Skripsi
Analisis variabel-variabel yang mempengaruhi tingkat pendapatan sentra industri genteng di Desa Sumberingin Kulon Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung / Bebi Linda Prastika
Abstrak
ANALISIS VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENDAPATAN SENTRA INDUSTRI GENTENG DI DESA SUMBERINGIN KULON KECAMATAN NGUNUT KABUPATEN TULUNGAGUNG Bebi Linda Prastika Sugeng Hadi Utomo Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Indonesia Email sugeng.hadi.fe um.ac.id Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) pengaruh variabel modal jumlah tenaga kerja dan harga jual secara parsial terhadap tingkat pendapatan pelaku sentra industri genteng Desa Sumberingin Kulon (2) pengaruh variabel modal jumlah tenaga kerja dan harga jual secara simultan terhadap tingkat pendapatan pelaku sentra industri genteng Desa Sumberingin Kulon dan (3) variabel yang mempengaruhi secara dominan terhadap tingkat pendapatan pelaku sentra industri genteng Desa Sumberingin Kulon. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan menggunakan metode analisis regresi linear berganda. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa variabel modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan pelaku sentra industri genteng di Desa Sumberingin Kulon Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. Variabel modal merupakan variabel yang berpengaruh paling dominan terhadap tingkat pendapatan pelaku sentra industri genteng di Desa Sumberingin Kulon Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. Kata Kunci Pendapatan Modal Jumlah Tenaga Kerja Harga Jual PENDAHULUAN Pembangunan pada Negara berkembang sering diidentikkan dengan upaya kenaikan pendapatan per kapita. Pertumbuhan ekonomi menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang. Industri merupakan kunci pada perkembangan ekonomi karena sektor industri menjanjikan pertumbuhan ekonomi tinggi. Industrialisasi dipandang ampuh dalam mengatasi masalah keterbelakangan kemiskinan ketimpangan dan pengangguran. Strategi yang dapat dikembangkan untuk mendukung tercapainya sasaran pembangunan yang berorientasi pada kerakyatan adalah meningkatkan dan memperluas kegiatan usaha-usaha berbasis komunitas. Kegiatan usaha-usaha masyarakat memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat (Malik 2015). Keberadaan usaha industri kecil dapat menjadi sumber penghasilan andalan masyarakat hal ini dapat dilihat dari peranan industri kecil dalam perekonomian nasional yang cukup diperhitungkan dimana sektor industri kecil dapat menjadi solusi bagi masalah-masalah sosial ekonomi seperti penyediaan lapangan kerja. Industri kecil memiliki peranan yang besar dalam mendorong pembangunan perdesaan. Industri kecil memiliki posisi strategis pada pembangunan perdesaan karena pertama industri kecil menghubungkan antara aktivitas sektor pertanian dan non pertanian kedua industri kecil mampu menciptakan multiplier effect terhadap munculnya kegiatan-kegiatan non pertanian yang lain seperti jasa dan perdagangan sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi perdesaan (Tambunan 2001). Meskipun industri kecil mengalami tantangan yang cukup berat tetapi dari hasil laporan BPS selama tahun 1995-1998 industri kecil dan rumah tangga mengalami peningkatan yang cukup berarti dimana pada saat yang sama perusahaan besar dan sedang mengalami penurunan. Industri kecil dan rumah tangga mempunyai peranan yang strategis karena pada saat terjadinya krisis industri kecil dan rumah tangga mampu bertahan dan berkembang dibandingkan perusahaan industri besar dan menengah. Pada tahun 1998 masih terdapat 36 8 juta unit pelaku usaha dan 99% lebih adalah pelaku industri kecil. Pada saat itu keberadaan industri kecil telah menyerap 64 3 juta orang dan kontribusinya terhadap PDB sebesar 58 2%. Dari total industri kecil dan menengah yang ada 80% belum pernah atau tidak mendapat fasilitas kredit perbankan namun keberadaannya 96% lebih tahan terhadap krisis ekonomi diantaranya sebanyak 65% tidak terpengaruh krisis serta sebesar 31% mengurangi usaha dan hanya 4% saja yang usahanya berhenti ( Prasetyo 2008). Dari data di atas terlihat arti penting industri kecil sebagai salah satu perwujudan yang nyata dari kegiatan ekonomi rakyat yang bertumpu pada kekuatan sendiri terdesentralisasi beragam dan merupakan kelompok usaha yang mampu menjadi tumpuan dan harapan disaat perekonomian Indonesia dilanda krisis. Keberadaan industri kecil dianggap sebagai penolong karena lebih mampu bertahan di masa krisis ekonomi serta menjadi tumpuan harapan masyarakat. Karena keberadaannya mampu banyak menyediakan kesempatan kerja mengurangi kemiskinan pengangguran dan arus urbanisasi serta motor penggerak pembangunan nasional dan daerah. Namun keberadaannya juga masih banyak menghadapi kendala dan keterbatasan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal keberadaan industri kecil lebih banyak menghadapi berbagai keterbatasan modal teknik produksi pangsa pasar manajemen dan teknologi serta lemah dalam pengambilan keputusan dan pengawasan keuangan serta rendahnya daya saing. Sedangkan secara eksternal lebih banyak menghadapi masalah seperti persoalan perijinan bahan baku lokasi pemasaran sulitnya memperoleh kredit bank iklim usaha yang kurang kondusif kepedulian masyarakat dan kurang pembinaan. Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur yang memiliki berbagai sektor dalam peningkatan pertumbuhan perekonomian di Kabupaten Tulungagung. Industri merupakan salah satu sektor yang mendukung pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Tulungagung. Perkembangan industri memiliki dampak positif bagi masyarakat dikarenakan peran dari industri mampu menangani permasalahan-permasalahan ekonomi. Oleh sebab itu dengan mengembangkan sektor industri pertumbuhan ekonomi akan semakin meningkat. Salah satu sentra industri di Kabupaten Tulungagung adalah sentra industri genteng yang berada pada delapan kecamatan yaitu Boyolangu Kalidawir Ngunut Pakel Gondang Kauman Pucanglaban dan Sumbergempol. Kecamatan Ngunut merupakan salah satu kecamatan yang memiliki sentra industri genteng di Kabupaten Tulungagung. Berada di desa Sumberingin Kulon sentra industri genteng memiliki 130 unit usaha yang mana sebagian usaha tersebut sudah berdiri sejak tahun 1960-an. Industri genteng di desa Sumberingin Kulon memiliki kualitas yang lebih unggul daripada di daerah lain dikarenakan para pengrajin menggunakan bahan baku nomor satu. Industri ini kebanyakan merupakan usaha turunan dari keluarga dan mampu bertahan dari gejolak krisis ekonomi. Meskipun industri genteng berskala kecil industri ini mampu bertahan walaupun jumlah produksi yang tidak menentu. Kendala yang sering dialami oleh para pelaku usaha apabila tidak ditangani dengan tepat maka dapat mempengaruhi perkembangan usaha tersebut dan jika usaha tidak dapat berkembang maka akan berpengaruh pada permintaan produk dan berdampak pada pendapatan yang didapat perusahaan selanjutnya berimbas pada nasib usaha tersebut. KAJIAN PUSTAKA Pendapatan Pendapatan merupakan unsur yang sangat penting dalam sebuah usaha perdagangan karena dalam melakukan suatu usaha tentu ingin mengetahui nilai atau jumlah pendapatan yang diperoleh selama melakukan usaha tersebut. Dalam arti ekonomi pendapatan merupakan balas jasa atas penggunaan faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh sektor rumah tangga dan sektor perusahaan yang dapat berupa gaji/upah sewa bunga serta keuntungan/profit (Sukirno 2000). Pendapatan menunjukkan jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga dalam jangka waktu tertentu. Pendapatan dalam ilmu ekonomi didefinisikan sebagai hasil berupa uang atau hal materi lainnya yang dicapai dari penggunaan kekayaan atau jasa manusia serta nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode. Pengertian tersebut menitik beratkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain pendapatann adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode bukan hanya yang dikonsumsi.. Menurut Sukirno (2006) pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama satu periode tertentu baik harian mingguan bulanan maupun tahunan. Produksi Produksi merupakan hasil akhir dari proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input. Secara umum produksi diartikan sebagai penggunaan atau pemanfaatan sumber daya yang mengubah suatu komoditi menjadi komoditi lainnya yang sama sekali berbeda. Istilah produksi berlaku untuk barang dan jasa yang sama-sama dihasilkan dengan mengerahkan modal dan tenaga kerja. Produsen dalam melakukan kegiatan produksi mempunyai landasan teknis yang di dalam teori ekonomi disebut fungsi produksi. Pada umumnya produksi memerlukan berbagai macam peralatan (mesin gedung dan alat-alat) dan beberapa bahan mentah. Teori produksi terdiri dari beberapa analisa mengenai bagaimana seharusnya seorang pengusaha (wiraswastawan) dalam tingkat teknologi tertentu mengkombinasikan berbagai macam faktor produksi untuk menghasilkan sejumlah produk tertentu seefisien mungkin (Sudarman 1980). Fungsi Produksi Fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menunjukkan hubungan antara tingkat input yang digunakan dalam proses produksi dengan tingkat output yang dihasilkan. Konsep tersebut didefinisikan sebagai persamaan matematika yang menunjukkan kuantitas maksimum output yang dapat dihasilkan dari serangkaian input. Suatu fungsi produksi memberikan keterangan mengenai jumlah output yang mungkin diharapkan apabila input-input dikombinasikan dengan cara tertentu. Macam hasil produksi dan banyaknya hasil produksi yang akan diperoleh tergantung pada macam dan jumlah input yang digunakan. Dalam pengertiannya yang paling umum fungsi produksi dapat ditunjukkan dengan rumus sebagai berikut Q f (K L M ) Di mana Q menunjukkan output suatu barang tertentu selama suatu periode K menunjukkan pemakaian mesin (modal) selama periode tersebut L menunjukkan input jam kerja M menunjukkan bahan mentah yang dipergunakan dan notasi titik menunjukkan bahan mentah yang dipergunakan dan notasi titik menunjukkan kemungkinan variabel-variabel lain yang mempengaruhi proses produksi. Jadi lebih sederhana lagi fungsi produksi menunjukkan jumlah output maksimum yang dapat diperoleh dari sekumpulan input tertentu. Jika hanya terdapat dua input modal (K) dan tenaga kerja (L) maka fungsi produksi ditunjukkan sebagai berikut Q f (K L) Keterangan Q output K input modal L input tenaga kerja Fungsi produksi di atas menunjukkan maksimum output yang dapat diproduksi dengan menggunakan kombinasi alternatif dari modal (K) dan tenaga kerja (L) (Nicholson 1995). Skala Pengembalian (Return to scale) Dalam jangka panjang dengan semua input adalah variabel pengusaha juga harus mempertimbangkan cara terbaik untuk meningkatkan output. Salah satu cara untuk melakukan hal tersebut adalah dengan mengubah skala pengoperasian dengan meningkatkan semua input produksi secara proporsional. Skala pengembalian (return to scale) adalah tingkat dimana output meningkat karena input meningkat secara proposional. Return to scale bertujuan untuk mengetahui apakah kegiatan dari usaha yang diteliti tersebut mengikuti kaidah increasing constan atau decreasing to scale (Soekartawie 2003). Menurut Soekartawi (2003) terdapat tiga kemungkinan dalam nilai