UPT Perpustakaan UM

  • Beranda
  • Informasi
  • Repository UM
  • SIPADU UM
  • OPAC SIPADU

Pencarian Spesifik

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
No image available for this title

Skripsi

Nilai kearifan lokal dalam lirik lagu upacara perkawinan adat Batak Toba (prosesi pemberian ulos hela) / Juni Kristiani Tambunan

Tambunan, Juni Kristiani - Nama Orang;

Abstrak
NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM LIRIK LAGU UPACARA PERKAWINAN ADAT BATAK TOBA (Pada Prosesi Pemberian Ulos Hela) Value of Local Ceremony in Song Lyrics Ceremony of Batak Toba Culture On The Giving Procession Ulos Hela Juni Kristiani Tambunan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Jalan Semarang5 Malang65145 Telepon 08341-567475 551312 Pesawat235 Laman http //www.um.ac.id http //sastra.um.ac.id pos-el junipagaraji gmail.com ABSTRAK Deskripsi nilai kearifan lokal yang terdapat dalam lirik lagu perkawinan adat Batak Toba dijadikan tujuan dalam penelitian deskriftik kualitatif. Data berupa kumpulan lagu-lagu pesta pernikahan adat Batak Toba. Data dikumpulkan dengan cara observasi terhadap kumpulan lirik lagu dengan cara membaca intensif kumpulan lagu serta memahami dengan baik kumpulan lagu. Data dikumpulkan dengan cara melakukanobservasi dokumen yaitu kumpulan data verba yang tertulis. Analisis data dilakukan dengan cara mencatat data mengklasifikasi membuat pengodean mengidentifikasi. menganalisis data lalu menginterpretasi data lalu penarikan kesimpulan. Hasil mencakup tiga hal yaitu yang pertama deskripsi nilai kearifan lokal sebagai wujud hubungan dengan Tuhan kedua deskripsi nilai kearifan lokal sebagai wujud hubungan sosial dan yang ketiga deskripsi nilai kearifan lokal sebagai wujud individu Kata kunci kearifan lokal perkawinan Batak Toba ABSTRACT The description of local wisdom values contained in the lyrics of the Batak Toba traditional wedding song is used as a goal in qualitative descriptive research. Data in the form of a collection of traditional Batak Toba wedding party songs. Data is collected by observing a collection of song lyrics by reading an intensive collection of songs and understanding the collection of songs well. Data is collected by observing documents which is a collection of written verb data. Data analysis is done by recording data classifying coding identifying. analyze data then interpret the data and then draw conclusions. The results include three things namely the first description of the value of local wisdom as a form of relationship with God the second description of the value of local wisdom as a form of social relations and the third description of the value of local wisdom as an from individual. Keywords local wisdom marriage Toba Batak PENDAHULUAN Kearifan lokal terdiri dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) atau kebijaksanaan dan lokal (local) atau setempat. Jadi kearifan lokal adalah gagasan setempat yang bersifat bijaksana penuh kearifan bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Sibarani (2014 180) menyatakan bahwa kearifan lokal adalah kebijaksanaan dan pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Dalam hal ini kearifan lokal itu bukan hanya nilai budaya tetapi nilai budaya dapat dimanfaatkan untuk menata kehidupan masyarakat dalam mencapai peningkatan kesejahtraan dan pembentukan kedamaian. Menurut Sibarani dan Balitbangsos Depsos RI (Sibarani 2014 5) Kearifan lokal (lokal wisdom) dapat dipahami sebagai nilai-nilai budaya gagasan-gagasan tradisional dan pengetahuan setempat yang bersifat bijaksana penuh kearifan bernilai baik dan berbudi luhur yang dimiliki oleh anggota masyarakat dalam menata kehidupan sosial mereka . Kearifan lokal itu diperoleh dari tradisi budaya atau tradisi lisan karena kearifan lokal merupakan kandungan tradisi lisan atau tradisi budaya yang secara turun menurun diwariskan dan dimanfaatkan menata kehidupan sosial masyarakat dalam segala bidang kehidupannya. Sistem dan nilai budaya Dalihan Na Tolu dapat dikatakan sebagai satu kearifan lokal. Sebagai satu sistem nilai budaya Dalihan Na Tolu