Skripsi
Hubungan antara faktor risiko diabetes mellitus yang dapat diubah dengan kejadian DM tipe 2 di Puskesmas Janti Kota Malang / Balqis Saroh Mahfudzoh
Abstrak
HUBUNGAN ANTARA FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS YANG DAPAT DIUBAH DENGAN KEJADIAN DM TIPE 2 DI PUSKESMAS JANTI KOTA MALANG Balqis Saroh Mahfudzoh Moch Yunus Suci Puspita Ratih Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang E-mail balqiz82 gmail.com Abstract Diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder caused by the pancreas not producing enough insulin or the body that can not use insulin produced effectively. Diabetes will usually appear when you have entered the vulnerable age 8805 45 years old who are overweight so that insulin in the body does not respond. The purpose of this study was to determine the relation between risk factors of DM that can be changed by the incidence of type 2 DM in Janti Health Center Malang. The research design used was the correlational method with a cross sectional approach. Data collection in this study used questionnaires and medical records with the target of respondents who are patients in the work area of Janti Health Center aged 8805 45 years. There was a significant relationship between BMI physical activity hypertension dyslipidemia unhealthy diet and prediabetes with the incidence of type 2 DM in the Janti Health Center. P-value results in a sequence of (0 000 0 000 0 000 0.020 0 002 0 000 0 05). whereas in the central obesity and smoking variables with the incidence of type 2 DM no significant relationship was found. Keywords risk factors for DM type 2 DM changeable risk factors Abstrak Diabetes mellitus (DM) adalah gangguan metabolisme kronis yang disebabkan oleh pankreas yang tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh yang tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif. Diabetes biasanya akan muncul ketika Anda telah memasuki usia rentan 8805 45 tahun yang kelebihan berat badan sehingga insulin dalam tubuh tidak merespons. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko DM yang dapat diubah dengan kejadian DM tipe 2 di Puskesmas Janti Malang. Desain penelitian yang digunakan adalah metode korelasional dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan catatan medis dengan target responden yaitu pasien di wilayah kerja Puskesmas Janti yang berusia 8805 45 tahun. Ada hubungan yang signifikan antara BMI aktivitas fisik hipertensi dislipidemia diet tidak sehat dan pradiabetes dengan kejadian DM tipe 2 di Pusat Kesehatan Janti. Nilai P menghasilkan urutan (0 000 0 000 0 000 0 020 0 002 0 000 80 cm. Sedangkan laki-laki lingkar perutnya lebih dari 90 cm. Berdasarkan tabel 4.1 55 % dari 80 responden tidak mengalami obesitas sentral. Dapat dilihat pula pada tabel bahwa jumlah responden yang mengalami kegemukan berjumlah 47 orang dan yang mengalami obesitas sentral sebanyak 36 orang. Aktivitas dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga kategori yaitu ringan sedang dan berat. Aktivitas fisik dihitung menggunakan PAL (Physical Activity Level). PAL diperoleh dengan cara mengkalikan waktu aktivitas fisik dengan PAR (Physical Activity Ratio). Tabel 1.1 menunjukkan bahwa responden dengan aktivitas ringan mendominasi dengan persentase 62 5 % atau 50 responden. Responden dengan aktivitas berat sebanyak 12 responden. Semakin usia bertambah rentan maka aktivitas fisik akan semakin berkurang pula. Variabel hipertensi dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kategori yaitu hipertensi dan tidak hipertensi. Dari tabel 1.1 dapat diketahui bahwa sebesar 58 8 % dari 80 responden menderita hipertensi. Sementara 33 orang sisanya atau 41 3 % tidak menderita hipertensi. Orang yang menderita hipertensi akan lebih mudah pula terkena DM tipe 2. Dari 47 orang yang memiliki hipertensi 43 di antaranya juga menderita DM tipe 2. Dislipidemia dibagi menjadi dua kategori yakni dislipidemia dan tidak dislipidemia. Distribudi responden dislipidemia dapat dilihat pada tabel berikut. Hasil analisis tabel 1.1 mengenai distribusi responden dislipidemia kebanyakan responden tidak menderita dislipidemia yaitu 61 3 % sementara yang menderita dislipidemia sebesar 38 8 %. Dari 31 penderita dislipidemia 25 di antaranya juga menderita DM tipe 2. Riwayat TGT/GDPT atau yang biasa disebut dengan prediabetes dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu ada riwayat TGT/GDPT dan tidak ada