return to scale a)Decreasing return to scale bila (b1 b2 b3 . bn) 1 Skala ini menunjukkan jika semua input yang digunakan dalam berproduksi ditingkatkan jumlahnya maka produksi yang dihasilkan akan naik dengan proporsi yang lebih kecil b)Constan return to scale bila (b1 b2 b3 . bn) 1 Skala hasil yang menunjukkan jika semua input yang digunakan dalam berproduksi ditingkatkan jumlahnya maka produksi yang dihasilkan akan meningkat dengan proporsi yang sama. c)Increasing return to scale bila (b1 b2 b3 bn) 1 Skala hasil yang menunjukkan apabila semua input yang digunakan dalam berproduksi ditingkatkan jumlahnya maka produksi yang dihasilkan akan meningkat dengan proporsi yang lebih besar. Industri Kecil Menengah Secara umum industri dapat didefinisikan sebagai suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau bahan setengah jadi menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Hasil dari industri tidak hanya berupa barang melainkan juga ada dalam bentuk jasa. Industri kecil memiliki banyak definisi sehingga topik industri kecil selalu menarik untuk dibicarakan. Berbagai badan pemerintah serta berbagai macam instansi menggunakan definisi industri kecil berbeda-beda. Berbagai macam definisi industri kecil tersebut antara lain 1.Menurut Disperindag (Departemen Perindustrian dan Perdagangan) tahun 1999 industri kecil merupakan kegiatan usaha industri yang memiliki investasi sampai Rp 200.000.000 - tidak termasuk bangunan dan tanah tempat usaha. 2.Menurut Biro Pusat Statistik (1998) mendefinisikan industry kecil dengan batasan jumlah karyawan atau tenaga kerja dalam mengklasifikasi industry yang dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut 1)Perusahaan atau industry rumah tangga jika memperkejakan kurang dari 3 orang 2)Perusahaan atau industry pengolahan termasuk jasa industry pengolahan yang mempunyai pekerja 1 sampai 19 orang termasuk pengusaha baik perusahaan atau usaha yang berbadan hokum atau tidak 3)Perusahaan atau industry kecil jika memperkejakan antara 5 sampai 19 orang. Perusahaan atau industry sedang memperkerjakan antara 20 sampai 99 orang 4)Perusahaan atau industry besar jika memperkerjakan antara 100 orang atau lebih. 3.Menurut Bank Indonesia industry kecil yakni industry yang asset (tidak termasuk tanah dan bangunan) bernilai kurang dari Rp 600.000.000 -. Menurut Biro Pusat Statistik (2003) mendefinisikan industry kecil adalah usaha rumah tangga yang melakukan kegiatan mengolah barang dasar menjadi barang belum jadi atau setengah jadi barang setengah jadi menjadi barang jadi atau yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dengan maksud untuk dijual dengan jumlah pekerja paling sedikit 5 orang dan yang paling banyak 19 orang termasuk pengusaha. Modal Modal adalah sesuatu yang diperlukan untuk membiayai operasi perusahaan mulai dari berdiri sampai beroperasi yang terdiri dari modal tenaga (keahlian) dan uang (Kasmir 2008). Modal dalam bentuk uang diperlukan untuk membiayai segala keperluan usaha mulai dari biaya prainvestasi pengurusan izin-izin sampai dengan modal kerja. Sedangkan modal keahlian adalah keahlian dan kemampuan seseorang untuk mengelola atau menjalankan suatu usaha. Besarnya modal yang diperlukan tergantung dari jenis usaha yang akan digarap. Dalam praktiknya pembiayaan suatu usaha dapat diperoleh secara gabungan antara modal sendiri dengan modal pinjaman. Pilihan apakah menggunakan modal sendiri modal pinjaman atau gabungan dari keduanya tergantung dari jumlah modal yang dibutuhkan dan kebijakan pemilik usaha (Kasmir 2008). Besar modal biasanya ditentukan oleh jenis dan bentuk usaha. Permodalan digunakan untuk menunjang dan memperlancar usaha tersebut dalam memenuhi keinginan konsumen. Martono dan Harjito (2005) menjelaskan bahwa modal adalah dana yang digunakan untuk membiayai pendirian usaha dan kegiatan operasi sehari-hari. Jadi bila dikaitkan dengan sebuah usaha modal merupakan dana yang digunakan dan dimanfaatkan untuk membayar pembukaan usaha tersebut serta dalam kegiatan pelaksanaan usaha tersebut. Bila dikaitkan antara modal dan pendapatan pengaruh modal amatlah penting. Jika seorang pengusaha memiliki modal usaha yang besar maka pengusaha tersebut akan membeli bahan serta alat yang bervariatif dan berdampak pada output usaha tersebut. Tenaga Kerja Tenaga kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur antara 14 sampai 60 tahun sedangkan orang yang berumur di bawah 14 tahun atau di atas 60 tahun digolongkan sebagai bukan tenaga kerja (Simanjutak 1985). Dari perngertian tersebut dapat diartikan tenaga kerja dan bukan tenaga kerja dibedakan hanya oleh batasan umur. Namun hal ini tidak mengartikan bahwa setiap Negara memiliki kesamaan dalam menentukan batasan umur tenaga kerja karena situasi tenaga kerja di masing-masing tenaga kerja berbeda. Menurut Sumarsono tidak semua penduduk menawarkan tenaga kerjanya di pasar tenaga kerja. Pertimbangan utama adalah kelayakan bekerja menurut umur. Penduduk yang layak bekerja ditinjau dari umur tersebut sebagai penduduk usia kerja. Jumlah ini yang pantas untuk disebut sebagai tenaga kerja yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan produksi sumber daya manusia hal ini sering disebut sebagai manpower. Menurut Sukirno (2000) tenaga kerja bukan saja berarti jumlah buruh yang terdapat dalam perekonomian. Akan tetapi tenaga kerja juga meliputi keahlian dan ketrampilan yang mereka miliki. Dari segi keahlian dan pendidikan tenaga kerja dibedakan menjadi tiga golongan yaitu 1.Tenaga kerja kasar merupakan tenaga kerja yang rendah tingkat pendidikannya dan tidak memiliki keahlian dalam bidang pekerjaan 2.Tenaga kerja terampil