Skripsi
Studi kasus coping stress siswa SMAN 4 Bangkalan / Mahmudatus Hoiriyah
Abstrak
i RINGKASAN Hoiriyah Mahmudatus. 2018. Studi Kasus Coping stress Siswa SMAN 4 Bangkalan. Skripsi Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Carolina Ligya Radjah M.Kes. dan (II) Irene Maya Simon S.Pd. M.Pd Kata kunci stres stressor coping stress Siswa SMA berada di masa remaja yaitu masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa. Siswa SMA memiliki tugas yang cukup berat karena mereka akan menghadapi serangkaian tuntutan dan tugas yang dibebankan kepadanya baik oleh keluarga sekolah maupun lingkungan sosialnya disamping dirinya sendiri juga memiliki keinginan dan harapan. Bila tugas dan tuntutan tersebut tidak terpenuhi atau melebihi kemampuan diri untuk menyelesaikannya hal tersebut dapat membuat stres. Stres tidak dapat dibiarkan terus menerus maka dari itu perlu adanya coping untuk mengatasi atau menguranginya. Penelitian ini bertujan untuk mengetahui dan mendeskripsikan mengenai coping stress siswa SMAN 4 Bangkalan. Untuk mengetahui coping stress dideskripsikan terlebih dahulu mengenai stressor dan jenis stres yang dialami siswa. Peneltian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 5 orang siswa-siswi SMAN 4 Bangkalan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah stressor yang dialami siswa terjadi yaitu ditinggalkan Ayah dari kecil dan perjodohan. Sedangkan stressor satunya berupa dari peristiwa sehari hari seperti orang tua melarang anaknya bermain jauh dari rumah dan konflik antar teman. Jenis stres yang ditemukan ada dua yaitu stres positif dan stres negatif. Terdiri dari 2 orang mengalami stres positif dan 3 orang mengalami stres negatif. Strategi coping stress yang dialami siswa terdiri dari coping berfokus pada masalah dan coping berfokus pada emosi. Siswa menggunakan lebih dari satu jenis coping untuk mengatasi tekanannya.coping yang dilakukan siswa berupa perencaan pemecahan solusi konfrontasi mencari dukungan sosial pengendalian diri bertanggung jawab penilaian posisitf melarikan diri dari masalah. Penemuan data juga berkaitan dengan unsur budaya Madura karena salah satu stressor yaitu perjodohan adalah budaya Madura. Maka peran BK multikultural sangat diperlukan dalam pemberian layanan untuk menjembatani siswa memilih coping stress yang tepat untuknya. Kesimpulannya bahwa stres siswa SMAN 4 Bangkalan terjadi akibat adanya stressor berupa suatu peristiwa yang dialami oleh mereka. Stres tersebut bisa menjadi stres positif ataupun negatif tergantung bagaimana siswa menyikapinya. Strategi coping stress sangat diperlukan untuk membantu siswa mengurangi atau menghilangkan tekanan yang dirasakanya. Konselor harus mampu menjembatani pelayanan BK multikultural dengan memahami budaya konselinya. Saran diharapkan konselor mampu membantu peserta didik memilih coping stress mana yang sesuai untuk penyelesaian masalahnya. Konselor diharapkan menguasai konseling multikultural dan dapat memperhatikan faktor budaya untuk kelancaran proses bantuan kepada peserta didik.