mempunyai aturan yaitu mengikat orang Batak Toba menjadi lebih bersifat emosiaonal dan tradisional. Ukuran penilaian yang digunakan yakni pola kedekatan hubungan keluarga atau kekerabatan (kinship). Dalam nilai budaya Dalihan Na Tolu penting tidaknya seseorang diikutsertakan dalam suatu aktivitas sangat tergantung pada kedekatan hubungan kekerabatan. Yang sangat dihargai adalah ikatan kekerabatan yang ditandai dengan (1) hubungan sosial bersifat pribadi (2) penilaian berdasarkan kedekatan hubungan kekerabatan (3) pelayanan atas dasar kedudukan dalam Dalihan Na Tolu. Ada dua penelitian sejenis yang ditemukan salah satunya dilakukan oleh Fitri Tambunan (2014) yang mengkaji tentang ekspresi nilai budaya dalam lirik lagu-lagu populer batak toba dengan penekanan pada hubungan anak dengan orangtua. Penelitian ini mendeskripsikan tentang hubungan anak dengan orangtua melalui ekspresi nilai budaya dalam lirik lagu. Hasil yang diperoleh penelitian ini menyebutkan lagu populer Batak Toba menjelaskan tentang hubungan anak dengan orangtua merupakan hubungan yang sangat erat berkaitan antara satu dengan yang lain memiliki ikatan emosi yang kuat antara anak dan orangtua hal ini mencakup kedalam nilai pendidikan nilai ekonomi nilai psikologis dan nilai religius. Berdasarkan fakta dan data yang telah dipaparkan pokok bahasan artikel ini ada tiga hal yakni nilai kearifan lokal sebagai wujud hubungan dengan Tuhan nilai kearifan lokal sebagai wujud hubungan sosial dan nilai kearifan lokal sebagai wujud individu. Harapan secara teoritis dapat memberikan informasi mengenai budaya Batak Toba dan secara praktis hasil penelitian ini sebagai tambahan eksistensi Budaya Batak Toba dan juga kepada masyarakat Batak Toba diharapkan tetap dapat menjaga adat dan budaya yang dimilikinya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriftif kualitatif berupa kumpulan lirik lagu yang biasa dinyanyikan pada pesta perkawinan adat Batak Toba. Instrument dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri (human instrument) yaitu peneliti yang mengumpulkan data menelaah dan membuat kesimpulan. Instrument dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri human instrument) memberikan kode sebagai pembantu peneliti untuk mempermudah mencari data dan memecahkan masalah yang ada. Tahapan yang dilakukan yaitu (1) observasi terhadap lirik-lirik lagu Batak (2) pengumpulan data berupa data verba (3) mencatat dan memberika kode dan (4) peneliti mengidentifikasi atau pengelompokan. Analisis data dilakukan melalui empat tahap yakni reduksi data penyajian data serta penyimpulan data (Suharsaputra 2018 217). Reduksi data merupakan prosesi memilih dan memilah data sesuai dengan kebutuhan fokus penelitian. Penyajian data ialah proses menyistematiskan data hasil reduksi secara utuh dan penyimpulan data ialah tahap akhir dengan memverifikasi dan menarik kesimpulan temuan data. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari dua belas lagu pernikahan Adat Batak Toba ditemukan 3 kategori nilai kearifan lokal meliputi nilai kearifan lokal sebagai wujud hubungan dengan Tuhan mencakup doa dan harapan nilai kearifan lokal sebagai wujud hubungan sosial mencakup nasihat kasih sayang kesetiaan. Nilai kearifan lokal sebagai wujud individu mencakup berkat tanggung jawab kehormtan. Uraian di atas seperti hal nya pendapat Sibarani (2014 180) menyatakan bahwa kearifan lokal adalah kebijaksanaan dan pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Dalam hal ini kearifan lokal itu bukan hanya nilai budaya tetapi nilai budaya dapat dimanfaatkan untuk menata kehidupan masyarakat dalam mencapai peningkatan kesejahtraan dan pembentukan kedamaian. Kearifan lokal itu diperoleh dari tradisi budaya atau tradisi lisan karena kearifan lokal merupakan kandungan tradisi lisan atau tradisi budaya yang secara turun menurun diwariskan dan dimanfaatkan menata kehidupan sosial masyarakat dalam segala bidang kehidupannya. Bagian ini membahas nilai-nilai kearifan lokal dalam kebudayaan adat Batak Toba yang terdapat dalam lirik lagu popular Batak Toba yang bertemakan pernikahan. Pembahasan inipun dibatasi hanya pada lagu popular yang jelas siapa penciptanya. Dalam uraian bab ini akan dibahas bahwa nilai adalah sesuatu yang abstrak sesuatu yang dibangun dan berada didalam pikiran tidak dapat diraba dan dilihat secara langsung dengan pancaindra. Nilai hanya dapat disimpulkan dan ditafsirkan dari ucapan perbuatan dan materi yang dibuat manusia. Berikut ini paparan secara lebih rinci. 