merupakan tenaga kerja yang memiliki keahlian dari pelatihan atau pengalaman kerja seperti montir mobil tukang kayu dan ahli mereparasi TV dan Radio 3.Tenaga kerja terdidik merupakan tenaga kerja yang memiliki pendidikan cukup dan ahli dalam bidang tertentu seperti dokter akuntan ahli ekonomi dan insinyur. The Law of Diminshing Marginal Return Produk marjinal tenaga kerja yang semakin berkurang (dan produk marjinal semakin berkurang dari input-input lain) berlaku untuk kebanyakan proses produksi. The law of diminishing marginal return sering dipakai untuk menggambarkan gejala ini. Hukum hasil semakin berkurang (the law of diminishing return) menyatakan bahwa jika pengguna input meningkat (dengan input yang lain tetap) suatu titik akhirnya akan dicapai yang pada titik ini penambahan tersebut akan mengurangi output. Apabila input tenaga kerja kecil dan modal tetap dan sedikit kenaikan pada input tenaga kerja sangat menambah output karena pekerja diperbolehkan untuk mengembangkan tugas-tugas khusus. Namun pada akhirnya the law of diminishing return akan berlaku jika pekerja terlalu banyak beberapa pekerja menjadi tidak efektif dan produk marjinal tenaga kerja terjatuh. The law of diminishing marginal return biasanya berlaku untuk jangka pendek yang mana paling sedikit satu input adalah tetap. Namun dapat juga berlaku untuk jangka panjang. Dalam analisis produksi diasumsikan bahwa semua input tenaga kerja mutunya sama diminishing marginal return diakibatkan oleh pembatasan pemakainan input lain tetap misalnya mesin bukan dari penurunan mutu pekerja. The law of diminishing return menggambarkan produk marjinal yang berkurang tetapi belum tentu negatif. The law of diminishing return berlaku untuk teknologi produksi tertentu. Misalkan dalam kurun waktu itu dalam proses produksi tenaga kerja ditingkatkan juga terjadi perbaikan teknologi. Harga Jual Definisi harga jual adalah jumlah moneter yang dibebankan oleh suatu unit usaha kepada pembeli atau pelanggan atas barang atau jasa yang dijual atau diserahkan (Supriyono 2001). Menurut Case Fair (2006) harga jual akan menentukan dan mengukur berapa pendapatan yang akan diterima. Penentuan harga jual ditentukan dengan kebijakan penentuan harga jual (pricing policies) yang mana dengan menetapkan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dan aturan dasar yang perlu diikuti dalam penentuan harga jual dan dengan keputusan penentuan harga jual (pricing decision) yang mana keputusan ini dipengaruhi oleh kebijakan penentuan harga jual pemanfaatan kapasitas dan tujuan organisasi. Harga jual juga dapat didefinisikan hasil akhir dari dua kekuatan yaitu permintaan dan penawaran (Sugiri 1994). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa harga jual yaitu jumlah uang yang diperlukan untuk memperoleh suatu barang atau jasa yang diinginkan. Berdasarkan penelitian Pukuh (2013) harga merupakan salah satu variabel yang menentukan pendapatan petani tebu di Kecamatan Jepon. Semakin besar harga jual tebu tingkat pendapatan yang diperoleh petani tebu akan meningkat. Pada penelitian Fina Hety dan Wiwin (2018) harga jual mempengaruhi tingkat pendapatan petani jamur merang di Desa Rambipuji. Menentukan harga jual akan menetukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh petani. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat harga maka akan semakin bagus pengaruhnya terhadap pendapatan bersih yang diperoleh petani jamur merang. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan data yang diperoleh dari sampel penelitian sebesar 57 pelaku sentra industri genteng Desa Sumberingin Kulon kemudian dianalisis sesuai dengan metode statistik yang digunakan dan selanjutnya diinterpresentasikan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder sehingga teknik pengumpulan datanya menggunakan metode kuisioner wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif. Metode analisis ini untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Analisis regresi berganda merupakan metode yang tepat digunakan ketika penelitian melibatkan satu variabel terikat yang diperkirakan berhubungan dengan satu atau lebih variabel bebas. Dengan analisis regresi akan diketahui variabel independen yang benar-benar signifikan mempengaruhi variabel dependen dan dengan variabel independen yang signifikan tadi dapat digunakan untuk memprediksi nilai variabel dependen. Uji statistik yang akan digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah uji-f (uji simultan) uji-t (uji parsial) (koefisien determinan). Dalam model regresi klasik untuk memperoleh nilai pemerkira yang tidak bias dan efisien dari persamaan regresi linier berganda dengan metode kuadrat terkecil biasa (OLS / Ordinary Least Square) maka dalam menganalisa data harus memenuhi asumsi-asumsi klasik asumsi-asumsi klasik tersebut yaitu uji multikolinearitas uji autokorelasi uji heteroskedastisitas dan uji normalitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam hasil penelitian akan dilakukan analisis data mengenai pengaruh Modal () Tenaga Kerja () dan Harga Jual () terhadap Pendapatan (Y) pada Sentra Industri Genteng di desa Sumberingin Kulon. Berdasarkan dari data hasil penelitian maka hasil analisis regresi linear berganda dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -303668.110 2.790E6 -.109 .914 Modal .021 .010 .309 2.034 .047 Tenaga Kerja 178321.941 260456.293 .092 .685 .497 Harga Jual 2138.002 1587.679 .188 1.347 .184 a. Dependent Variable Pendapatan Sumber Data Primer diolah 2019 Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda di atas maka dapat diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut Y e Y -303668.110 0.021 178321.941 2138.002 e Berdasarkan persamaan regresi di atas maka dapat dijelaskan sebagai berikut 1. Nilai konstanta () sebesar -303668.110 menunjukkan bahwa tanpa ada pengaruh dari variabel modal ( jumlah tenaga kerja lama usaha dan inovasi . Nilai konstanta variabel pendapatan (Y) adalah -303668.110. 