Skripsi
Hubungan tingkat stres dan aktivitas fisik pada siswi kelas XI dengan amenore sekunder di SMA Negeri Kecamatan Nganjuk Kabupaten Nganjuk / Megathalia Aditya Dwikhy
Abstrak
RINGKASAN Dwikhy Megathalia A. 2019. Hubungan Tingkat Stres dan Aktivitas Fisik Pada Siswi Kelas XI Dengan Amenore Sekunder di SMA Negeri Kecamatan Nganjuk Kabupaten Nganjuk. Skripsi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) dr. Hartati Eko Wardani M.Si.Med. (II) dr. Anindya Hapsari M.Kes. Kata Kunci tingkat stres aktivitas fisik amenore sekunder. Amenore sekunder adalah keadaan dimana perempuan yang sudah pernah mengalami haid tiba-tiba berhenti haid selama minimal tiga bulan berturut-turut. Penyebab amenore sekunder diantaranya adalah olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan dan tingkat stres yang tinggi. Sekolah Menengah Atas Negeri di Nganjuk menerapkan kurikulum 2013 dimana hari efektif sekolah yaitu hari Senin sampai dengan hari Jum at dengan jam efektif setiap hari adalah 8 jam 45 menit. Keadaan ini dapat memicu stres pada siswa serta meningkatkan tingkat aktivitas siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan amenore sekunder pada siswi kelas XI SMA Negeri di Kecamatan Nganjuk dan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan amenore sekunder pada siswi kelas XI SMA Negeri di Kecamatan Nganjuk. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat stres dan aktivitas fisik sedangkan untuk variabel terikat pada penelitian ini yaitu amenore sekunder. Populasi dan sampel penelitian ini adalah 678 siswi dengan hasil sebanyak 35 orang mengalami amenore sekunder dan dijadikan sebagai kelompok kasus. Kemudian dilakukan matching pada 35 orang yang tidak mengalami amenore sekunder sebagai kelompok kontrol. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil uji Wilcoxon pada variabel tingkat stres didapatkan nilai p value yaitu 0 007 jika dibandingkan dengan 945 0 05 maka nilai p value lebih kecil dari 945 0 05 sehingga (H0) ditolak. Pada variabel aktivitas fisik nilai p value yaitu 0 100 jika dibandingkan dengan 945 0 05 maka nilai p value lebih besar dari 945 0 05 sehingga (H0) diterima. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat stres dengan amenore sekunder pada siswi kelas XI di SMA Negeri Kecamatan Nganjuk dan tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan amenore sekunder pada siswi kelas XI di SMA Negeri Kecamatan Nganjuk peneliti memberikan saran kepada siswi SMA lebih memperhatikan kesehatan reproduksi sehingga tidak mengalani stres dan aktivitas fisik yang berat yang akan menyebabkan amenore sekunder. Selain itu bapak ibu guru memberikan informasi wawasan dan konseling pada siswi mengenai kesehatan reproduksi.