1.Nilai Kearifan Lokal Sebagai Wujud Hubungan dengan Tuhan. Nilai kearifan lokal sebagai wujud hubungan dengan Tuhan merupakan salah satu tingkah laku atau perilaku manusia yang taat dan patuh kepada ajaran agamanya berdasarkan nilai-nilai ketuhanan mengajarkan kita keesaan Tuhan. Doa sendiri menurut agama Kristen adalah bersekutu dan membangun relasi dengan Tuhan doa merupakan permohonan harapan permintaan pujaan kepada Tuhan. Berdoa artinya adalah mengucapkan (memanjatkan) doa kepada Tuhan yang berarti doa adalah suatau permohonan yang ditujukan kepada Allah yang di dalamnya ada harapan permintaan dan pujian. Doa merupakan kebaktian yang mencakup segala sikap roh manusia dalam pendekatanya kepada Allah. Orang Kristen berbakti kepada Allah jika ia memuja mengakui dan memuji dan mengaajukan permohonan kepadaNya dalam doa. Doa sebagai perbuatan tertinggi yang dapat dilakukan oleh roh manusia dapat juga dipandang sebagai persekutuan dengan Allah selama penekananya diberikan kepada prakasa ilahi seseorang berdoa karena Allah telah menyentu roh nya. berikut ini pembahasan mengenai nilai kearifan lokal sebagai wujud hubungan dengan Tuhan. (Lg3/D) Tangiang hi ma boruku na mandongani ho di nadao Marsiamin-aminan marsianju-anjuan dainang dohot helaki. Ingotma padan na di uddukmi na dijolo ni pandita i tung naso jadi ho marsirang so sinirang ni hamatean ido hata ni Tuhan i hanya doakulah putriku yang menemanimu di kejauhan saling mengayomi dan saling pengertian engkau putriku dengan menantuku. Ingatlah janji yang telah kau ucapkan dihadapan pendeta tidak akan pernah berpisah kecuali berpisah karena kematian karena itulah perintah Tuhan Kutipan lirik lagu di atas menandakan nilai kearifan lokal lirik lagu sebagai wujud doa tangiang hi ma boruku na mandongani ho di nadao artinya hanya doaku lah putriku yang menemanimu di kejauhan lirik tersebut menggambarkan doa permohonan orang tua yang meminta perlindungan kepada Tuhan yang maha kuasa. Lagu ini sering dinyanyikan pada saat upacara pernikahan Adat Batak Toba. Nada suasana lagu ini dinyanyikan dengan perasaan sedih dan makna dalam lirik tersebut menggambarkan ekpresi seorang Ayah yang mencoba meyakinkan putrinya lewat lagu yang dinyanyikan bahwa doanya akan selalu menemani putrinya kemanapun pergi dan dimanapun berada. Dalam lagu ini seolah berpesan bahwa doa adalah senjata perlindungan dan sumber kekuatan seperti tertulis dalam Alkitab Demikian Tuhan adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak tempat perlindungan pada waktu kesesakan (Mazmur 9 10). Dalam kebudayaan adat Batak Toba seorang putri yang telah menikah akan mengikut suaminya kemanapun pergi entah itu merantau dan memulai sebuah rumah tangga di perantauan. Lagu ini biasanya dinyanyikan pada saat orang tua mempelai perempuan akan memberikan Ulos hela kepada kedua kedua mempelai. Memberikan ulos dalam upacara adat Batak Toba di sebut dengan istilah mangulosi (memberikan ulos). Mangulosi adalah hal yang penting dalam adat Batak Toba mangulosi artinya memberikan atau menyematkan ulos. Mangulosi bukan sekedar memberikan hadiah biasa namun mangulosi merupakan salah satu lambang pemberian restu curahan kasih sayang harapan dan kebaikan-kebaikan lainya. Menurut pemikiran leluhur orang Batak ulos merupakan salah satu dari ketiga unsur kehangatan. Ketiga sumber kehangatan itu yaitu matahari api dan ulos. Dari ketiga kehangatan tersebut ulos di anggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan matahari sebagai sumber kehangatan yang tidak bisa di peroleh pada malam hari sedangkan api dapat menjadi bencana jika lalai dalam menggunakanya (Harahap 1987 54). Ulos merupakan sejenis pakaian yang berbentuk