2.Nilai koefisien Modal ( sebesar 0.021 sehingga jika modal ( mengalami kenaikan sebesar Rp 1000 maka pendapatan sentra industri genteng di desa Sumberingin Kulon akan mengalami kenaikan rata-rata sebesar 21 rupiah. 3.Nilai koefisien Jumlah Tenaga Kerja ( sebesar 178321.941 sehingga jika Jumlah Tenaga Kerja mengalami penambahan sebesar 1 orang maka nilai pendapatan (Y) sentra industri genteng di desa Sumberingin Kulon akan mengalami kenaikan rata-rata sebesar Rp 178.321 941 rupiah. 4.Nilai koefisien Harga Jual (sebesar 2138.002 sehingga jika Harga Jual ( mengalami peningkatan Rp 100 maka nilai pendapatan (Y) sentra industri genteng di desa Sumberingin Kulon akan mengalami kenaikan rata-rata sebesar Rp 2.138 002. Hasil Uji Simultan (Uji F) Sumber Data Primer diolah 2019 ANOVAb Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 6.204E13 3 2.068E13 5.220 .003a Residual 2.100E14 53 3.961E12 Total 2.720E14 56 Dari hasil analisis regresi berganda dengan menggunakan 3 dan 53 dan dengan confident interval sebesar 95% ( 945 5%) diperoleh sebesar 2.78. Dan berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa nilai analisis agresi tersebut adalah 5.220. Hal ini membuktikan bahwa nilai maka dapat disimpulkan bahwa ditolak. Sehingga variabel Modal ( Jumlah Tenaga Kerja () dan Harga Jual (secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Pendapatan (Y) Sentra Industri Genteng di Desa Sumberingin Kulon Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. Hasil Koefisien Determinasi Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .478a .228 .184 1.99034E6 a. Predictors (Constant) Harga Jual Tenaga Kerja Modal Sumber Data Primer diolah 2019 Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa nilai koefisien determinasi ) sebesar 0.228 atau sebesar 22 8% yang artinya bahwa pendapatan Sentra Industri Genteng di Desa Sumberingin Kulon dapat dijelaskan oleh variabel Modal ( Jumlah Tenaga Kerja () dan Harga Jual ( secara simultan (serempak) berpengaruh terhadap variabel Pendapatan (Y) sebesar 22 3% sedangkan sisanya (100% - 22 3% 77 7%) dipengaruhi oleh variabel lain di luar persamaan regresi ini atau variable yang tidak teliti. Koefisien korelasi berganda R (multiplecorelation) menggambarkan kuatnya hubungan antara variabel Modal Jumlah Tenaga Kerja dan Harga Jual secara serempak terhadap variabel pendapatan Sentra Industri Genteng di Desa Sumberingin Kulon yaitu sebesar 0 184. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya perubahan atau peningkatan atas Modal Jumlah Tenaga Kerja dan Harga Jual maka jumlah pendapatan Sentra Industri Genteng di Desa Sumberingin Kulon akan mengalami peningkatan. Perbandingan Nilai dengan Variabel Sig. Keterangan (Constant) -0.109 2 0057 .914 - Modal ( 2.034 2 0057 .047 Signifikan Jumlah Tenaga Kerja ( 0.685 2 0057 .497 Tidak Signifikan Harga Jual 1.347 2 0057 .184 Tidak Signifikan Sumber Data Primer diolah 2019 Berdasarkan hasil pada tabel 4.7 di atas dapat diketahui bahwa variabel Modal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan Sentra Industri Genteng di Desa Sumberingin Kulon. Sedangankan untuk variabel Jumlah Tenaga Kerja dan Harga Jual tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan Sentra Industri Genteng di Desa Sumberingin Kulon. Secara statistik analisis regresi secara parsial dapat dijelaskan sebagai berikut 1.Uji parsial antara Modal ( terhadap pendapatan (Y) didapatkan nilai (2.034) lebih dari (2 0057) atau nilai signifikan (0 047) kurang dari alpha (0 050) sehingga terdapat pengaruh signifikan antara Modal ( terhadap Pendapatan (Y) dengan asumsi variabel lain yang digunakan bersifat konstan. 2.Uji parsial Jumlah Tenaga Kerja ( terhadap pendapatan (Y) didapatkan nilai (0.685) kurang dari (2 0057) atau nilai signifikan (0 497) lebih dari alpha (0 050) sehingga tidak ada pengaruh yang signifikan antara Jumlah Tenaga Kerja ( terhadap Pendapatan (Y). 3.Uji parsial Harga Jual ( terhadap pendapatan (Y) didapatkan nilai (1.347) kurang dari (2 0057) atau nilai signifikan (0 184) lebih dari alpha (0 050) sehingga tidak ada pengaruh yang signifikan antara Harga Jual ( terhadap Pendapatan (Y). Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Tolerance VIF 1 (Constant) -303668.110 2.790E6 -.109 .914 Modal .021 .010 .309 2.034 .047 .631 1.585 Tenaga Kerja 178321.941 260456.293 .092 .685 .497 .814 1.228 Harga Jual 2138.002 1587.679 .188 1.347 .184 .747 1.338 a. Dependent Variable Pendapatan Sumber Data Primer diolah 2019 Berdasarkan tabel 4.8 di atas nilai VIF (Variance Inflatting Factor) pada variabel Modal () sebesar 1.585 menunjukkan bahwa nilai VIF 10 dan nilai tolerance 0.631 0.1. Dengan demikian menunjukkan bahwa pada variabel Modal () tidak terdapat masalah multikolinearitas. Pada variabel Jumlah Tenaga Kerja () menunjukkan nilai VIF sebesar 1.228 menunjukkan bahwa nilai VIF 10 dan nilai tolerance sebesa 0.814 0.1. Sehingga menunjukkan bahwa pada variabel Jumlah Tenaga Kerja () tidak terdapat masalah multikolinearitas. Kemudian variabel Harga Jual () menunjukkan bahwa nilai VIF nya sebesar 1.338 10 dan nilai tolerance 0.747 0.1 hal ini berarti bahwa variabel Harga Jual () tidak terdapat masalah multikonlinearitas. Berdasarkan hasil pengujian multikolinearitas dapat disimpulkan bahwa nilai VIF masing-masing variabel bebas kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih dari 0.1. