Disertasi
Makna pengelolaan hutan bersama masyarakat di wilayah Desa Giripurno Kota Batu Jawa Timur / Dwi Fauzia Putra
Abstrak
RINGKASAN Putra Dwi Fauzia. 2019. Makna Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat Di Wilayah Desa Giripurno Kota Batu Jawa Timur. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Promotor (I) Prof. Dr. Sugeng Utaya M.Si. (II) Prof. Dr. Sumarmi M.Pd. (III) Syamsul Bachri S.Si. M.Sc. Ph.D Kata kunci pengelolaan hutan partisipasi desa hutan agroforestri PHBM Masyarakat desa hutan Giripurno merupakan sekelompok orang yang kehidupannya berbatasan langsung dengan wilayah hutan. Mereka merupakan masyarakat yang secara sosial ekonomi bekerja sebagai buruh tani dan minim kepemilikan lahan. Melalui Pengelolan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Perhutani mengajak masyarakat sebagai mitra dalam pengelolaan hutan. Masyarakat membentuk Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sebagai wadah dalam bekerjasama dengan Perum Perhutani KPH Malang. Petani pesanggem sebagai aktor utama dalam sejarahnya tidak langsung berpartisipasi mengelola hutan. Sebelum PHBM diluncurkan tahun 1998 merupakan puncak kerusakan hutan yang disebabkan oleh berbagai faktor termasuk masyarakat desa hutan yang terpaksa membuka lahan hutan. Fenomena ini merupakan hal yang unik dimana terdapat perubahan perilaku petani pesanggem yang sebelumnya mereka terlibat dalam kerusakan hutan menjadi aktor utama dalam melestarikan hutan. Fenomena ini melibatkan serangkaian proses yang menarik untuk dipahami. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang (1) praktik pengelolaan lahan hutan pada sistem PHBM di Desa Giripurno (2) partisipasi masyarakat dalam proses pengelolaan hutan pada sistem PHBM di Desa Giripurno (3) konteks sosial yang melatarbelakangi PHBM di Desa Giripurno (4) makna pengelolaan hutan bagi petani pesanggem di Desa Giripurno (5) integrasi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Desa Giripurno ke dalam mata kuliah geografi sumberdaya alam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan fenomenologi perspektif Schutz dalam pengumpulan dan analisis data. Pengumpulan data melalui observasi partisipasi wawancara mendalam dan dokumentasi. Analisis data menggunakan pisau analisis feomenologi Schutz yang dikombinasikan dengan tahapan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Untuk menjaga keabsahan data digunakan teknik triangulasi dengan melakukan Focus Group Discussion (FGD) sebagai cross-check data terhadap hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) agroforestri merupakan wujud konsep pengelolaan hutan bersama untuk mencapai keseimbangan ekologi dan sosial-ekonomi dengan melibatkan partisipasi masyarakat desa (2) prinsip sukses program pengelolaan hutan yang melibatkan partisipasi masyarakat desa meliputi berbagi ruang berbagi peran dan berbagi hasil untuk mencapai tujuan bersama (3) konteks sosial meliputi konteks yang melatarbelakangi digagasnya PHBM dan konteks sosial subjek. Konteks digagasnya PHBM meliputi tekanan ekonomi menguat tekanan pemerintah menurun dan kelemahan pengelolaan sebelumnya yang kurang melibatkan pasisipasi masyarakat. Konteks sosial pesanggem berupa sekumpulan individu yang secara sosial relatif homogen baik dari segi umur tingkat pendidikan yang rendah jenis pekerjaan sebagai buruh tani memiliki beban tanggungan serta minimnya kepemilikan lahan (4) motif sebab yang melatarbelakangi PHBM dengan motif tujuan memenuhi kebutuhan sehari-hari membangun rumah membeli ternak dan lahan serta membiayai sekolah anak merupakan faktor pendorong petani mengelola hutan yang dimaknai sebagai substitusi ekonomi perbaikan kondisi sosial investasi masa depan dan masa depan anak. Ketika kondisi motif sebab penghasilan tidak mencukupi dan kehilangan pekerjaan dengan motif tujuan agar dapat memenuhi kebutuhan harian mengelola hutan dimaknai oleh sebjek petani pesanggem sebagai substitusi ekonomi. Ketika kondisi motif sebab tidak punya lahan dengan motif tujuan agar dapat membangun rumah mengelola hutan dimaknai oleh sebjek petani pesanggem sebagai upaya perbaikan kondisi sosial. Ketika kondisi motif sebab penghasilan tidak mencukupi dengan motif tujuan agar dapat membeli ternak dan lahan mengelola hutan dimaknai oleh sebjek petani pesanggem sebagai investasi masa depan. Ketika kondisi motif sebab penghasilan tidak mencukupi dan tidak punya lahan dengan motif tujuan agar dapat membiayai sekolah anak mengelola hutan dimaknai oleh sebjek petani pesanggem untuk masa depan anak (5) integrasi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Desa Giripurno ke dalam mata kuliah geografi sumberdaya alam dapat diwujudkan dalam bentuk pengintegrasian materi dan nilai-nilai karakter yang meliputi nilai kepedulian lingkungan nilai belajar sepanjang hayat nilai kerjasama nilai kerja keras nilai modal sosial dan keterbukaan dan nilai penghormatan terhadap alam.