selembar kain. Kain ini biasanya di tenun perempuan Batak dengan berbagai pola. Pada awalnya bagi orang Batak menenun ulos adalah suatu tindakan yang mengandung nilai religious-magis (Niessen 1985 dalam Gultom E 2012 27). Lagu ini merupakan lagu tradisi dalam kebudayaan adat istiadat Batak Toba lagu tradisi merupakan corak asli dari musik Batak secara melodis karena belum ada variasi-variasi dalam melodi yang dipengaruhi tradisi asing. Karena lagu-lagu pada masa tradisi ini lebih spesifik disebabkan oleh wilayah (Panggabean 1994 39). ( Lg5/D) Ditangiang hu ma boru hita mardomu hasian Ihutton non mu namai helaki sinadopan mi Horas maho uli nang nipimi Dihokkop tondimi di tumpak Tuhan i Hanya dalam doaku putriku kita bertemu sayang Kini engkau akan mengikuti lelaki yang telah menjadi menantuku Selamatlah putriku sayang indah semua langkahmu Semoga jiwa dan ragamu selalu dalam perlindungan Tuhan Kutipan lirik lagu kedua di atas mengungkapkan lagu sebagai wujud doa dalam larik pertama yaitu ditangiang hu ma boru hita mardomu hasian artinya adalah hanya di dalam doaku putriku kita bertemu sayang kalimat ini menggambarkan ungkapan hati orang tua kepada putrinya yang akan berpisah. Makna dalam lagu ini orangtua yang berusaha meyakinkan lewat lagunya bahwa di dalam doa mereka akan bertemu walaupun mereka sedang berjauhan. Dalam doa manusia selalu mengucapkan syukur atas berkat yang Tuhan berikan mencurahkan segala sesuatu kepada Tuhan misalnya orangtua mencurahkan isi hati dan mendoakan putrinya yang berada dikejauhan begitu juga dengan putrinya yang mendoakan orang tuanya. Maka mereka akan bertemu lewat doa dalam ayat Alkitab yang tertulis dalam Matius 18 19-20 Ada kuasa besar dalam doa bersama yang sepakat. Alasanya ialah bahwa bilamana ada dua atau tiga orang yang berkumpul didalam iman dan pengabdian kepada Kristus ia ada di tengah-tengah mereka. Kehadiranya akan memberi iman kekuatan pengarahan kasih karunia dan penghiburan . Kutipan baris ke tiga dan empat pada lagu di atas merupakan kata umpasa dalam kebudayaan adat Batak Toba. Umpasa adalah bentuk ekspresi pikiran dan perasaan orang Batak Toba yang selalu muncul dalam berbagai peristiwa kehidupan masyarakat meliputi peristiwa suka atau duka dan peristiwa besar atau kecil (Simbolon Apul dkk 1986 97). Umpasa merupakan salah satu ragam sastra lisan yang dimiliki masyarakat Batak Toba. Umpasa ini biasanya dituturkan dalam upacara adat Batak Toba dan biasanya dituturkan oleh penatua adat. Umpasa selalu berisi tentang kebaikan seperti doa restu nasihat dan permohonan yang di sampaikan kepada Tuhan. Umpasa yang dituturkan tersebut diharapkan dapat menjadi berkat bagi orang yang menerimanya. Lagu pada baris ketiga dan empat yang merupakan kutipan umpasa yaitu Horas maho uli nang nipimi Dihokkop tondimi di tumpak Tuhan I artinya adalah Selamatlah putriku sayang indah semua langkahmu dan semoga jiwa dan ragamu selalu dalam perlindungan Tuhan. Kutipan pada lirik ini merupakan doa yang mempunyai makna harapan-harapan yang indah yaitu harapan orang tua agar kelak kemanapun melangkah semoga mendapatkan apa yang dicari dan apapun yang dikerjakan mendapatkan buah yang baik. 2.Nilai Kearifan Lokal Sebagai Wujud Hubungan Sosial Hubungan sosial merupakan yang berkaitan dengan interaksi sosial dimasyarakat umum. Hubungan sosial merupakan hubungan timbal balik dalam masyarakat yang bersifat dinamis tentunya hubungan dalam masyarakat melalui proses interaksi interaksi terjadi melalui dua hal yakni kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk yakni individu antar individu dengan kelompok dan antar kelompok. Sedangkan komunikasi yaitu seseorang yang memberi arti pada perilaku oranglain. Hubungan atau interaksi biasanya disebut sebagai relasi sosial. Relasi sosial merupakan hasil rangkaian interaksi (rangkaian tingkah laku) antara dua orang atau lebih (Soekanto 2007 57). Pada bagian ini akan dibahas tentang nilai kearifan lokal sebagai wujud hubungan sosial. Hubungan sosial mencakup nilai kesetiaan nasihat dan kasih sayang. (Lg3/Kst) Ingot ma Padan nan i undukumi Na di jolo