riwayat TGT/GDPT. Riwayat TGT/GDPT dilihat pada rekam medis pasien. Prediabetes ditentukan dengan glukosa darah puasa 100 125 mg/dL (IFG) dan 2 jam setelah beban 140 199 mg/dL (IGT). Distribusi responden riwayat. Tabel 1.1 menunjukkan sebanyak 23 responden memiliki riwayat TGT/GDPT atau 28 8 %. Sejumlah 22 orang penderita dislipidemia dari 23 orang juga menderita DM tipe 2. Diet tidak sehat dalam penelitian ini dilihat melalui konsumsi makanan manis asin dan berlemak. Kategori diet tidak sehat dibagi menjadi dua yaitu diet tidak sehat dan diet sehat. Berikut distribusi responden diet tidak sehat. Dari variabel diet tidak sehat dapat dilihat mayoritas responden tidak melakukan diet sehat sebanyak 68 8 % yaitu 55 orang dari 80 responden. Sedangkan sisanya yang melakukan diet sehat yaitu sebanyak 31 3 % atau 25 orang. Dari 55 orang yang tidak melakukan diet sehat 42 diantaranya menderita DM tipe 2. Merokok dikategorikan menjadi merokok dan tidak merokok. Seseorang dikatakan sebagai perokok apabila merokok minimal 1x selama 1 tahun. Berdasarkan data distribusi responden merokok didapatkan mayoritas responden yang merokok berjumlah 16 responden atau 20 % dari 80 responden. Sementara 64 dengan persentase 80 % responden lainnya tidak merokok. Dimana pada penelitian ini responden yang merokok hanya yang berjenis kelamin laki-laki sejumlah 16 orang sementara 3 lainnya tidak merokok. Hasil analisis uji chi square hubungan antara kejadian DM Tipe 2 dengan IMT dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1.2 Hubungan IMT dengan Kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti IMT Kejadian DM Tipe 2 Total OR (CI 95 %) p-value Ya % Tidak % N % 8805 25 1 47 90 4 % 5 9 6 % 52 100 % 43 240 (11 366 164 503) 8804 25 0 5 17 9 % 23 82 1 % 28 100 % 0 000 Total 28 65 % 52 35 % 80 100 % Responden yang mempunyai IMT 8805 25 1 sebesar 90 4 % juga menderita DM tipe 2. Hasil uji chi square yang tercantum pada tabel 1.2 melalui perhitungan SPSS mengenai hubungan antara IMT dengan kejadian DM Tipe 2. Hasil menunjukkan p-value sebesar 0 000 945 0 05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti. Sedangkan OR 43 240 dengan interval kepercayaan 11 366 OR 164 503. Sehingga dapat diartikan bahwa orang dengan IMT 8805 25 1 (gemuk) memiliki risiko 43 240 kali terserang DM Tipe 2. Tabel 1.3 Hubungan Obesitas Sentral dengan Kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti Obesitas Sentral Kejadian DM Tipe 2 Total OR (CI 95 %) p-value Ya % Tidak % N % Ya 24 66 7 % 12 33 3 % 36 100 % 1 143 (0 453 2 885) Tidak 28 63 6 % 16 36 4 % 44 100 % 0 777 Total 52 65 % 28 35 % 80 100 % Responden yang mengalami obesitas sentral dan menderita DM tipe 2 sebesar 66 7 % tidak berbanding jauh dengan responden yang tidak obesitas sentral namun tidak menderita DM tipe 2 yaitu sebesar 63 6 %. Berdasarkan tabel 1.3 hasil menunjukkan p- value sebesar 0 777 945 0 05. Artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas sentral dengan kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti. Berikut merupakan hasil dari analisis deskriptif obesitas sentral berdasarkan jenis kelamin. Tabel 1.4 Analisis Deskriptif Obesitas Sentral berdasarkan Jenis Kelamin Lingkar Perut N Min Max Mean Laki-laki 19 73 99 86 42 Perempuan 61 60 105 80 02 Total 80 Dari hasil tabel 1.4 dapat dilihat bahwa jumlah responden perempuan lebih mendominasi dari pada laki-laki. Rata-rata lingkar perut perempuan sebesar 80 02 cm. perempuan dikatakan obesitas sentral apabila lingkar perutnya 80 cm. Rata-rata lingkar perut laki-laki pada penelitian ini 86 42 cm 90 cm dapat diartikan bahwa rata-rata laki- laki pada penelitian ini tidak mengalami obesitas sentral. Tabel 1.5 Hubungan Akivitas Fisik dengan Kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti Aktivitas Fisik Kejadian DM Tipe 2 Total OR (CI 95 %) p-value Ya % Tidak % N % PAL 1 40 1 69 45 90 % 7 23 3 % 30 100 % 29 571 (8 449 103 502) PAL 1 70 2 40 5 10 % 45 90 % 50 100 % 0 000 Total 28 35 % 52 65 % 80 100 % Berdasarkan hasil uji chi square yang terdapat pada tabel 1.5 yaitu p-value 0 000 945 0 05 dengan OR 29 571 dan interval kepercayaan 8 449 OR 103 502. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti. Aktivitas fisik yang ringan dengan PAL 1 40 1 69 memiliki 29 571 kali berisiko terkena DM Tipe 2 dibandingkan dengan aktivitas dengan PAL 1 70 2 40. Sebesar 90 % responden melakukan aktivitas yang ringan aktivitas ringan dapat memicu terjadinya DM tipe 2. Tabel 1.6 Hubungan Hipertensi dengan Kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti Hipertensi Kejadian DM Tipe 2 Total OR (CI 95%) p-value Ya % Tidak % N % Ya 43 91 5 % 4 8 5 % 47 100 % 28 667 (7 976 103 031) Tidak 9 27 3 % 24 72 2 % 33 100 % 0 000 Total 52 65 % 28 35 % 80 100 % Hasil uji chi square yang tercantum pada tabel 1.6 mengenai hubungan antara hipertensi dengan kejadian DM Tipe 2. Hasil menunjukkan p-value sebesar 0 000 945 0 05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti. Nilai OR 28 667 dengan interval kepercayaan 7 976 OR 103 031. Sehingga dapat diartikan bahwa orang dengan hipertensi memiliki risiko 28 667 kali lebih besar terkena DM Tipe 2 dibandingkan dengan yang tidak hipertensi. Dapat dilihat pula bahwa dari total penderita hipertensi sebesar 91 5 % juga menderita DM tipe 2. Tabel 1.7 Hubungan Dislipidemia dengan Kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti Dislipidemia Kejadian DM Tipe 2 Total OR (CI 95 %) p-value Ya % Tidak % N % Ya 25 80 6 % 6 19 4 % 31 100 % 3 395 (1 183 9 740) Tidak 27 55 1 % 22 44 9 % 49 100 % 0 020 Total 52 65 % 28 35 % 80 100 % Responden yang mempunyai riwayat dislipidemia sebesar 80 6 % juga menderita DM tipe 2. Berdasarkan hasil uji chi square yang terdapat pada tabel 1.7 didapatkan hasil p-value 0 020 945 0 05 dengan OR 3 395 dan interval kepercayaan 1 183 OR 9 740. Maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dislipidemia dengan kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti. Orang dengan dislipidemia memiliki 3 395 kali lebih besar berisiko terkena DM Tipe 2 dibandingkan dengan yang tidak dislipidemia. Tabel 1.8 Hubungan Riwayat TGT/GDPT dengan Kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti Riwayat TGT/GDPT Kejadian DM Tipe 2 Total OR (CI 95%) p-value Tidak % Ya % N % Ya 27 47 4 % 30 52 6 % 57 100 % 19 800 (2 498 156 968) Tidak 1 4 3 % 22 95 7 % 23 100 % 0 000 Total 28 35 % 52 65 % 80 100 % Hasil uji chi square yang tercantum pada tabel 1.8 untuk mengetahui hubungan antara riwayat TGT/GDPT dengan kejadian DM Tipe 2. Hasil menunjukkan p-value sebesar 0 000 945 0 05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat TGT/GDPT dengan kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti. Sedangkan OR 19 800 dengan interval kepercayaan 2 498 OR 156 968. Sehingga dapat diartikan bahwa orang yang memiliki riwayat TGT/GDPT mempunyai risiko 19 800 kali lebih besar terkena DM Tipe 2. Dari total 23 orang yang memiliki riwayat prediabetes hanya 1 orang saja yang tidak terkena diabetes melitus tipe 2. Hal ini dapat diartikan bahwa orang yang mengalami prediabetes besar kemungkinannya untuk terkena DM tipe 2. Tabel 1.9 Hubungan Diet Tidak Sehat dengan Kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti Diet Tidak Sehat Kejadian DM Tipe 2 Total OR (CI 95%) p-value Tidak % Ya % N % Diet Sehat 15 60 % 10 40 % 25 100 % 4 846 (1 759 13 352) 0 002 Diet Tidak Sehat 13 23 6 % 42 76 4 % 55 100 % Total 28 100 % 52 100 % 80 100 % Berdasarkan hasil uji chi square yang terdapat pada tabel di atas yaitu p-value 0 002 945 0 05 dengan OR 4 846 dan interval kepercayaan 1 759 OR 13 352. Artinya terdapat hubungan yang signifikan antara diet tidak sehat dengan kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti. Diet tidak sehat 4 846 kali lebih berisiko terkena DM Tipe 2. Dari jumlah total orang yang tidak diet sehat 80 8% diantaranya adalah penderita DM tipe 2. Tabel 1.10 Hubungan Merokok dengan Kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti Merokok Kejadian DM Tipe 2 Total OR (CI 95%) p-value Ya % Tidak % N % Ya 9 56 3 % 7 43 8 % 16 100 % 0 628 (0 205 1 919) Tidak 43 67 2 % 21 32 8 % 64 100 % 0 412 Total 52 65 % 28 35 % 80 100 % Berdasarkan tabel 1.10 mengenai hubungan antara merokok dengan kejadian DM Tipe 2 hasil menunjukkan p-value sebesar 0 412 945 0 05 yang artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara merokok dengan kejadian DM Tipe 2 di Puskesmas Janti. Hal ini dikarenakan jumlah dari perokok hanya 20% dari total 80 responden. Semua dari perokok tersebut berjenis kelamin laki-laki. Berikut merupakan hasil analisis hubungan merokok dengan kejadian DM tipe 2 berdasarkan jenis kelamin laki-laki. Tabel 4.11 Hubungan Merokok dengan Kejadian DM Tipe 2 berdasarkan jenis kelamin laki-laki Merokok Kejadian DM Tipe 2 Total p-value Ya % Tidak % N % Ya 9 56 3 % 7 43 8 % 16 100 % Tidak 0 0 % 3 100 % 3 100 % 0 211 Total 9 47 4 % 10 47 4 % 19 100 % Berdasarkan hasil uji fisher mengenai hubungan merokok dengan kejadian DM tipe 2 berdasarkan jenis kelamin laki-laki didapatkan nilai p value 0 211 lebih besar dari 945 0 05. Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara merokok dengan DM tipe 2 berdasarkan jenis kelamin laki-laki. Hal ini dikarenakan responden yang merokok dan menderita DM tipe 2 sebesar 56 3 % tidak berbanding jauh dengan responden yang merokok namun tidak menderita DM tipe 2 yaitu sebesar 43 8 %. Tabel 1.13 Hasil Analisis Multivariat B Sig. Exp(B) 95 % CI for Exp(B) Lower Upper Step 1 Hipertensi 3 490 0 032 32 789 1 345 799 228 Dislipidemia -1 145 0 381 318 0 024 4 136 Riwayat TGT/GDPT 0 272 0 892 1 312 0 026 65 566 Diet Tidak Sehat 1 599 0 210 4 947 0 407 60 131 IMT 21 463 0 996 2095201295 839 0 000 Aktivitas Fisik 21 228 0 996 1656735101 801 0 000 Step 2 Hipertensi 3 559 0 022 35 125 1 659 743 849 Dislipidemia -1 166 0 371 0 312 0 024 4 003 Diet Tidak Sehat 1 615 0 204 5 026 0 417 60 653 IMT 21 518 0 996 2214340919 520 0 000 Aktivitas Fisik 21 333 0 996 1840848769 362 0 000 Step 3 Hipertensi 3 140 0 020 23 111 1 645 324 721 Diet Tidak Sehat 1 523 0 226 4 585 0 390 53 839 IMT 21 177 0 996 1573557267 187 0 000 Aktivitas Fisik 20 857 0 996 1142760704 011 0 000 Step 4 Hipertensi 2 912 1 229 18 385 1 654 204 329 IMT 21 011 4800 592 1333901450 579 0 000 Aktivitas Fisik 20 565 4800 592 853959543 052 0 000 Hasil multivariat pada tabel di atas menunjukkan terdapat tiga variabel yang paling menentukan sebagai faktor risiko terjadinya DM tipe 2. Ketiga variabel tersebut adalah hipertensi IMT dan aktivitas fisik. Diantara ketiga variabel tersebut variabel IMT 1333901450 579 kali lebih besar memicu terjadinya DM tipe 2. PEMBAHASAN Hubungan antara IMT dengan Kejadian DM Tipe 2 Sebagian besar responden pada penelitian ini memiliki IMT 8805 25 (gemuk). Berdasarkan hasil penelitian yaitu p value 0 000 dengan OR 43 240 terdapat hubungan yang signifikan antara DM tipe 2 dengan IMT. Hal ini sejalan dengan penelitian Rabrusun (2015) bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara DM tipe 2 dengan IMT. Hasil uji chi square diperoleh nilai probabilitas sebesar 0 009 dan Rasio Prevalens (RP) sebesar 1 496. IMT kategori gemuk memiliki 1 496 kali lebih besar menyebabkan DM tipe 2 dibandingkan dengan IMT kategori tidak gemuk. Penelitian menurut Fatmawati (2010) mengenai Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 Pasien Rawat Jalan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas dengan kejadian DM tipe 2 di RSUD Sunan Kalijaga Demak. Nilai p value 0 003 ( 945 0 05) sehingga Ha diterima. Perhitungan estimasi risiko diperoleh OR 0 356. Menurut Trisnawati Setyorogo (2013) IMT secara bersama-sama dengan variabel lainnya mempunyai hubungan yang signifikan dengan DM. Hasil perhitungan OR menunjukan seseorang yang obesitas mempunyai risiko untuk menderita diabetes. Kelompok dengan risiko diabetes terbesar adalah kelompok obesitas dengan odds ratio 7 14 kali lebih besar dibandingkan dengan kelompok IMT normal. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian ini bahwa orang dengan aktivitas ringan lebih berisiko terkena DM. Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa kategori pasien terbanyak memiliki aktivitas ringan yaitu sebanyak 62 5% atau 50 pasien. Hasil perhitungan chi square p value 0 000 dengan OR 29 571. Orang yang beraktivitas fisik ringan memiliki 29 571 kali lebih besar untuk terkena DM Tipe 2. Hal ini selaras dengan penelitian Maharani dkk. (2018) mengenai Hubungan Obesitas dan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Wonogiri. Hasil penelitiannya menunjukkan nilai p (0 001) (0 05). Menurut penelitian Trisnawati Setyorogo (2013) menunjukkan hasil p value 0 038 0 05 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian DM tipe 2 di Puskesmas Kecamatan Cengkareng. Hasil penelitian di Indian Pima orang-orang yang aktivitas fisiknya rendah 2 5 kali lebih berisiko mengalami DM dibandingkan dengan orang-orang yang 3 kali lebih aktif. Berdasarkan penelitian Trisnawati dan Setyorogo (2016) orang yang berusia lebih tua terdapat penurunan aktivitas mitokondria (tempat berlangsungnya respirasi sel) di sel-sel otot sebesar 35%. