Skripsi
Taboo words used by the characters in chef: a sociolinguistic approach / Mochammad Imam Pandubimantoro
Abstrak
RINGKASAN Pandubimantoro Mochammad Imam. 2019. Kata Tabu yang Digunakan oleh Karakter di Chef Sebuah Pendekatan Sosiolinguistik. Skripsi Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Aulia Apriana S.S. M.Pd. (2) Prof. Drs. Bambang Yudi Cahyono M.Pd M.A. Ph.D. Kata kunci kata tabu tipe-tipe kata tabu fungsi kata tabu chef Kata tabu adalah kata yang sering digunakan oleh banyak orang di sekitar mereka. Kata tabu sendiri tidak bisa digunakan dalam berkomunikasi karena kata sendiri membuat efek terkejut terhadap pendengar. Oleh karena itu peneliti meneliti kata tabu berdasarkan tipe dan fungsinya di film Chef. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dari penelitian ini diambil dari sebuah naskah sebuah film berjudul Chef. Film ini diproduksi pada tahun 2014 dan merupakan film Amerika Serikat yang bergenre komedi. Peneliti menggunakan tiga metode dalam menganalisa data (1) mengumpulkan data dari naskah film (2) menganalisa percakapan dari naskah film dan (3) menjelaskan percakapan yang terindikasi mengandung kata tabu. Dalam tugas ini peneliti menganalisa percakapan dari karakter film. Data dari penelitian ini menggunakan sebuah pendekatan sosiolinguistik. Penelitian ini memperoleh tipe kata tabu sebanyak 114 data. Dari data tersebut mayoritas percakapan dalam naskah film tersebut termasuk tipe obscenity dengan data sebanyak 74 data (65%). Tipe ini berkaitan dengan perilaku seksual. Data kedua adalah vulgarity dengan data sebanyak 29 data (25%). Tipe ini sama dengan obscenity tapi yang membedakan terletak dari segi fungsi seksual dan anatominya. Tipe ketiga adalah profanity dengan data sebanyak 10 data (9%). Tipe ini berkaitan dengan kepercayaan terhadap agama. Dan yang terakhir adalah epithet dengan data sebanyak 1 data (1%). Tipe ini berkaitan dengan perilaku seksual suku bangsa dan kesetaraan gender. Untuk fungsi kata tabu peneliti memperoleh 108 data. Untuk memprovokasi sebanyak 11 data (10%) untuk mengejek orang lain sebanyak 23 data (21%) untuk menarik perhatian diri sendiri sebanyak 60 data (56%) dan untuk menggambarkan suasana sebanyak 14 data (13%). Studi tentang kata tabu ini bisa dijadikan referensi untuk menambah ilmu pengetahuan khususnya mengenai ilmu linguistik. Peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya agar menambahkan metode seperti tanggapan orang atas kalimat tabu yang digunakan di kehidupan sehari-hari karena topik ini sangat menarik untuk dipelajari.