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keseluruhan variabel bebas yang digunakan yaitu Modal Jumlah Tenaga Kerja dan Harga Jual tidak terdapat masalah multikolinearitas. Uji Autokorelasi Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .478a .228 .184 1.99034E6 1.546 a. Predictors (Constant) Harga Jual Tenaga Kerja Modal b. Dependent Variable Pendapatan Sumber Data Primer diolah 2019 Berdasarkan hasil uji Durbin Watson (DW-test) dapat diketahui bahwa nilai Durbin Watson test sebesar 1.546 sedangkan DW tabel untuk 945 5% dengan variabel bebas (k) 3 dan jumlah pengamatan (n) 57 diperoleh nilai dL 1.4637 dan dU 1.6845 Maka dL dU 1.4637 1.546 1.6845 Dari hasil perhitungan terlihat bahwa nilai DW untuk semua variabel adalah 1.546 lebih besar dari dL dan lebih kecil dari dU sehingga hasil tersebut tidak dapat disimpulkan. Dalam penelitian ini juga menggunakan uji Run test uji ini digunakan untuk melihat apakah data residual bersifat acak atau tidak. Bila bersifat acak berarti terjadi masalah autokorelasi. Residual regresi diolah dengan uji Run test kemudian dibandingkan dengan tingkat signifikansi ( 945 ) yang digunakan. Apabila nilai hasil uji Run test lebih besar daripada tingkat signifikansi ( 945 ) maka tidak terdapat masalah autokorelasi pada data yang diuji. Runs Test Unstandardized Residual Test Valuea 1.56464E5 Cases Test Value 26 Cases Test Value 31 Total Cases 57 Number of Runs 28 Z -.345 Asymp. Sig. (2-tailed) .730 a. Median Sumber Data Primer diolah 2019 Hasil pengujian asumsi autokorelasi dengan Run test diperoleh nilai Asymptotic Significant uji Run test sebesar 0.730 yang artinya nilai tersebut lebih besar dari alpha 0.050 sehingga data bersifat acak dan tidak ditemukan adanya indikasi autokorelasi. Dengan demikian masalah autokorelasi yang tidak dapat disimpulkan dapat terselesaikan dengan Durbin Watson (DW-test) dapat diatasi dengan melalui uji Run test sehingga analisis regresi tersebut dapat dilanjutkan. Uji Heteroskedastisitas Sumber Data Primer diolah 2019 Berdasarkan hasil pengujian heteroskedastisitas dapat diketahui bahwa titik-titik (point-point) yang terbentuk pada grafik scatterplot tidak membentuk pola yang jelas atau tidak beraturan serta tersebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y sehingga dapat dikatakan bahwa dalam hasil pengujian tidak terjadi masalah heteroskedastisitas. Hasil tersebut juga membuktikan bahwa pengaruh variabel independen yaitu modal jumlah tenaga kerja lama usaha dan inovasi mempunyai varian yang sama. Sehingga membuktikan bahwa persamaan regresi yang dihasilkan dalam penelitian ini efisien dan kesimpulan yang dihasilkan tepat. Selain menggunakan metode grafik untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas penelitian ini juga menggunakan metode uji statistik melalui uji spearman s rank correlation. Hasil Uji Spearman s Rank Correlation Correlations Modal Tenaga Kerja Harga Jual Unstandardized Residual Spearman s rho Modal Correlation Coefficient 1.000 .285 .442 -.014 Sig. (2-tailed) . .032 .001 .916 N 57 57 57 57 Tenaga Kerja Correlation Coefficient .285 1.000 .172 .019 Sig. (2-tailed) .032 . .202 .891 N 57 57 57 57 Harga Jual Correlation Coefficient .442 .172 1.000 .059 Sig. (2-tailed) .001 .202 . .665 N 57 57 57 57 Unstandardized Residual Correlation Coefficient -.014 .019 .059 1.000 Sig. (2-tailed) .916 .891 .665 . N 57 57 57 57 Sumber Data Primer diolah 2019 Dapat diketahui nilai Sig.(2-tailed) pada variabel Modal () sebesar 0.916 menunjukkan bahwa nilai Sig.(2-tailed) 0.05 dengan demikian menunjukkan bahwa pada variabel Modal () tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. Pada variabel Jumlah Tenaga Kerja () menunjukkan nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0.891 menunjukkan bahwa nilai Sig.(2-tailed) 0.05 sehingga menunjukkan bahwa pada variabel Jumlah Tenaga Kerja () tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. Kemudian variabel Harga Jual () menunjukkan bahwa nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0.665 0.05 hal ini berarti bahwa variabel Harga Jual () tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. Berdasarkan hasil uji spearman s rank correlation dapat disimpulkan bahwa nilai Sig.(2-tailed) masing-masing variabel bebas lebih dari 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keseluruhan variabel bebas yang digunakan yaitu Modal Jumlah Tenaga Kerja dan Harga Jual tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. Uji Normalitas Sumber Data Primer diolah 2019 Dapat terlihat bahwa data menyebar disekitar garis dan mengikuti arah garis diagonal sehingga berdasarkan hasil gambar di atas dapat diketahui bahwa banyak titik-titik data yang berada dalam satu garis lurus sehingga dapat dikatakan bahwa data-data bersifat normal atau berdistribusi normal. Selain dengan P-P plot untuk menguji Normalitas pada penelitian ini juga menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Konsep dasar dari uji normalitas Kolmogorov Smirnov adalah dengan membandingkan distribusi data (yang akan diuji normalitasnya) dengan distribusi normal baku. Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk Z-Score dan diasumsikan normal. Penerapan pada uji Kolmogorov Smirnov adalah bahwa jika signifikansi di bawah 0.05 berarti data yang akan diuji mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data normal baku berarti data tersebut tidak normal. Adapun hasil uji Kolmogorov Smirnov dapat dilihat pada tabel dibawah ini. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual N 57 Normal Parametersa Mean .0000000 Std. Deviation 1.93629680E6 Most Extreme Differences Absolute .088 Positive .088 Negative -.084 Kolmogorov-Smirnov Z .665 Asymp. Sig. (2-tailed) .768 a. Test distribution is Normal. Sumber Data Primer diolah 2019 Jika nilainya di atas 0 05 maka distribusi data dinyatakan memenuhi asumsi normalitas dan jika nilainya di bawah 0 05 maka dapat diartikan tidak normal. Hasil uji normalitas dengan uji Kolmogorov Smirnov diperoleh hasil signifikansi 0.768 atau lebih dari alpha 0 05 sehingga diasumsikan normalitas terpenuhi. Pengaruh Modal terhadap Pendapatan Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Pendapatan pemilik usaha genteng di desa Sumberingin Kulon dengan nilai koefisien regresi yaitu 0.021. Modal merupakan faktor yang sangat penting dalam industri. Industri memerlukan modal dalam melakukan kegiatan industri dan berbagai aktivitas lain yang berhubungan dengan kebutuhan operasional industri Seluruh pemilik usaha industri genteng di desa Sumberingin Kulon menggunakan modal sendiri dalam pendirian usahanya. Pemilik usaha industri genteng di desa Sumberingin Kulon yang memiliki modal atau menggunakan modal dengan nilai yang cukup tinggi mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan mereka serta mendorong pengembangan industri tersebut agar lebih maju mengikuti perkembangan pasar. Hal tersebut dapat dilihat melalui nilai t-stat variabel modal dalam penelitian memiliki nilai yang lebih besar dari nilai t-tabel (2.034 2.0057). Selain itu nilai probabilitas variabel modal yang didapat lebih kecil dari nilai alpha 0.05 (0.047 0.05). Semakin besar modal yang mereka gunakan maka akan berdampak pada pendapatannya. Karena modal merupakan input (faktor produksi) yang sangat penting dalam menentukan tinggi rendahnya pendapatan. Hal ini karena dengan menggunakan modal yang tinggi akan dapat meningkatkan hasil produksi yang kaitannya dengan peningkatan jumlah barang yang dijual. Pengaruh Jumlah Tenaga Kerja terhadap Pendapatan Berdasarkan hasil penelitian ini variabel Jumlah Tenaga Kerja secara parsial tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap variabel pendapatan industri genteng di desa Sumberingin Kulon. Dapat dilihat dari perolehan nilai variabel Jumlah Tenaga Kerja sebesar 0.685 sedangkan nilai sebesar 2.0057 sehingga nilai lebih besar dari nilai . Kegiatan usaha yang diteliti mengikuti kaidah increasing return to scale artinya semua input yang digunakan dalam berproduksi ditingkatkan jumlahnya maka produksi yang dihasilkan akan meningkat dengan proporsi yang lebih besar. Namun apabila penambahan input jumlah tenaga kerja terus ditambah maka pelaku industri genteng akan mengalami penurunan pendapatan hal ini sesuai dengan The Law of Diminishing Returns dimana ketika penambahan input jumlah tenaga kerja yang dimiliki di luar jangkauan titik batas tertentu atau melebihi kapasitas dari input tersebut sementara input lain dipertahankan konstan atau sebaliknya maka tingkat output berubah. Hal ini dapat dilihat ketika penambahan input tenaga kerja meningkat maka output akan semakin menurun. Meskipun pada awalnya setiap unit tenaga kerja dapat mengambil manfaat yang makin besar namun setelah titik tertentu tenaga kerja tambahan tidak lagi berguna dan menjadi tidak produktif. Input variabel tenaga kerja tidak harus selalu berpengaruh meskipun dapat dilihat dari fungsi umum produksi bahwa Q f (K L) namun input variabel tenaga kerja disini digunakan sebagai sebuah substitusi kombinasi oleh perusahaan dalam proses produksi. Pengaruh Harga Jual terhadap Pendapatan Hasil analisis menyatakan bahwa variabel Harga Jual secara parsial tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap variabel pendapatan. Hal ini dapat dilihat dari uji parsial dimana nilai (1 347) kurang dari (2 0057) atau nilai signifikan (0 184) lebih dari alpha (0 050). Dari 57 responden pelaku sentra industri genteng di Desa Sumberingin Kulon mayoritas pelaku usaha menentukan harga sebesar lebih dari Rp 1.700 dengan presentase 65% dari total responden. Apabila variabel harga jual mengalami peningkatan Rp 100 hal tersebut tidak akan mempengaruhi pendapatan. Berdasarkan teori di awal kegiatan usaha yang diteliti tersebut mengikuti kaidah increasing return to scale artinya semua input yang digunakan dalam berproduksi ditingkatkan jumlahnya maka produksi yang dihasilkan akan meningkat dengan proporsi yang lebih besar. Namun apabila penambahan input harga jual terus dinaikkan maka pelaku industri genteng akan mengalami penurunan pendapatan hal ini sesuai dengan The Law of Diminishing Returns dimana mula-mula akan terjadi penambahan output ketika input harga jual dinaikkan namun pada titik tertentu hasil dari output yang diperoleh akan semakin berkurang dikarenakan ketika penambahan input harga jual yang dimiliki di luar jangkauan titik batas tertentu atau melebihi kapasitas dari input tersebut sementara input lain dipertahankan konstan atau sebaliknya maka tingkat output berubah. Hal ini dapat dilihat ketika peningkatan input harga jual bertambah maka output akan semakin menurun. Hal ini dapat dijelaskan apabila harga jual genteng mengalami peningkatan pembeli akan lebih memilih produk dari pengusaha lain yang menawarkan harga lebih murah sehingga permintaan produk pada usaha tersebut mengalami penurunan. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil analisis dalam penelitian secara parsial hanya variabel Modal yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pendapatan Sentra Industri Genteng di Desa Sumberingin Kulon. Sedangankan untuk varia bel Jumlah Tenaga Kerja dan Harga Jual tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan Sentra Industri Genteng di Desa Sumberingin Kulon. hasil analisis regresi berganda pada penelitian ini diperoleh nilai lebih besar dari maka dapat disimpulkan bahwa ditolak. Sehingga variabel Modal Jumlah Tenaga Kerja dan Harga Jual secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan pelaku sentra industri genteng di Desa Sumberingin Kulon Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. variabel modal merupakan variabel yang berpengaruh paling dominan terhadap tingkat pendapatan pelaku sentra industri genteng di Desa Sumberingin Kulon Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung dengan nilai lebih besar dari dan nilai alpha lebih besar dari pada nilai signifikan. Saran bagi pelaku sentra industri genteng di desa Sumberingin Kulon hendaknya mengembangkan usahanya dengan menambah modal yang dipakai dikarenakan dengan besarnya modal yang dipakai maka akan semakin banyak input yang tersedia sehingga output yang dihasilkan meningkat. Kemudian berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh bahwa variabel tenaga kerja tidak berpengaruh signifkan sehingga saran untuk pelaku sentra industri dalam penggunaan tenaga kerja dapat dikurangi atau dengan jumlah proporsional sehingga tenaga kerja yang tidak produktif berkurang dan output tidak menurun. Selain itu tingkat harga jual genteng sebaiknya ditetapkan secara bersama-sama keseluruhan para pelaku industri genteng ataupun jika berbeda dengan masing-masing pelaku disarankan selisih harga agar tidak yang terlalu tinggi. Harga jual yang tinggi tidak mempengaruhi bertambahnya tingkat pendapatan yang didapat. Bagi pemerintah diharapkan melakukan pembinaan secara rutin. Dalam hal ini tidak hanya pembinaan dalam pengolahan produk maupun menyediakan alat. Pembinaan mengenai pemasaran produk sangat dibutuhkan oleh para pelaku sentra industri genteng. Dikarenakan banyak pelaku usaha yang berusia 51 tahun sehingga masih menggunakan metode lama dalam hal pemasarannya. Berhubunga modal sangat penting dalam pertumbuhan usaha kebutuhan modal juga kerap kali dikeluhkan pemilik usaha melihat harga bahan baku dan biaya pengolahan yang memerlukan biaya yang cukup tinggi sehingga diharapkan pemerintah daerah menyediakan peminjaman modal bagi pemilik usaha industri genteng di desa Sumberingin Kulon Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. DAFTAR PUSTAKA Alfiani Fina Hety M. Ani dan Wiwin Hartanto. 2018. Pengaruh Kuantitas Produk dan Harga Jual terhadap Pendapatan Usaha Tani Jamur Merang (Studi Kasus pada Kelompok Tani Paguyuban Kaola Mandiri Di Desa Rambipuji Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember). E-Journal Universitas Jember Vol. 12. No.2 Tahun 2018. (Online) (http //jurnal.unej.ac.id) diakse 22 Juli 2019 Butarbutar Gestry Romaito. 2017. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Industri Makanan Khas di Kota Tebing Tinggi. JOM Fekon Vol.4 No.1 (Februari) 2017 (Online) (http //jom.unri.ac.id) diakses 11 November 2018 Case Fair. 2006. Prinsip prinsip Ekonomi. Jakarta Erlangga. Harjito Agus dan Martono. 2005. Manajemen Keuangan. Edisi Pertama. Yogyakarta Ekonisia Fakultas Ekonomi UI Kasmir. 2008. Kewirausahaan. Jakarta PT Raja Grafindo Persada. Malik Hermen. 2015. Bangun Industri Desa Selamatkan Bangsa (Strategi Pembangunan Industri Desa di Kabupaten Kaur Bengkulu). Bogor PT. Penerbit IPB Press. Nicholson W. 1995. Mikroekonomi Intermediate dan Aplikasinya. Terjemahan dari Intermediate Microeconomics oleh Agus Maulana. Jakarta Binarupa Aksara. Pangyoman Kartika. 2017. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Industri Kerajinan Marmer di Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung. (Online) (http //lib.geo.ugm.ac.id) diakses 11 November 2018 Prasetyo P. Eko. 2008. Peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran. Akmenika. UPY Vol.2. Rahman Aulia. 2015. Analisis Pengaruh Usia Pendidikan Jumlah Tenaga Kerja Modal Luas Lahan Terhadap Pendapatan Pengusaha Gula Tumbu (Studi Kasus di Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang). Universitas Diponegoro. (Online) (http //eprints.undip.ac.id) diakses 11 November 2018 Seputra Yulius Eka Agung dan Joko Sutrisno. 2016. Pengantar Ekonomi Mikro. Yogyakarta Ekuilibria. Simanjuntak Payaman J. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi Dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cob-Douglass. Jakarta PT Raja Grafindo Persada. Sudarman Ari. 1980. Teori Ekonomi Mikro Edisi Ketiga. Yogyakarta BPFE-UGM Sugiri Slamet. 1994. Akuntansi Manajemen. Yogyakarta UPP AMP YKPN Sukirno Sadono. 2000. Teori Makro Ekonomi. Jakarta Raja Grafindo. Sukirno Sadono. 2000. Teori Makro Ekonomi. Jakarta Raja Grafindo. Sukirno Sadono. 2006. Ekonomi Pembangunan. Jakarta Kencana Supriyono R.A. 2001. Akuntansi Biaya Perencanaan dan Pengendalian Biaya serta Pembuatan Keputusan. Yogyakarta Aditya Media. Tambunan T.H. Tulus. 2001. Perekonomian Indonesia Teori dan Temuan Empiris. Jakarta Ghalia Indonesia. Wirawan Ngurah Gede Dwiky dan I Gusti Bagus Indrajaya. 2019. Pengaruh Modal dan Tenaga Kerja Terhadap Produksi dan Pendapatan pada UKM Pie Susu di Denpasar. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana Vol.8 No. 2 Februari 2019. (Online) (http //ojs.unud.ac.id) diakses 11 November 2018 Wulandari Anak A. R. dan Ida Bagus D. 2017. Pengaruh Modal Tenaga Kerja dan Lama Usaha Terhadap Pendapatan Pengrajin Industri Kerajinan Anyaman di Desa Bona Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana Vol.6 No.4 April 2017 (Online) (http //ojs.unud.ac.id) diakses 11 November 2018 Yanutya Pukuh Ariga Tri. 2013. Analisis Pendapatan Petani Tebu di Kecamatan Jepon Kabupaten Blora (Online) (http //journal.unnes.ac.id) diakses 7 Agustus 2019.