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar lemak di otot sebesar 30% dan memicu terjadinya resistensi insulin. Aktivitas fisik dapat mengontrol gula darah. Glukosa akan diubah menjadi energi pada saat beraktivitas fisik. Aktivitas fisik mengakibatkan insulin semakin meningkat sehingga kadar gula dalam darah akan berkurang. Pada orang yang jarang berolahraga zat makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak dibakar tetapi ditimbun dalam tubuh sebagai lemak dan gula. Jika insulin tidak mencukupi untuk mengubah glukosa menjadi energi maka akan timbul DM (Kemenkes 2010 dalam Trisnawati Setyorogo 2016). Hubungan antara Obesitas Sentral dengan Kejadian DM Tipe 2 Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara obesitas sentral dengan kejadian DM tipe 2 di Puskesmas Janti. Nilai p- value 0 851 lebih besar dari nilai 945 0 05 sehingga Ha ditolak dan Ho diterima. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dehoop dkk. (2016) bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas sentral dengan kejadian DM tipe 2 di UPTD Balai Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2016 dengan nilai p-value 1 000 945 0 05. Penelitian oleh Sartika (2012) tentang Hubungan Faktor Risiko Perilaku dan Obesitas Sentral dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe II pada Kelompok Umur 40-59 Tahun di Kota Padang Panjang Tahun 2012 menyatakan hal serupa. Hasil uji chi square menunjukkan nilai p-value 0 338 lebih besar dari 0 05. Berdasarkan hasil tersebut maka disimpulkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel obesitas sentral dengan kejadian DM tipe 2. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2018) bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas sentral dengan kejadian DM tipe 2 di Rumah Sakit Mardi Waluyo Metro tahun 2017. Nilai p-value 0 000 0 05. Hal ini terjadi karena rata-rata lingkar perut tidak lebih dari standar normal lingkar perut baik laki-laki maupun perempuan. Rata-rata lingkar perut responden di penelitian ini pada wanita 80 cm dan laki-laki 86 cm. kesimpulannya bahwa rata-rata responden pada penelitian ini tidak mengalami obesitas sentral. Menurut Allison (dalam Auliyah 2012) prevalensi obesitas meningkat secara terus menerus dari usia 20 hingga 60 tahun setelah usia 60 tahun tingkat obesitas mulai menurun. Pernyataan tersebut sesuai dengan penelitian ini dengan usia responden 8805 45 tahun yang mengalami obesitas sentral sejumlah 36 responden. Hal tersebut juga diakibatkan rata-rata dari lingkar perut baik perempuan maupun laki-laki tidak lebih dari standar normal lingkar perut. Hubungan antara Hipertensi dengan Kejadian DM Tipe 2 Pasien dengan hipertensi pada penelitian ini mendominasi dengan jumlah 47 orang (58 8%). Berdasarkan hasil uji chi square pada bab 4 bahwa ada hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan kejadian DM tipe 2 dengan nilai p value 0 000. Hasil yang sama juga didapatkan pada penelitian yang dilakukan oleh Trisnawati Setyorogo (2012). Terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan kejadian DM tipe 2 dengan nilai p value 0 005 dan OR 0 146. Beberapa literatur mengaitkan hipertensi dengan resistensi insulin sebagai penyebab timbulnya DM tipe 2. Selain itu teori lainnya juga menyatakan bahwa pengaruh hipertensi terhadap kejadian DM disebabkan oleh penebalan pembuluh darah arteri yang menyebabkan diameter pembuluh darah menjadi menyempit. Hal tersebut akan menyebabkan proses pengangkutan glukosa dari dalam darah menjadi terganggu sehingga dapat terjadi hiperglikemia dan berakhir DM tipe 2 (A.D.A.M dalam Asmarani 2017). Gibney (dalam Mutmainah 2013) hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya DM. Hubungannya dengan DM tipe 2 sangatlah kompleks hipertensi dapat membuat sel tidak sensitif terhadap insulin (resisten insulin). Hipertensi tidak hanya menyebabkan serangan jantung gagal jantung dan stroke tetapi dalam banyak kasus sering juga menimbulkan adanya penyakit DM baru. Untuk menghindari kemungkinan terkena diabetes para penderita hipertensi diminta menjaga tekanan darahnya dengan menjaga berat badan kadar gula darah kadar trigliserida dalam darah dan kadar High Density Lipoprotein (HDL) (Pengstari 2011 dalam Ayuza 2016). Hubungan antara Dislipidemia dengan Kejadian DM Tipe 2 Sebagian besar responden pada penelitian ini tidak memiliki dislipidemia yaitu sebanyak 49 pasien. Berdasarkan hasil penelitian yaitu p value 0 020 dengan OR 3 395 terdapat hubungan yang signifikan antara dislipidemia dengan kejadian DM tipe 2. Hal ini sejalan dengan penelitian menurut Tjekyan (2010) mengenai Angka Kejadian