Skripsi
Pengembangan model kegiatan membaca kreatif untuk mendukung gerakan literasi sekolah pada jenjang SMP / Lisa Novita Sari
Abstrak
RINGKASAN Sari Lisa Novita. 2019. Pengembangan Model Kegiatan Membaca Kreatif untuk Mendukung Gerakan Literasi Sekolah pada Jenjang SMP.Skripsi Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Yuni Pratiwi M.Pd. Kata Kunci model kegiatan membaca kreatif literasi gerakan literasi sekolah Sejak tahun 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan sebuah program bernama Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan Literasi Sekolah merupakan gerakan sosial yang bertujuan untuk menanamkan kebiasaan membaca. Sasaran program ini ialah siswa sekolah pada jenjang dasar hingga jenjang menengah termasuk di dalamnya siswa pada jenjang SMP. Implementasi GLS di sekolah yaitu dengan melaksanakan kegiatan 15 menit membaca. Di sekolah kegiatan 15 menit membaca ini disebut aktivitas literasi. Berdasarkan wawancara dengan siswa dan guru aktivitas literasi di sekolah diisi dengan dua kegiatan yaitu membaca mandiri dan membuat ringkasan pada jurnal membaca. Model semacam ini terus berulang setiap minggunya. Salah satu cara untuk menghidupkan aktivitas literasi di kelas yaitu melalui penerapan variasi model kegiatan membaca kreatif. Oleh karena itu model kegiatan membaca kreatif untuk mendukung Gerakan Literasi Sekolah pada jenjang SMP diteliti dan dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model kegiatan membaca kreatif yang dapat dimanfaatkan siswa saat aktivitas literasi di kelas. Penelitian ini menghasilkan dua desain model kegiatan membaca kreatif yaitu (1) model literasi eksplorasi pengetahuan melalui dunia fiksi dan (2) model literasi berita berbasis kekritisan. Metode yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini didadaptasi dari model pengembangan 4D ((four D model) oleh S. Thiagarajan Dorothy S. Semmel dan Melvyn I. Semmel (1974) yang terdiri dari empat tahapan yaitu (1) penetapan (2) perancangan (3) pengembangan dan (4) penyebaran. Keempat tahapan tersebut dimodifikasi menjadi tiga tahapan yaitu (1) penetapan (2) perancangan dan (3) pengembangan. Uji coba produk dilaksanakan secara bertahap dengan urutan (1) uji coba ahli membaca dan ahli literasi sekolah (2) uji coba praktisi dan (3) uji coba lapangan. Pengambilan data uji coba menggunakan instrumen yang berupa angket tertutup dan terbuka. Angket tertutup digunakan untuk memperoleh data kuantitatif yang berupa skor penilaian sedangkan angket terbuka digunakan untuk mendapatkan data kualitatif yang berupa catatan untuk perbaikan produk. Data yang diperoleh tersebut disajikan dan dianalisis berdasarkan aspek kelayakan produk yang telah ditentukan meliputi kelayakan konsep model kelayakan langkah-langkah model kegiatan membaca kreatif dalam aktivitas literasi dan kelayakan model kegiatan membaca kreatif terhadap tingkat pemahaman dan kebutuhan siswa. Data kuantitatif dianalisis dengan cara dihitung menggunakan pedoman penyekoran sedangkan data kualitatif dipaparkan sebagai saran untuk perbaikan produk. Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa dua buah desain model kegiatan membaca kreatif yang dapat dimanfaatkan siswa pada saat aktivitas literasi di kelas. Model pertama bernama model literasi eksplorasi pengetahuan melalui dunia fiksi yang dikhususkan untuk literasi teks novel. Sementara model literasi kedua bernama model literasi berita berbasis kekritisan yang dikhususkan untuk literasi teks berita. Desain kegiatan pada kedua model terdiri dari dua kegiatan utama yaitu kegiatan membaca mandiri dan kegiatan lanjutan berupa latihan-latihan untuk melatih kemampuan membaca. Hasil uji coba produk yang diperoleh dari ahli membaca ahli literasi sekolah praktisi dan siswa disajikan berdasarkan tiap aspek kelayakan produk yaitu kelayakan konsep model kegiatan membaca kreatif 90% (sangat layak) kelayakan langkah-langkah model kegiatan membaca kreatif dalam aktivitas literasi 98% (sangat layak) dan kelayakan model kegiatan membaca kreatif terhadap tingkat pemahaman dan kebutuhan siswa 85% (layak). Sementara itu model kegiatanmembaca telah memenuhi kriteria kelayakan karena penghitungan keseluruhan jawaban respon siswa mencapai persentase sebesar 83 16%. Berdasarkan hasil tersebut model kegiatan membaca kreatif tergolong layak untuk diimplementasikan dalam aktivitas literasi. Model kegiatan membaca kreatif yang telah dikembangkan ini dapat dimanfaatkan oleh sekolah guru bahasa Indonesia siswa dan peneliti sejenis. Sekolah dapat menggunakan model ini sebagai terobosan baru dalam mengelola program Gerakan Literasi Sekolah. Guru bahasa Indonesia dapat menggunakan model ini sebagai tambahan referensi dalam membuat perencanaan aktivitas pembelajaran bahasa Indonesia utamanya yang berkaitan dengan keterampilan membaca. Siswa dapat memanfaatkan model ini sebagai sarana variasi aktivitas literasi. Peneliti lanjutan dapat memanfaatkan model ini sebagai pertimbangan dalam menyusun produk yang lebih baik.