ni pandita i Tung naso jadi ho marsirang So sinirang ni hamatean i Ido hata ni Tuhan i Ingatlah janji yang telah kau ucapkan Di hadapan Pendeta Tidak akan pernah berpisah Jika bukan karena kematian Kutipan lirik lagu di atas mengekspresikan orangtua yang berpesan kepada putrinya agar mengingat semua janji yang telah diucapkan dihadapan para jemaat gereja dan dihadapan Pendeta yaitu saling setia dan tidak akan pernah ada kata berpisah kecuali karna kematian. Karena dalam adat dan kebudayaan orang Batak menikah dan mengucap janji suci merupakan ucapacara yang sangat sakral. Begitu juga dalam agama yang di anut masyarakat Batak yang kebanyakan menganut agama Kristen dalam ajaran agama Kristen diseumur hidupnya hanya ada sekali pernikahan. Lirik lagu tersebut juga menggambarkan sikap setia kepada pasangan setia berarti saling menyanyangi dan saling mengasihi pasangan dalam keadaan apapun serta taat dan patuh akan janji ikatan pernikahan. Pada kutipan baik lagu di atas terkandung makna Sepasang suami istri yang telah diberkati dan mengucap janji setia di altar gereja harus memegang teguh janji pernikahan seperti tertulis dalam isi Alkitab Matius 19 16 demikian mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia . Itulah sebabnya perkawinan sangat sakral bagi masyarakat Batak Toba. (Lg 10/Kst) Songon ni umpasa dohonon nami Hunik sahadang-hadangan Mangakkat ma hamu rap tu ginjang Manimbung rap tu toru Tongtong satahi saoloan Seperti pantun yang akan kami katakan Kunyit satu tas Melangkah lah kalian bersama ke atas Meloncat bersama ke bawah Tetap sepemikiran dan satu kemauan Kutipan di atas merupakan pantun nasihat bagi orang Batak makna dari kutipan pantun nasihat tersebut adalah saling setia menemani pasangan dalam keadaan susah maupun senang. Melangkah ke atas dan meloncat bersama kebawah menggambarkan dalan kehidupan rumah tangga ada kalanya hidup di rundung masalah dan persoalan-persoalan kehidupan kalimat ini maksudnya agar tetap tegar dan kuat bersama-sama menghadapi jalan kehidupan. Sikap harus bersama-sama menghadapi kehidupan dalam kondisi dan situasi apapun. Kutipan lagu ini merupakan salah satu umpasa masyarakat Batak Toba seperti yang sudah dipaparkan tentang umpasa orang Batak yang terletak pada lg2/D dan Lg8/D. Yang dimaksud dengan umpasa adalah rangkaian kata-kata kiasan yang diikuti kata tujuan kalimat yang bermaksud menasehati memperingatkan mengarahkan dan membimbing seseorang atau menerima berkat. Umpasa mengandung gagasan ide bahkan tujuan yang tersirat didalamnya. Dengan kata lain umpasa merupakan ungkapan kebahasaan yang menuntun manusia pada pemahaman realitas kehidupan melalui perlambangan atau kiasan (Pardede 2012 12). Jadi dalam konteks adat Batak Toba lagu ini menggambarkan orang tua yang menasihat mengarahkan putrinya yang hendak akan membina rumahtanga agar sehati sepemikiran dengan suaminya apapun kelak yang akan terjadi dalam perjalanan bahterah rumah tangga mereka. (Lg 5/Nsht) Sai hot maho di hatuon mi Tadingkon haposoon mi tua pangalahom Malo-malo maho boru marsiadopan Marsianjuan ma hamu marsada roha Menetaplah engkau di kedewasaanmu Tinggalkan semua masa lalumu dewasa dalam bersikap Pintarlah engkau putriku dan turut akan perintah suamimu Saling pengertian dan selalu satu hati Kutipan lirik lagu diatas merupakan nilai kearifan lokal wujud sosial tentang nasehat seperti biasanya lagu ini merupakan salah satu lagu dari sekian banyak lagu yang dinyanyikan orang tua mempelai perempuan pada saat akan memberikan ulos. Di dalam menasehati berisi beragam makna diantaranya adalah cinta dan kesabaran menasehati anak berarti orang tua mencintai anaknya. Orang tua menasehati agar anaknya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Nasehat yang diberikan merupakan suatu didikan dengan maksud menegur dan membangun sifat anak ke arah yang lebih baik. Orang tua Batak Toba sebagai pengajar pertama dan utama penerus tradisi bagi anak-anaknya. Poda atau nasihat dalam lagu ini disampaikan orang tua sebagai petuah kepada putrinya yang akan membangun rumah tangga. Pesan dan nasehatnya agar