dan Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 di 78 RT Kotamadya Palembang Tahun 2010 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dislipidemia dengan kejadian DM tipe 2. Nilai p value 0 000 ( 945 0 05) sehingga Ha diterima. Penyakit dislipidemia sering menyertai DM baik dislipidemia primer (akibat kelainan genetik) maupun dislipidemia sekunder (akibat DM baik karena resistensi maupun defisiensi insulin). Toksisitas lipid menyebabkan proses aterogenesis menjadi lebih progresif. Lipoprotein akan mengalami perubahan akibat perubahan metabolik pada DM seperti proses glikasi serta oksidasi (Wicaksono 2011). Menurut Setyawati (2013) beberapa bukti menunjukkan bahwa rendahnya kadar HDL-kolesterol yang merupakan komponen kunci dari dislipidemia biasanya terlihat pada diabetes tipe 2. Hubungan antara Riwayat TGT/GDPT dengan Kejadian DM Tipe 2 Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa kategori pasien terbanyak memiliki riwayat TGT/GDPT yaitu sebanyak 28 8% atau 23 pasien. Hasil perhitungan chi square p value 0 000 dengan OR 19 800. Orang yang memiliki riwayat TGT/GDPT mempunyai peluang 19 800 kali lebih besar untuk terkena DM Tipe 2. Hal ini selaras dengan penelitian Sirait dkk. (2015) analisis multivariat terlihat bahwa faktor yang paling berperan untuk menjadi DM adalah obesitas sentral IGT kadar gula darah puasa riwayat DM pada orang tua serta hipertensi. Impaired Glucose Tolerance (RR 3 49 CI 95% 1 82 6 68) gula darah puasa (RR 3 35 CI 95% 1 59 7 07) mempunyai hubungan yang bermakna dengan terjadinya DM. Orang yang menderita Impaired Fasting Glucose (IFG) dan/atau Impaired Glucose Tolerant (IGT) dapat disebut prediabetes yang mengindikasikan resiko yang tinggi untuk menderita diabetes di kemudian hari. IFG dan IGT disarankan untuk tidak diangap sebagai bukti klinis untuk diabetes mellitus melainkan sebagai faktor resiko untuk DM dan penyakit kardiovaskular. Impaired Fasting Glucose (IFG) dan/atau Impaired Glucose Tolerant (IGT) berhubungan erat dengan obesitas khususnya obesitas sentral atau obesitas abdominal dislipidemia dengan trigliserida yang tinggi dan atau rendahnya HDL kolesterol dan hipertensi (Dehoop 2016). Hubungan antara Diet Tidak Sehat dengan Kejadian DM Tipe 2 Pasien yang melakukan diet tidak sehat pada penelitian ini mendominasi dengan jumlah 55 orang (68 8%). Berdasarkan hasil uji chi square pada bab 4 bahwa ada hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan kejadian DM tipe 2 dengan nilai p value 0 002. Hasil yang sama juga didapatkan pada penelitian yang dilakukan oleh Sukmaningsih (2016). Terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan kejadian DM tipe 2 dengan nilai p value 0 002. Penelitian yang dilakukan oleh Sumangkut dkk. (2013) menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan kejadian DM tipe 2 dengan nilai p value 0 000. Pola konsumsi memegang peranan penting bagi penderita DM seseorang yang tidak bisa mengatur pola makan dengan pengaturan 3J (jadwal jenis dan jumlah) maka akan menyebabkan penderita mengalami peningkatan kadar gula darah (Suiraoka 2012 dalam Susanti dkk. 2018). Pola makan penderita DM harus benar-benar diperhatikan. Penderita DM biasanya cenderung memiliki kandungan gula darah yang tidak terkontrol (Susanto 2013 dalam Susanti dkk. 2018). Kadar gula darah akan meningkat dratis setelah mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat dan/atau gula (Nurrahmani 2012 dalam Susanti dkk. 2018). Dikarenakan hal tersebut penderita DM perlu menjaga pola makan dalam rangka pengendalian kadar gula darah sehingga kadar gula darahnya tetap terkontrol. Hubungan antara Merokok dengan Kejadian DM Tipe 2 Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara merokok dengan kejadian DM tipe 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Kistianita dkk. (2018) bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara merokok dengan kejadian DM tipe 2. Hasil uji chi square diperoleh nilai probabilitas sebesar 0 872. Penelitian menurut Erniati (2013) mengenai Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Lanjut Usia di Pos Pembinaan Terpadu Kelurahan Cempaka Putih Tahun 2012 menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara merokok dengan kejadian DM tipe 2. Nilai p value 1 000 ( 945 0 05) sehingga Ho diterima. Yufang dkk. (2012) dalam Kistianita (2018) menyatakan bahwa terdapat beberapa mekanisme yang berkontribusi pada hubungan antara merokok dengan DM tipe 2. Perokok aktif cenderung lebih kurus dibandingkan dengan orang yang tidak perokok atau mantan perokok namun perokok akan cenderung mengalami peningkatan berat badan ketika mereka berhenti merokok dan mantan perokok berat dan sedang akan lebih gemuk dibandingan mantan perokok yang ringan (Yufang dkk 2012 dalam Kistianita 2018). Menurut Seifu (dalam Kistianita 2018) merokok diidentifikasi sebagai faktor risiko dari resistensi insulin yang mana merupakan prekursor dari kejadian DM tipe 2 selain itu merokok dapat memperburuk metabolisme dari glukosa dimana hal tersebut dapat memicu terjadinya DM tipe 2. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian ini yang menyatakan tidak terdapat hubungan antara merokok dengan kejadian DM tipe 2. Hubungan merokok dengan kejadian DM tipe 2 berdasarkan jenis kelamin laki- laki didapatkan nilai p value 0 211 lebih besar dari 945 0 05. Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara merokok dengan DM tipe 2 berdasarkan jenis kelamin laki-laki. Hal ini dikarenakan responden yang merokok dan menderita DM tipe 2 sebesar 56 3 % tidak berbanding jauh dengan responden yang merokok namun tidak menderita DM tipe 2 yaitu sebesar 43 8 %. Pembahasan Multivariat Hasil uji multivariat pada penelitian ini didapatkan hasil terdapat empat faktor risiko yang paling memicu terjadinya DM tipe 2. Keempat variabel tersebut adalah hipertensi diet tidak sehat IMT dan aktivitas fisik. Diantara keempat variabel tersebut variabel IMT 7 071 kali lebih besar memicu terjadinya DM tipe 2 dengan interval kepercayaan 1 627 OR 30 722. Hal ini sejalan dengan penelitian Laaksonen et al. (2010) dalam Deyasningrum (2014) bahwa orang dengan IMT 8805 25 kg/m merupakan faktor terkuat penyebab DM tipe 2. Pasien DM tipe 2 dengan IMT lebih terjadi interaksi konsisten skor genotipe obesitas dan skor genotipe diabetes. Kesimpulannya kerentanan genetik obesitas akan sinergis dengan risiko diabetes mellitus tipe 2 saat dewasa (Li et al. 2012 dalam Deyasningrum 2014). Hasil penelitian Purnawati (dalam Adnan 2013) dari Universitas Indonesia menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara IMT dengan terjadinya DM tipe 2. IMT tinggi mempunyai resiko 2 kali lebih besar untuk terkena DM tipe 2 dibandingkan dengan IMT rendah. Menurut D adamo (dalam Adnan 2013) orang yang mengalami kelebihan berat badan maka kadar leptin dalam tubuhnya akan meningkat. Leptin adalah hormon yang berhubungan dengan gen obesitas. Leptin berperan dalam hipotalamus untuk mengatur tingkat lemak tubuh kemampuan untuk membakar lemak menjadi energi dan rasa kenyang. Kadar leptin dalam plasma meningkat bersama dengan meningkatnya berat badan. Leptin bekerja pada sistem saraf perifer dan pusat. Peran leptin terhadap terjadinya resistensi yaitu leptin menghambat fosforilasi insulin reseptor substrate-1 (IRS) yang akibatnya dapat menghambat ambilan glukosa. Sehingga mengalami peningkatan kadar gula dalam darah (Adnan 2013). PENUTUP Disarankan kepada peneliti yang selanjutnya untuk meneliti faktor risiko DM tipe 2 lainnya yang belum ada pada penelitian ini. Diharapakan juga peneliti selanjutnya melakukan pengukuran (test) bukan hanya dari rekam medis untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. DAFTAR RUJUKAN Adnan M. Mulyati T. and Isworo J. T. 2013. Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) Dengan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Mellitus (DM) Tipe 2 Rawat Jalan Di RS Tugurejo Semarang. (online). Jurnal Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang 2(1) pp. 18 24. [diakses pada 12 Januari 2019] Asmarani Tahir A. C. and Adryani A. 2017. Analisis Faktor Risiko Obesitas dan Hipertensi dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari. (online) 4(2) pp. 322 331. Available at http //ojs.uho.ac.id/index.php/medula/article/view/2807. [diakses pada 13 Januari 2019] Auliyah A. 2012. Hubungan Indeks Massa Tubuh Persen Lemak Tubuh Aktivitas Fisik dan Faktor Lainnya dengan Obesitas Sentral pada Pegawai Satlantas dan Sumda di Polresta Depok Tahun 2012. (online). Skripsi FKM Universitas Indonesia. [diakses pada 15 Juni 2019] Ayuza D. 2016. Deby Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Hipertensi Tahap 2 pada Pria Lansia dengan Pola Makan yang Tidak Sehat Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Hipertensi Tahap 2 pada Pria Lansia dengan Pola Makan yang Tidak Sehat Deby Ayuza Fakultas Kedokteran Universitas Lamp. J Mendula Unila 4(3) pp. 1 8. Available at http //juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/medula/article/viewFile/1581/pdf. [diakses pada 15 Juni 2019] BPS Kota Malang. 2017. Kota Malang dalam Angka 2017. (online). https //malangkota.bps.go.id/publication/download.html nrbvfeve YWYyMTh hOGI3NGQwMzdiM2Y5ZDg3Yzg1 xzmn aHR0cHM6Ly9tYWxhbmdrb3Rh LmJwcy5nby5pZC9wdWJsaWNhdGlvbi8yMDE3LzA4LzEyL2FmMjE4YThi NzRkMDM3YjNmOWQ4N2M4NS9rb3RhLW1hbGFuZy1kYWxhbS1hbmdrY S0yMDE3Lmh0bWw%3D twoadfnoarfeauf MjAxOS0wMS0xMSAxMzozN ToxNw%3D%3D. [diakses pada 11 Januari 2019] Deyasningrum N. and Utari D. M. 2014. Faktor Dominan Terhadap Kejadian Pre Diabetes Mellitus Dan Diabetes Mellitus Tipe 2 Pada Staf Kependidikan Fkm Ui Depok Tahun 2014. (online). pp. 52 60. [diakses pada 20 Juni 2019] Dinkes Kota Malang. 2017. Profil Kesehatan kota Malang Tahun 2017. (online). [diakses pada 8 Januari 2019] Dehoop M. et al. 2016. Hubungan antara Obesitas Sentral dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 di UPTD Balai Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara. (online). Media Kesehatan 8(3) pp. 1 8. [diakses pada 20 Juni 2019] Fatmawati A. 2010. Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 Pasien Rawat Jalan (Studi Kasus di Rumah Sakit Umum Daerah Sunan Kalijaga Demak). Skripsi. [diakses pada 1 Juli 2019] Kemenkes RI. 2014. Situasi dan Analisis Diabetes. (online). http //www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin- diabetes.pdf. [diakses pada 8 Januari 2019] Kistianita A. N. Yunus M. and Gayatri R. W. 2018. Analisis Faktor Risiko Diabetes Mellitus Tipe 2 Pada Usia Produktif Dengan Pendekatan Who Stepwise Step 1 (Core / Inti) di Puskesmas Kendalkerep Kota Malang. (online). Preventia The Indonesian J of Public Health. 3(1) pp. 1 14. [diakses pada 20 Juni 2019] Lathifah N. L. 2017. HUBUNGAN DURASI PENYAKIT DAN KADAR GULA DARAH DENGAN KELUHAN SUBYEKTIF PENDERITA DIABETES MELITUS The Relationship Between Duration Disease and Glucose Blood Related to Subjective Compliance in Diabetes Mellitus. (online) Jurnal Berkala Epidemiologi 5(July 2017) pp. 231 235. doi 10.20473/jbe.v5i2.2017.231-239. [diakses pada 20 Juni 2019] Murti B. 2013. Desain dan Ukuran Sampel untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. Yogyakarta Gadjah Mada University Press. Mutmainah I. 2012. Hubungan Kadar Gula Darah dengan Hipertensi Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar. (online). Skripsi. doi 10.1017/CBO9781107415324.004. [diakses pada 20 Juni 2019] Puskesmas Janti. 2017. Profil UPT. Puskesmas Janti Tahun 2017. Malang UPT Puskesmas Janti. Rabrusun A. N. 2014. Hubungan antara Umur dan Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 di Poliklinik Interna BLU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi. [diakses pada 30 Juni 2019] Setyorogo S. and Trisnawati S. . 2015. Faktor Resiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II Di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat Tahun 2012. (online). Jurnal Ilmiah Kesehatan 5(1) pp. 6 11. [diakses pada 2 Juli 2019] Sirait A. M. et al. 2015. INSIDEN DAN FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS PADA ORANG PENYAKIT TIDAK MENULAR ( Incident and Risk Factor of Diabetes Mellitus in Adults at Bogor . Prospective Cohort Study Risk Factors Non Comunicable Diseases). (online). Buletin Penelitian Sistem Kesehatan 18(2) pp. 151 160. [diakses pada 2 Juli 2019] Sukmaningsih W. R. 2016. Faktor Resiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Purwodiningratan Surakarta. (online). Skripsi 1 p. 16. [diakses pada 2 Juli 2019] Susanti S. and Bistara D. N. 2018. Hubungan Pola Makan Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus. (online). Jurnal Kesehatan Vokasional 3(1) p. 29. doi 10.22146/jkesvo.34080. [diakses pada 5 Juli 2019] Susanti E. F. N. 2019. Gambaran faktor risiko terjadinya diabetes melitus pada penderita diabetes melitus tipe 2. (online). Jurnal Keperawatan pp. 1 14. Available at http //eprints.ums.ac.id/id/eprint/71368. [diakses pada 2 Juli 2019] Tjekyan R. 2014. Angka Kejadian dan Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 di 78 RT Kotamadya Palembang Tahun 2010. (online). Majalah Kedokteran Sriwijaya pp. 85 94. [diakses pada 2 Februari 2019] WHO. 2016. Diabetes Fakta dan angka. (online). http //www.searo.who.int/indonesia/topics/8-whd2016-diabetes-facts-and- numbers-indonesian.pdf. [diakses pada 2 Juli 2019]