar. Perhatian lebih sebaiknya diberikan pendidik pada teks yang memiliki tingkat keterbacaan sedang. Pendidik dapat membimbing peserta didik agar dapat memahami dan mencerna indikatorindikator dalam tataran kalimat dan paragraf yang memiliki tingkat keterbacaan rendah. Ketiga bagi peneliti lain hendaknya melakukan penelitian sejenis dengan variabel berbeda misalnya menggunakan alat ukur keterbacaan yang lain.