Skripsi
Optimalisasi pengaturan temperatur fluks pada pengelasan SAW terhadap hasil uji tarik dan uji bending untuk material SS400 / Aida Vita Laya Syafri
Abstrak
v RINGKASAN Syafri Aida Vita Laya. 2019. Optimalisasi Pengaturan Temperatur Fluks Pada Pengelasan SAW Terhadap Hasil Uji Tarik dan Uji Bending Untuk Material SS400 . Skripsi Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Abdul Qolik M.M. M.Pd. (II) Drs. H. Solichin S.T. M.Kes. Kata Kunci pengelasan SAW variasi temperatur fluks uji tarik dan uji bending material SS400. Submerged Arc Welding (SAW) atau yang lebih dikenal dengan sebutan pengelasan busur terendam merupakan salah satu jenis teknik pengelasan yang banyak digunakan dalam dunia industri khususnya pada pengelasan baja konstruksi. Salah satu bahan yang lazim digunakan dalam konstruksi adalah baja SS400. Material SS400 sebagian besar digunakan dalam produksi perpipaan seperti pada pembuatan pipa pancang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa nilai temperatur optimal fluks pada pengelasan SAW terhadap hasil uji tarik dan uji bending untuk material SS400. Penelitian ini menggunakan desain penelitian pre experimental metode one shot case study dengan variasi temperatur fluks 100 C 120 C dan 150 C sebagai variabel bebas dan hasil kekuatan tarik dan uji bending sebagai variabel terikat. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan proses pengelasan SAW. Analisis deskriptif meliputi penjelasan hasil uji kekuatan tarik dan hasil uji bending. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kekuatan tarik tertinggi adalah logam hasil pengelasan SAW dengan variasi temperatur fluks 150 C yakni 532 67 N/mm dengan jenis patahan ulet. Lalu di urutan ke dua adalah variasi temperatur fluks 120 C yakni 500 33 N/mm dengan jenis patahan campuran dan di urutan ke tiga adalah variasi temperatur fluks 100 C dengan nilai 488 67 N/mm dengan jenis patahan getas. Selain itu hasil uji uji bending menunjukkan hasil pengelasan SAW yang mengalami cacat retak paling sedikit adalah variasi temperatur fluks 150 C dengan hasil tidak ditemukan cacat lalu pada variasi temperatur fluks 100 C dan 120 C ditemukan masing-masing cacat retak baik pada root bending maupun face bending. Berdasarkan hasil penjelasan di atas dapat disimpulkan variasi temperatur fluks yang paling optimal dilihat dari nilai kekuatan tarik tertinggi dan hasil uji bending dengan jumlah cacat retak paling sedikit adalah variasi temperatur fluks 150 C.