senantiasa berperilaku baik bijaksan taat kepada suaminya saling pengertian dan saling menyanyangi satu sama lain. Orang tua juga berpesan agar mereka hidup rukun agar mereka sebagai orang tua tenang dan tidak bimbang walaupun berada dikejauhan. (Lg 3/Nsht) Burju maho boruku pature siadopan mi Sai unang lupa ho inang manuhuk simatua mi Asa tadda boru ni raja ho Tubu ma laklak na sikkoru da di dolok ni Purba tua Tubuan anak dohot boru jala saur matua Bijaksanalah engkau membangun bahterah rumah tangga Jangan lupa bersikap baik kepada mertuamu putriku Agar engkau layak disebut putri raja Tumbulah kulit tumbul enjelai di bukit Purba Tua Lahirlah anak laki-laki dan perempuan Panjang umur sampai menua Kutipan lirik lagu di atas merupakan nilai kearifan lokal hubungan sosial yaitu wujud nasihat kutipan lirik tersebut menggambarkan nasihat orang tua kepada putrinya yang telah menikah orang tua berpesan agar sebagai seorang istri putrinya harus bijaksana bersikap baik dan hormat kepada mertua maksudnya adalah harus mengganggap mertua seperti orangtuanya sendiri. Lirik pada baris pertama menggambarkan nasihat agar seorang perempuan yang sudah menikah bijaksana membangun sebuah rumah tangga dan bersikap baik kepada suami. Lirik baris kedua merupakan nasihat mengungkapkan seorang perempuan harus bersikap sopan kepada mertuanya agar layak disebut putri seorang raja. Maksud dari uungkapan agar engkau layak disebut putri seorang raja merupakan bagian dari 3 ideologi orang Batak yaitu hasangapon (terhormat). Konteks kutipan lagu ini bila seorang perempuan Batak yang sudah dilepas orangtua dan menikah. Perempuan harus menunjukkan perilaku yang baik di hadapan masyarakat dan juga di hadapan mertua serta keluarga barunya. Dan jika hal itu terwujud maka orang tua berhasil mendidik anak perempuan mereka dengan baik dan dengan hal itu juga orang tua dari perempuan akan dipandang terhormat oleh pihak keluarga pria karena putrinya berperilaku baik dan dianggap selama ini mendapat ajaran yang baik di keluarganya. (Lg 8/Ks.syg) Helakku borukku Jalo ma tadda holongki Ulos hela on dohot mandar I hasian Menatuku dan juga putriku Terimalah ini sebagai tanda sayangku Ulos hela dan sarung tanda sayangku kepadamu Kutipan lirik lagu di atas menggambarkan sebelum memberikan ulos (menyematkan ulos) kepada kedua mempelai orang tua dengan tulus dan iklash mengatakan lewat lagu yang dinyanyikan bahwa kain ulos yang akan diberikan tersebut merupakan tanda kasih sayang orang tua kepada putri dan menantunya. Lagu ini dinyanyikan dengan perasaan haru syahdu dan sedih. Suasana saat menyanyikan lagu ini menggambarkan bahwa orang tua dengan iklash walaupun berat melepaskan putrinya menikah dan membina rumah tangga dengan lelaki pilihanya. Dalam pesta perkawinan adat Batak Toba sendiri ulos adalah symbol kasih sayang keturunan dan penyejuk untuk kedua mempelai dalam membangun keluarga baru. Mangulosi adalah salah satu hal yang penting dalam adat Batak Toba. Mangulosi artinya memberi ulos. Mangulosi bukan sekedar pemberian hadiah biasa namun mangulosi dapat melambangkan pemberian restu curahan kasih sayang harapan dan kebaikan-kebaikan lainnya. Dalam pengertian adat Batak sendiri mangulosi (memberikan ulos) tidak hanya lambang memberikan kehangatan namun juga melambangkan kasih sayang dan berkat melalui doa (umpasa) kepada sipenerima ulos (Simorangkir 2006). Jadi makna lirik lagu dalam kutipan diatas merupakan tanda kasih sayang orang tua kepada putrinya dan menantunya. Dan ulos sebagai tanda kasih sayang restu dari orang tua dan kehangatan kepada kedua mempelai pengantin yang akan membangun rumahtangga 3.Nilai Kearifan Lokal Sebagai Wujud Individu Nilai kearifan lokal sebagai wujud individu merupakan merupakan salah satu sikap atau tingkah laku seseorang. Setiap manusia mempunyai nilai sesuai dengan keyakinan atau pilihanya. Atas dasar nilai manusia bertingkah laku dan berbuat. Nilai mempunyai sifat bertahan terbentuknya nilai dalam individu proses dan lamanya sama dengan terbentuknya pribadi sama pula dengan terbentuknya sikap (Kluckhon 1962). Pada pembahasan ini