Skripsi
Analisis Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) terhadap industri kerajinan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Desa Damarjati Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan / Erry Jati Wibowo
Abstrak
Wibowo Erry Jati. 2019. Analisis Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) terhadap Industri Kerajinan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Desa Damarjati Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Hadi Sumarsono S.T. M.Si. Kata kunci Heksagonal Pengembangan Ekonomi Lokal Industri Kerajinan Alat Tenun Bukan Mesin Industri kerajinan Alat Tenun Bukan Mesin di Desa Damarjati Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat Desa Damarjati dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah bagi Kabupaten Pasuruan. Sehingga industri kerajinan Alat Tenun Bukan Mesin dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Damarjati Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan. Konsep Pengembangan Ekonomi Lokal memberikan peluang kepada masyarakat untuk menentukan pengelolaan sumber daya lokal baik Sumber Daya Manusia maupun Sumber Daya Alam sehingga menciptakan mata rantai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggunakan alat analisis Heksagonal Pengembangan Ekonomi Lokal melalui RALED (Rapid Assesment Technique for Local Economic Development). Sampel dalam penelitian ini adalah pengelola dari industri kerajinan Alat Tenun Bukan Mesin di Desa Damarjati Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan. Hasil temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi dari ke-enam dimensi Pengembangan Ekonomi Lokal yang terdiri dari dimensi Kelompok Sasaran dimensi Faktor Lokasi dimensi Kesinergian dan Fokus Kebijakan dimensi Pembangunan Berkelanjutan dimensi Proses Manajemen dan dimensi Tata Pemerintahan berada dalam kondisi yang baik. Dimensi yang memiliki nilai tertinggi adalah dimensi Pembangunan Berkelanjutan sebesar 75 34 sedangkan dimensi dengan nilai terendah adalah dimensi Kesinergian dan Fokus Kebijakan sebesar 53 06.