Skripsi
Perbedaan hasil belajar peserta didik yang dibelajarkan dengan model pembelajaran think pair share (TPS) dan Student Team Achievement Divisions (STAD) pada materi hidrolisis garam / Ulfa Ni\'matush Sholihah
Abstrak
v RINGKASAN Sholihah Ulfa Ni matush. 2019. Perbedaan Hasil Belajar Peserta Didik yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada Materi Hidrolisis Garam. Skripsi. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh M.S. (II) Herunata S.Pd. M.Pd. Kata Kunci perbedaan hasil belajar TPS STAD hidrolisis garam Ilmu kimia merupakan ilmu yang didasarkan pada observasi dan eksperimen. Mempelajari ilmu kimia harus berurutan dan berjenjang karena konsepnya yang saling terkait satu sama lain sehingga dibutuhkan proses intelektual yang tinggi juga didukung oleh model pembelajaran yang sesuai agar mendapatkan hasil belajar yang baik. Pendidikan di Indonesia sesuai Permendikbud diharapkan untuk menerapkan pembelajaran aktif dan peran guru hanya sebagai fasilitator hal tersebut juga sesuai dengan teori belajar konstruktivisme. Kenyataan di lapangan dari beberapa penelitian juga wawancara peneliti dengan guru kimia MAN 5 Bojonegoro menunjukkan bahwa guru masih sering menggunakan metode ceramah sehingga pembelajaran masih berpusat pada guru. Salah satu materi yang dipelajari di tingkat SMA/MA yaitu hidrolisis garam yang materinya bersifat konseptual dan algoritmik. Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya juga wawancara peneliti di MAN 5 Bojonegoro didapatkan nilai ulangan harian hidrolisis garam peserta didik tahun 2017/2018 sebesar 64% masih di bawah SKM hal tersebut menunjukkan pemahaman materi hidrolisis garam di sekolah tersebut masih rendah. Rendahnya hasil belajar di sekolah tersebut dikarenakan guru masih dominan menggunakan metode ceramah sehingga peserta didik pasif dalam pembelajaran. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menerapkan pembelajaran yang dapat membuat peserta didik aktif. Salah satu pembelajaran aktif adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif memiliki macam-macam model namun peneliti memilih dua model pembelajaran yaitu TPS dan STAD. Kedua model memiliki kelebihannya masing-masing selain itu peran peserta didik dalam pembelajaran tidak lagi pasif karena peserta didik akan terlibat aktif dalam diskusi juga pembangunan sendiri pengetahuannya. Maka dari itu peneliti ingin melihat keterlaksanaan pembelajaran kedua model dan ada tidaknya perbedaan hasil belajar peserta didik yang dibelajarkan menggunakan TPS dan STAD. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu. Desain penelitian yang diterapkan adalah post test only control group. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MAN 5 Bojonegoro dengan subjek penelitian berjumlah 71 dengan rincian 36 peserta didik kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen 1 dan 35 peserta didik kelas XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen 2. Pengumpulan data melalui observasi dan tes hasil belajar kognitif. Teknik analisis data yang diterapkan adalah analisis deskriptif vi kualitatif dan kuantitatif. Teknik analisis data menggunakan uji-t untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara TPS dan STAD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) rata-rata persentase keterlaksanaan model pembelajaran TPS (90 9%) lebih tinggi daripada keterlaksanaan model pembelajaran STAD (87 6%) (2) terdapat perbedaan hasil belajar peserta didik yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran TPS dan STAD pada materi hidrolisis garam yang ditunjukkan oleh hasil uji hipotesis dengan nilai sig (0 012 0 050). Rata-rata nilai peserta didik yang dibelajarkan menggunakan TPS (85 34) lebih tinggi dari peserta didik yang dibelajarkan menggunakan STAD (80 40).