akan dibahas nilai kearifan lokal sebagai wujud individu. Nilai sebagai wujud individu mempunyai bagian yaitu nilai berkat Tanggung jawab kehormatan dan haru. Berikut ini pembahasan tentang wujud nilai individu. (Lg 5/Brkt) Tinggal hon non mu ma boru hami natua-tuamon Ai nunga ro be rokkap mi Na tinodo ni rohami Borhat maho tiur nang lakkami Manang didia pe marhuta ho muse Kini engkau akan meninggalkan kami orang tuamu Kini sudah datang jodohmu Yang telah dipilih hatimu Berangkatlah sukses selalu langkahmu Dimanapun kelak kampung mu berada Kutipan lagu di atas menandakan nilai kearifan lokal sebagai wujud berkat dalam konteks lagu ini menceritakan orang tua yang telah iklash merelakan putrinya pergi bersama dengan lelaki yang telah menjadi suaminya. Pada kutipan lirik baris keempat yaitu berangkatlah putriku sukses selalu langkah mu kalimat merupakan sebagai wujud berkat. Lagu ini dinyanyikan dengan perasaan sedih menggambarkan orang tu lewat lagu yang dinyanyikan berharap semoga sukses dan sehat selalu dimanapun kelak putri dan menantunya membangun rumah tangga. (Lg 6/Brkt) Nungga dua gabe sada Hamu boru tu helaki Tung burju-burju hamu mar natua-tua i Borhat maho boru Borhat maho boru raphon tangiang ki Dua menjadi satu Engkau putriku dengan menantuku Kiranya bersikap baik lah kalian berdua tehadap orang tua Berangkatlah putriku Berangkatlah putriku bersama dengan doaku Kutipan lirik lagu diatas merupakan nilai kearifan lokal sebagai wujud berkat yang kedua. Lagu ini merupakan salah satu lagu yang biasa dibawakan pada saat acara upacara pernikahan adat Batak Toba saat sebelum prosesi pemberian ulos hela. Pada lirik lagu di atas mengungkapkan agar seorang putri yang sudah menikah berperilaku baik. Lagu ini menggambarkan berkat yang disampaikan orang tua kepada putrinya. Orang tua menyampaikan berkat bagi putrinya lewat lagunya dengan ekspresi yang sedih dan suasana haru. Berangkatlah putriku bersama dengan doaku lirik ini menceritakan orang tua iklash dan merestui putrinya menikah dan meninggalkanya. (Lg 10/Brkt) Sirippur ni pangkat ma tu sirippur ni hotang Tudiape hamu mangalakka Disima dapotan parsaulian Di hamu amang hela nang di boruku Manang ahape muse namasa di ngolumuna Sada hamu sada hamu Songon daion mual Kemanapun kalian melangkah Disitulah mendapatkan kebaikan Kepadamu menantuku dan juga putriku Apapun yang terjadi di dala kehidupan kalian kelak Satulah kalian satu lah kalian Bagaikan sumber mata air Kutipan lirik lagu diatas merupakan kutipan lirik lagu sebagai wujud berkat. Kutipan ini merupakan umpasa bagi orang Batak umpasa itu sendiri yang mempunyai makna doa harapan dan berkat bagi orang yang menerimanya. Mengenai umpasa sendiri sudah dibahas pada pembahasan Lg4/D Lg2/Hrp dan Lg5/Hrp. Umpasa yang dituturkan orangtua kepada keturunanya tersebut diharapkan dapat menjadi berkat bagi orang yang menerimanya. Dalam konteks lagu ini pengarang menciptakan lagu dari kutipan umpasa. Ketika lagu ini dinyanyikan orangtua pada saat prosesi pemberian ulos hela akan menjadi berkat bagi yang menerimanya yaitu putri dan menantunya. Arti umpasa yang disampaikan lewat lagu yang dinyanyikan diatas adalah semoga putrid an menantunya mendapatkan kebaikan entah itu rejeki maupun dalam bermasyarakat. (Lg 11/Brkt) ulos parhorasan doon amang ulos pasu-pasu doon inang ulos siboan anak dihamu ulos si boan boru ulos di na ngali ulos di na lambok di tikki las ni ari jaloma helaku las ma roham inang boru marhite ulos on sai jaloon mu do pasu-pasu ni Tuhan i jaloma helaku na burju ulos si Torop krambu on torop pinompar mu gabe nan i ulamu tiur nang pangomoan mu. Ulos keselamatan ini menantuku Ulos sebagai tanda berkat putriku Ulos yang mendatangkan anak laki-laki dan perempuan Ulos diwaktu dingin ulos diwaktu panas Sewaktu terik matahari Terimalah menantuku bersenanghatilah putriku Putriku semoga dengan ulos ini engkau akan menerima berkat dari Tuhan. Terimalah menantuku Ulos yang berambu banyak Banyak keturunanmu dan diberkati pekerjaan tanganmu Dan lancar rejekimu Kutipan lirik lagu diatas merupakan lagu yang dinyanyikan