Skripsi
Hubungan faktor-faktor health belief model dengan intensitas berolahraga pada anggota pusat kebugaran usia 20-40 tahun di \"H\" Fitness Center Kota Malang / Amelia Setiyorini
Abstrak
RINGKASAN Setiyorini Amelia. 2019. Hubungan Faktor-Faktor Health Belief Model Dengan Intensitas Berolahraga Anggota Pusat Kebugaran Usia 20-40 Tahun di H Fitness Center Kota Malang. Skripsi Jurusan Psikologi. Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing Farah Farida Tantiani S.Psi M.Psi. Kata Kunci intensitas berolahraga health belief model pusat kebugaran Individu yang peduli dengan kesehatannya akan melakukan olahraga dengan teratur. Keteraturan dalam olahraga dapat dilihat dari intensitas individu dalam melakukan olahraga. Intensitas berolahraga merupakan kegiatan yang dilakukan individu atau suatu bentuk usaha tertentu untuk berolahraga. Intensitas berolahraga dapat dilihat dari frekuensi dan durasi latihan itu sendiri. Tindakan berolahraga yang dilakukan oleh individu tentu didasari oleh beberapa hal salah satunya dengan suatu model kepercayan kesehatan atau yang disebut health belief model. Health belief model ini terdiri dari faktor-faktor yaitu perceived seriousness perceived susceptibility cues to action perceived benefits dan perceived barriers. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas berolahraga anggota pusat kebugaran H fitness center dengan faktor-faktor health belief model. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan studi korelasional. Responden pada penelitian ini merupakan anggota pusat kebugaran dengan rentang usia 20-40 tahun sebanyak 56 orang. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan alat ukur berupa skala health belief model dengan reliabilitas (a) perceived seriousness sebesar 0 750 (b) perceived susceptibility sebesar 0 932 (c) cues to action sebesar 0 739 (d) perceived benefits sebesar 0 869 (e) perceived barriers sebesar 0 952 dan kuesioner intensitas berolahraga dengan reliabilitas sebesar 0 981. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan teknik analisis Product Moment Pearson yang menghasilkan koefisien korelasi sebagai berikut (a) perceived seriousness 0 522 (b) perceived susceptibility 0 524 (c) cues to action 0 504 (d) perceived benefits 0 556 (e) perceived barriers 0 141. Dengan demikian diketahui bahwa terdapat satu faktor health belief model yaitu perceived benefits yang paling behubungan atau mendasari seseorang memiliki intensitas berolahraga yang efektif. Sebaliknya perceived barriers merupakan faktor health belief model yang tidak berhubungan dengan intensitas berolahraga. Oleh karena itu diharapkan pengelola pusat kebugaran agar dapat mensosialisasikan lebih lanjut tentang manfaat-manfaat berolahraga kepada anggota pusat kebugaran.