sebelum memberikan ulos. Kutipan lagu diatas mempunyai makna sebagai berkat bagi yang menerimanya. Kutipan lirik lagu di atas menceritakan ulos yang akan diberikan atau (disematkan) orang tua kepada kedua pengantin mempunyai simbol dan makna tersendiri. Menggambarkan orang tua menyampaikan lewat lagunya bahwa ulos sebagai tanda berkat. Berkat yang akan mendatangkan anak laki-laki dan anak perempuan. Ulos yang akan dipakai sewaktu dingin atau sewaktu panas di terik matahari. Makna lagu ini menyampaikan semoga dengan diberikanya ulos itu kepada kedua pengantin mereka akan menerima berkat dari Tuhan. Orang tua juga berharap dengan pemberian ulos tersebut putri dan menantunya akan memperoleh banyak keturunan dan diberkati pekerjaan tangan dan lancar rejeki. Karena dalam adat budaya Batak mangulosi tau memberikan ulos merupakan hal yang penting. Mangulosi bukan sekedar pemberian hadiah namun mangulosi melambangkan pesan restu orangtua curahan kasih sayang harapan dan kebaikan-kebaikan lainnya. Menurut pemikiran leluhur Batak Toba ulos merupakan salah satu bagian dari tiga unsur sumber kehangatan. Ketiga sumber kehangatan itu yaitu matahari api dan ulos. Dari ketiga kehangatan tersebut ulos dianggap yang paling nyaman dan akbrab dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan matahari merupakan sumber kehangatan yang tidak bisa diperoleh dimalam hari sedangkan api dapat menjadi bencana jika lalai dalam menggunakanya (Harahap 1987 53). SIMPULAN Simpulan penelitian ini ada dua hal yang pertama yaitu Bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam lagu-lagu upacara perkawinan adat Batak Toba yaitu lagu yang dinyanyikan pada saat prosesi pemberian ulos hela merupakan nilai-nilai yang sangat bermanfaat karena nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan maupun adat masyarakat Batak Toba. Yang kedua Tradisi mangulosi merupakan salah satu hal yang penting dalam adat Batak Toba. Umpasa sendiri adalah salah satu ragam sastra lisan yang dimiliki masyarakat Batak Toba biasanya dituturkan di upacara adat Batak Toba dan dituturkan oleh penatua adat. Umpasa yang dituturkan berisi tentang kebaikan seperti doa restu nasihat dan permohonan yang disampaikan kepada Tuhan.Upacara adat Batak Toba akan lebih bermakna apabila Umpasa (pantun) dituturkan karena umpasa tersebut merupakan berkat bagi orang yang menerimanya. SARAN Berdasarkan hasil penelitian ini penulis menyarankan supaya melakukan kajian-kajian lebih mendalam tentang permasalahan yang relevan yang berkaitan dengan adat budaya Batak Toba secara umum maupun secara khusus. Karena setiap periode dalam konteks budaya selalu muncul fenomena baru dalam setiap aspek kehidupan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Harahap B.H dan H.M. Siahaan 1987. Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak. Jakarta Sanggar Willem Iskandar. Sibarani Robert.2014. Kearifan Lokal Gotong Royong Pada Upacara Adat Etnik Batak Toba. Medan Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara Simorangkir OP. 2006. Berhala Adat Istiadat Dan Agama Kajian Batak Kristen. Jakarta Yayasan Lobu Harambir Suharsaputra Uhar. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan Tindakan. Bandung PT. Refika Aditama. Simbolon dkk. 1986. Peranan Umpasa dalam masyarakat Batak Toba. Jakarta Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Siswanto Wahyudi. 2013. Pengantar Teori Sastra. Malang Aditya Media Publishing.


Informasi Detail
DDC
Rs 782.42162 TAM n
Prodi
Universitas Negeri Malang. Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, 2019.
Deskripsi Fisik
xii, 106 lembar: ill., tab.; 30 cm
Bahasa
Indonesia
No Reg
06058/KI/19
Edisi
Skripsi (Sarjana)--Universitas Negeri Malang. 2019
Subjek
1. LAGU DAERAH - NILAI KEARIFAN LOKAL
2. BAHASA INDONESIA - PEMBELAJARAN
3. FOLK SONGS - LOCAL WISDOM VALUES

Pembimbing
1. Taufik Dermawan
Lampiran Berkas
You must be logged in to get fulltext


UPT Perpustakaan UM
  • Berita

Tentang Kami

TIM IT Perpustakaan 2023

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS

Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik